Keamanan komputer puskesmas

Membaca blog teman-teman dari Aceh, tentang puskesmas yang pernah kehilangan komputer, saya jadi teringat beberapa peristiwa yang juga di alami oleh pengguna Simpus saya. Beberapa puskesmas juga pernah mengalami betapa menjengkelkannya kedatangan abang maling yang sangat tidak diundang itu. Bahkan pernah ada satu kejadian di satu daerah, ketika ada pengadaan komputer baru untuk puskesmas, komputer yang baru datang dalam hitungan jam bahkan hari sudah lenyap berpindah tangan. Dan di daerah itu dalam waktu hanya sekitar 2 minggu, 5 puskesmas sudah kehilangan komputer.. edan benerrrr…

Mungkin kita bisa maklumi kalau maling ngincer puskesmas, barangkali dia belum pernah ikut pelatihan Simpus sehingga tidak merasakan perlunya komputer untuk entry data maupun mengolah data. Yang jelas kejadian semacam itu memang benar-benar harus dihindari, dicegah dan ditangkal sedini mungkin.

Beberapa kondisi yang mendukung abang maling ini ngincer komputer :

– puskesmas ada yang terletak terpisah dari pemukiman penduduk

– ada puskesmas yang tidak mempunyai penjaga malam

– komputer yang berada di loket, tentu saja sangat kasat mata terlihat oleh mas maling yang mungkin pernah berobat ke puskesmas

– puskesmas over confidence (tulisannya gimana sih ?) dengan keamanan puskesmas, misal nya dekat dengan kantor polisi atau koramil. percaya apa tidak pernah ada puskesmas di samping kantor bapak-bapak pengawas keamanan itu bisa kehilangan komputer 🙂

– pengamanan di puskesmas secara fisik memang belum memadai

masih banyak faktor lain yang bisa disebutkan disini.

Tentunya sekarang tugas dari puskesmas bagaimana supaya kejadian itu bisa dihindarkan. Bagi anda yang bertugas di puskesmas, mungkin beberapa tips berikut ini, hasil belajar juga dari kunjungan ke puskesmas, bisa dijalankan dan dipraktekkan di puskesmas anda.

– Untuk puskesmas yang belum online pelayanannya, sediakan saja satu ruangan khusus komputer, kemudian lengkapi dengan jeruji besi atau teralis di setiap lobang masuk. kalau perlu, buat rangkap pintu dengan pintu teralis besi untuk pintu masuknya.

Ruangan komputer di Puskesmas Giritontro, Wonogiri, Jawa Tengah

Ruangan komputer di Puskesmas Giritontro, Wonogiri, Jawa Tengah

5 komputer di Puskesmas Kunduran, Blora.
5 komputer di Puskesmas Kunduran, Blora.

– apabila diperlukan komputer di loket, dan loket berada di tempat terbuka, berilah roda pada meja komputer. Setiap kali selesai pelayanan, masukkan komputer ke ruang yang lebih aman.

Meja komputer dengan roda. Setelah pendaftaran selesai masuk ke ruang terkunci..

Meja komputer dengan roda. Setelah pendaftaran selesai masuk ke ruang terkunci..

– kalau memang merepotkan memindah-mindah komputer dari loket, amankan loket anda. Salah satu contoh yang saya temui ada di Puskesmas Sekungkang, Kabupaten Sumbawa Barat.

Ruangan loket di Puskesmas Sekungkang, Kab. Sumbawa Barat.

– bila pingin benar-benar merasa aman, tidak ada salahnya membuat kurungan komputer. Saya sudah menemukan aplikasi handal ini di beberapa puskesmas dan dinas kesehatan.

Pencegahan maksimal komputer puskesmas..

Pencegahan maksimal komputer puskesmas..

– yang ini tidak disarankan, agak repot, tapi pernah ada yang melakukan. Ikat komputer ada dengan rantai besar mengelilingi CPU kemudian kasih gembog 🙂 hehe… sayang saya dulu tidak sempat memfoto cara yang pernah saya temukan di satu puskesmas di wilayah DIY ini.

Mungkin ada usul lain ?

Iklan

Menengok Grobogan

Minggu lalu, sekitar dua hari, 15-16 Oktober 08, setelah sekian lama istirahat lebaran dan menikmati kue-kue yang tersisa, saya mulai lagi kegiatan rutin, keliling puskesmas. Kegiatan paling mengasyikkan, melelahkan, dan pasti selalu menemukan hal yang baru dari setiap kunjungan. Mengunjungi puskemas yang meng implementasikan Simpus (nya Jojok) sudah menjadi kegiatan rutin dari tahun 2001, Dibungkus kegiatan touring bermotor dan jalan-jalan, hal ini bukan lagi menjadi beban, malah menjadi hal yang paling menyenangkan.

Tujuan perjalanan kali ini ke Kabupaten Grobogan, salah satu kabupaten disebelah timur Semarang. Grobogan termasuk Dinas Kesehatan yang baru saja mulai memperkenalkan dan mengimplementasikan Simpus secara bertahap di seluruh puskesmas. Bisa dibilang saat ini masih banyak puskesmas yang masih meraba-raba dalam mencari cara pelaksanaan Simpus yang paling pas dengan kondisi yang ada.

Berangkat jam 05.10, tour dimulai dengan mengambil jalur melewati Klaten-Solo-Sragen-Kuwu, kemudian ke arah Cepu. Tujuan perjalanan kali ini memang dimulai dari Puskesmas Gabus I. Pkm Gabus I termasuk dalam wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan. Perjalanan lancar, lumayan beberapa kali motor bisa nyampai 110-115 km/jam.. maklum hari masih pagi, sepi, belum banyak anak sekolah berangkat. Kebetulan juga motor habis di servis, lengkap sudah kenikmatan touringnya .. sebelum sampai Solo rata-rata kecepatan bisa di atas 90-100 km/jam. gak terasa ngebut maklum motor ‘agak’ gede, Yamaha Scorpio 225 cc hehe…yang lain makin jauhhhhh ketinggalan…

Jam 8 kurang saya sudah di puskesmas Kradenan II. KM di tachometer sudah menunjukkan 132 km. Saya biasa mampir ke puskesmas meskipun tidak diundang atau tidak memberi kabar terlebih dahulu. sayang rasanya kalau lewat puskesmas yang memakai software Simpus kok tidak nengok atau ambil data untuk di analisa. Petugas yang datang baru beberapa orang, masih sepi. Seperti biasa setelah permisi, saya langsung minta ijin nengok komputer Simpus.. dan yang saya temui ? “Simpus belum jalan mas, komputernya tidak cukup”. Hehe… ketika saya melihat komputer, memang komputer di puskesmas itu baru satu, agak tua, itu saja di meja sebelahnya sudah numpuk bahan-bahan yang mau di ketik. Entry data simpus pasti berebut waktu dengan pekerjaan administrasi lainnya. Memang itu salah satu kendala yang biasa saya temui di puskesmas, salah satu masalah yang mengganjal adalah kekurangan komputer. Akhirnya saya hanya ngobrol-ngobrol dengan ibu (saya sampai lupa nanya nama beliau) itu…masalah-masalah yang cukup klasik terjadi di puskesmas.

Puskesmas Kradenan II, di pinggir jalan Kuwu-Randublatung

Puskesmas Kradenan II, di pinggir jalan Kuwu-Randublatung

Dalam hati saya berfikit, satu saat harus kembali lagi ke Kradenan untuk menengok lagi kondisi Simpus di masa mendatang.

Karena memang niatnya hanya mampir, saya tidak terlalu lama di Kradenan II, foto-foto dikit, terus pamit dan berangkat ke Gabus II, sekitar 8 km ke arah timur. hanya butuh waktu beberapa menit saja. Dan disana puskesmas yang sedang di renovasi ini sudah cukup ramai dengan pasien. Langsung saja saya kulo nuwun (terjemahan Indonesia : permisi) dan mencari Mas Ali. langsung ketemu dengan beliau karena memang sudah ditunggu dari pagi.

Segera saya nengok komputer (dan ternyata sodara-sodara, itu kalau tidak salah juga cuma satu-satunya di puskesmas Gabus I !!), langsung mengecek program Simpus. Mas Ali bilang, sudah di install tapi kok data tidak muncul lagi.. :). Lha jebulnya (terjemahan lagi : ternyata) masalahnya karena Simpus di install ulang, dan yang di install adalah Simpustu. Pantas saja kalau Simpus nya yang dijalankan ada tabel yang kurang lengkap. setelah memberikan penjelasan singkat, acara selanjutnya tinggal ngobrol-ngobrol dengan beberapa staf dan dokter puskesmas, dr. Saiful Haryanto… untung saja ketinggalan data nya baru beberapa hari, jadi masih bisa di kebut entry datanya. Sempat juga saya menunjukkan bagaimana bisa menggunakan modem GSM untuk onlen dan mengirim data, tanpa pusing-pusing membangun tower WAN untuk puskesmas.

Menatap komputer Simpus

Menatap komputer Simpus

Sekitar 1 jam, saya pamit untuk meneruskan perjalanan. Kali ini tujuannya adalah Puskesmas Kunduran. Puskesmas ini termasuk wilayah Blora, perbatasan dengan Kecamatan Ngaringan, Grobogan. Dari Gabus I, saya mengambil rute jalan pintas, dari kota Sulur ke arah utara, tembus ke Ngaringan. Daerahnya kering, tandus, panas, jalannya luar biasa… 70% jelek hehe…dan seperti biasa, saya nikmati saja kondisi ini..bener-bener lagunya mas Ebiet ada disini, ‘tubuhku terguncang, dihempas batu jalanan, hati tergetar menatap kering rerumputan…’. Butuh 3-4 kali bertanya pada orang-orang di jalan sebelum ketemu jalan besar Purwodadi-Blora. Kali ini kecepatan maksimal di jalan tadi cuma 30-40 km/jam..

Sampai Kunduran, saya langsung minta ketemu dengan bu Bidan pengelola data. Sebelum berangkat memang sudah diberi kabar bahwa Simpus KIA tidak bisa menerima masukkan data ibu hamil. setelah sebelumnya mengecek data KIA, baru ditelusuri kenapa tidak bisa di entry. Dan ternyata, masalah yang ditemui juga sederhana, ada bu bidan desa yang keliru memakai kode dari desa lain untuk ibu hamil di wilayahnya. pantas saja selalu terjadi ‘Key Violation’ hehe.. Untuk sekilas info, Puskesmas Kunduran sudah memakai Simpus selama beberapa tahun, termasuk yang pertama kali memakai Simpus di wilayah Blora. Sampai sekarang sudah ada sekitar 10 puskesmas yang mengikuti jejak Kunduran. Komputer yang ada sudah cukup banyak, sekitar 5 komputer. Kebetulan waktu saya datang kemarin puskesmas sedang di renovasi sehingga rencana pemasangan jaringan Loket-Simpus belum bisa dilaksanakan.

Selepas Kunduran saya berangkat ke arah barat, menuju Puskesmas Tawangharjo, sekitar 10 km timur Purwodadi, menemui Bu Siti Fathonah yang sudah menunggu. Beliau adalah pengelola Simpus, dan sekarang ingin menyambungkan komputer di Loket dengan komputer Simpus di ruangan yang lain. Jam 12.30, ketika puskesmas sudah agak sepi, saya baru sampai ke puskesmas. Beruntung Bu Siti masih berbaik hati menunggu pemasangan kabel. Berhubung hari sudah siang, pekerjaan dipercepat. Kabel dipasang, Simpus disetting, di upgrade, Bu Siti saya ajari upload data, selesai… dan tidak lupa foto-foto untuk dokumentasi. Komputer yang ada di puskesmas ini lebih dari lumayan, terdapat 2 komputer HP yang masih sangat bagus, di drop dari dinas ketika puskesmas dalam proses mendapatkan sertifikasi ISO. satu ditaruh di loket, sedangkan satu lagi ditaruh di dalam untuk Simpus. Proses pengetrian dilakukan dengan bergilir, jadwal pun di cetak dan diletakkan didekat komputer Simpus.

Jadwal entry di dekat komputer Simpus Tawangharjo

Jadwal entry di dekat komputer Simpus Tawangharjo

Selesai pekerjaan hari itu, tinggal mencari hotel di Purwodadi. Agak susah juga nyari yang kosong, kebetulan sedang ada lomba paduan suara gereja sehingga hampir semua hotel yang ‘bersih’ full.. Dua kali keliling Purwodadi, ketemulah hotel, yang biarpun agak ‘sedikit tidak bersih’ saya menginap disana.

Pagi hari, sambil memulai perjalanan pulang, saya mampir ke PKM Penawangan I.. Alhamdulillah Simpus sudah cukup lancar. Di Puskesmas ini juga telah mengaplikasikan Simpustu di loket. Petugas sudah lancar untuk mengoperasikan Simpustu. Masalah timbul ketika komputer Simpus beberapa waktu sebelumnya sempat error. Beruntung karena masih ada data backup, meskipun data nya sempat terpisah setelah di install ulang, saya berhasil menggabung datanya. Setelah memberi sedikit masukkan, saya langsung menuju ke puskesmas Tanggungharjo.

Puskesmas Penawangan, cukup megah di pinggir jalan Purwodadi-Semarang

Puskesmas Penawangan, cukup megah di pinggir jalan Purwodadi-Semarang

Letak puskesmas lumayan jauh dari Purwodadi, sekitar 40 km. Letaknya dari arah Gubug ke arah selatan menuju Kedungjati, sebelum sampai Kedungjati belok kanan 6 km. Agak lama saya di puskesmas ngobrol-ngobrol dengan kepala puskemas, dr. Suwindi, tentang masalah Simpus yang macet, masalah kebijakan, masalah rencana pengembangan, juga tentang kendala-kendala dari sisi birokrasi. Bahkan kemudian Bu Endang, koordinator KIA, beserta beberapa staf puskesmas ikut gabung ngobrol dan melihat software pengembangan Simpus KIA. Beliau sangat antusias, dan tertarik untuk implementasi Simpus KIA.

Puskesmas Tanggungharjo

Puskesmas Tanggungharjo

Masalah Simpus di Tanggungharjo hanya karena belum terkoordinirnya petugas entry data, dan dr. Suwindi sudah merencanakan untuk membenahi masalah itu secepatnya. Memang waktu pertemuan sebelumnya di Dinas Kesehatan saya berjanji pada beliau untuk menengok Simpus di Tanggungharjo. Beberapa kali melewati Kedungjati saya tidak sempat mampir karena belum tahu letak puskesmas.

dr. Suwindi, Kepala Puskesmas Tanggungharjo, sebelum berangkat pulang..

dr. Suwindi, Kepala Puskesmas Tanggungharjo, sebelum berangkat pulang..

Berhubung hari Jum’at, hari kerja pendek :), saya pun segera pamit setelah jam menunjukkan waktu 10.30. Perjalanan yang tersisa langsung menuju ke rumah. Mampir sholat Jum’at di Bringin, makan soto di Boyolali, saya sampai rumah sekitar pukul 15.00. Masih cukup siang. Tachometer menunjukkan angka 382,5 ketika sampai rumah.. agak lumayan untuk touring kali ini.

Dari perjalanan dua hari di Grobogan, saya mendapat beberapa hal penting untuk menjadi catatan :
– Dengan koordinasi yang baik, komputer yang terbatas, Simpus mampu berjalan meskipun belum maksimal.
– Masih perlunya pendampingan di puskesmas sehingga staf puskesmas bisa memanfaatkan data yang ada di Simpus bisa optimal.
– Semangat puskesmas untuk mengimplementasikan Simpus cukup tinggi. Sangat diharapkan lebih lanjut lagi dukungan Dinas Kesehatan, baik dari sisi perangkat keras maupun dari sisi birokrasi.

Sayang sekali karena keterbatasan waktu, saya tidak sempat mampir ke Dinas Kesehatan Grobogan untuk bersilaturahmi dengan Kepala Dinas, dr. Palti Siregar, MKes. Beliau sangat antusias kalau diajak bicara masalah Simpus dan bagaimana bisa mempercepat proses implementasinya.

Sekedar gambaran, inilah kantor Dinas Kesehatan Grobogan. Beberapa waktu yang lalu sempat mejeng sejenak di depannya. Sekedar informasi saja, sejauh perjalanan saya keliling daerah-daerah, ini termasuk salah satu kantor dinas kesehatan yang paling megah yang pernah saya datangi. Mudah-mudahan puskesmas di wilayah Grobogan segera menyusul.

Dinas Kesehatan Grobogan

Dinas Kesehatan Grobogan

Cerita agak suram tentang Simpus…

Kemarin, 20 Okt 08.

Ketika sedang asyik ngobrol dengan petugas Simpus Wonogiri I, Kabupaten Wonogiri, ada panggilan masuk. Saya liat dari salah satu kepala puskesmas memanggil, langsung saya angkat. Selanjutnya ada dialog kurang lebih seperti ini :

“Lagi neng ndi kamu Jok ?” (“Lagi dimana kamu Jok”)

“Di Wonogiri bu, nengok sama upgrade Simpus.. ada apa nggih ?”

“Ini ada orang lagi mau lihat Simpus mu, terus mau ambil output-output SImpus.. ethuk ra ? (Boleh nggak)?”

saya sempat gak bisa jawab beberapa saat, bingung mau senang, bangga, sedih, atau sebel.. kemudian saya bilang
“Maaf bu sepertinya sekarang saya gak ngijinin, mosok bolak balik seperti itu terus…”

eh ibu itu terus menjawab … “Nahhhh.. mbok ya gitu dari dulu, bolak balik diliat untuk di tiru kok yo diem saja. aku sendiri sudah bilang itu orang kalau aku mau ijin kamu dulu..”

“Dari mana bu sekarang yang lihat ?”

“Dari Jakarta..”

“Dah bu minta tolong kalau memang mau lihat dan ambil output Simpus, tolong supaya menghubungi saya saja bu, masak dulu dah mroyek kayak gitu sekarang mau lagi..”

“Yo wis… sini kamu omong sendiri sama ……… ”

selanjutnya beberapa obrolan dengan staf beliau yang juga tidak mungkin saya tulis namanya disini 🙂

Bapak-bapak ibu-ibu saudara-saudara sebangsa setanah air … saya tidak tahu apakah sikap saya salah ? Dulu saya bangga dan senang orang bisa melihat kemudian ikut mengembangkan Simpus seperti yang telah saya kembangkan. Saya merasa banyak teman untuk bersama-sama mengembangkan Simpus. Saya sendiri juga sering datang ke puskesmas atau dinas kesehatan yang telah mengembangkan Simpus terlebih dahulu, untuk belajar. Tapi saya tetap tahu diri untuk tidak menjiplak total apa yang saya pelajari dari mereka.

Simpus saya sendiri masih sangat sederhana, banyak program dan programer baru dengan kemampuan di atas kebisaan saya yang (ada teman saya bilang… ) jadul. Saya senang kalau memang niatnya mengembangkan Simpus dengan niat yang benar-benar membangun sistem informasi puskesmas, bukan (maaf) sekedar mengejar spj..

Mohon masukkan setelah membaca beberapa cerita berikut.

Beberapa waktu yang lalu, dinas kesehatan tempat ibu kepala puskesmas tadi nelpon memang sempat mengadakan proyek Simpus. Tender tahu-tahu sudah jalan, pemenangnya sebuah perusahaan Teknologi Informasi lokal. Ketika Simpus mulai dijalankan, kebetulan puskesmas tempat uji coba adalah pengguna Simpus saya. Uji coba berlangsung satu tahun lebih, tanpa hasil apapun kecuali untuk beberapa bulan puskesmas bisa mengakses Internet dengan gratis.. (itu salah satu hasil yang dipahami sebagai Simpus Online oleh rekanan tadi, Simpus online internet !).

Selanjutnya tanpa ijin saya, team programer mereka datang ke puskesmas ibu tadi, kemudian melihat Simpus, mencatat menu, rekapitulasi, tampilan, dan beberapa output Simpus termasuk pemetaan.

Hasilnya ? Simpus tetap gagal..beberapa nama rekapitulasi yang saya kembangkan saya lihat telah ada juga di Simpus mereka, tapi angkanya hanya nol, nol, dan nol…

Berikutnya saya dipanggil oleh staf Dinas Kesehatan, saya diminta untuk mengganti Simpus yang gagal dengan Simpus saya, dengan bertahap, dengan atas nama proyek Simpus tersebut..

Welehhhhhh… saya pusing juga dengan permintaan beliau. Bukan hanya masalah anggaran sudah turun atau belum, tetapi saya juga takut kalau ada sesuatu dengan proyek tersebut saya ikut kena, maklum nilainya jg sudah ratusan juta. Akhirnya dengan terpaksa saya menolak, kecuali ada surat resmi bahwa saya mengelola Simpus di Kabupaten itu tanpa ada ikatan dengan proyek terdahulu.

Kabar selanjutnya memang benar-benar suram. Simpus bisa dibilang gagal total, sementara di puskesmas yang menggunakan Simpus saya meskipun tertatih-tatih masih bisa berjalan. Satu puskesmas yang berpindah ke Simpus yang baru itu pun akhirnya juga macet total.

Memang akhirnya kegagalan proyek itu sampai juga ke instansi yang bertugas mengawasi.. cuma sekali lagi, tidak ada kelanjutan ataupun tindakan yang di ambil. Seorang staf puskesmas bilang kepada saya..

“Gak bakalan ditindak mas, yang mengerjakan proyek itu adiknya kepala yang memeriksa…”

hehehe…. saya cuma senyum pahit..

Dan sekarang, saya diberi lagi kabar bahwa akan ada lagi pengembangan Simpus, kali ini dengan pengembang dari Jakarta, kota yang serba Maha itu…

Dan sekarang, saya diberi tahu bahwa ada lagi yang ingin melihat Simpus untuk dijadikan contoh Simpus yang lebih baru…beberapa kali sebelumnya dari dinas yang bersangkutan juga sudah melihat dan membawa hasil output Simpus (nya Jojok).

Kejadian itu tidak hanya satu dua kali saya alami, dan tidak di satu dua daerah. beberapa kepala puskesmas pernah menyampaikan cerita juga, ketika ada proyek pengadaan di salah satu kabupaten, ada wakil dari dinas kesehatan itu membawa serta programer mereka, kemudian mencatat dan melihat semua output Simpus.. dan mereka juga tidak ‘kulon nuwun’ pada saya..

Saya harus gimana ya ??

a. Ijinkan saja sapa tahu dapat cipratan proyek hehe…

b. Ijinkan saja sapa tahu dapat pahala

c. Ijinkan saja, toh juga pernah belajar juga di puskesmas lain

d. Tolak saja, enak disana enek disini

e. Tolak saja, biar nyari bahan sendiri

f. Ndak tahu, ndak ada untung ruginya buat saya.

Silahkan memberikan pendapat yang lain…

Cerita dari Kota Ternate

Bulan Agustus kemarin, saya di undang Dinas Kesehatan Kota Ternate, untuk mereview lagi Simpus yang sudah mulai diimplementasikan 2 tahun yang lalu, serta mulai memperkenalkan modul baru dari Simpus, Simpus KIA. Rencana evaluasi dan upgrade ini sebenarnya sudah disiapkan hampir setahun sebelumnya, hanya saja banyak hal yang membuat acara ke Kota Ternate menjadi tertunda. Berikut adalah sebagian cerita perjalanan ke Kota Ternate..

Tanggal 4 Agustus pagi, berangkat dari Jogja dengan pesawat. Siang setelah transit di Bandara Hasanudin yang baru, persis hari pertama uji coba bandara, yang membuat ruwet proses antri dan transit, akhirnya sampai juga di Kota Ternate dengan selamat. Di jemput oleh drg. Baharuddin, MKes yang sekarang memegang pengembangan Simpus di Kota Ternate.
Siang itu juga langsung di ajak ke Dinas Kesehatan untuk bertemu dengan beberapa staf kenalan lama yang kebetulan sedang mengadakan rapat. Setelah makan siang di warung Coto (atau Soto sih ??? ) Makassar, sore baru istirahat di hotel.. Malam hari, drg. Baharuddin datang bersama mbak Indri, orang Delanggu yang menjadi PNS di Dinkes Kota Ternate. Acaranya ?? menata tempat pertemuan untuk besok pagi, serta memasang spanduk untuk background pertemuan… lumayan sambil mengobrol ngalor ngidul (terjemahan dalam bahasa Indonesia : ke utara ke selatan…) tentang perkembangan Simpus selama ini di Ternate.

Nampang di depan spanduk pelatihan

Tanggal 5-6 Agustus, setelah sedikit jet lag 🙂 karena terbiasa bangun jam 4 di WIB, pertemuan dimulai sekitar jam 9.00. Peserta yang datang adalah staf-staf puskesmas yang dulu mengikuti pelatihan Simpus, dan kali ini ditambah beberapa bidan karena ada materi pengenalan Simpus KIA. Puskesmas di Kota Ternate antara lain :
– Puskesmas Kota
– Puskesmas Siko
– Puskesmas Kalumpang
– Puskesmas Sulamadaha
– Puskesmas Gambesi
– Puskesmas Kalumata
– Puskesmas Pulau Motti

Acara bersifat semi formal, dibuka oleh Ibu Chairunnisa, beliau Kadinkes Kota Ternate, dan kemudian langsung di isi dengan diskusi tentang implementasi Simpus di Kota Ternate selama 2 tahun setelah berjalan. Dan hasil dari pertemuan itu :

– ternyata Simpus bisa berjalan dengan baik di beberapa puskesmas. proses penyesuain berjalan dengan cukup mudah. beberapa puskesmas bahkan sudah memanfaatkan Simpus untuk membantu proses pendaftaran di loket, terutama dalam pencarian nomer index pasien.

– Puskesmas Sulamadaha mendapat sedikit musibah, sehingga Simpus sempat macet. mau tau ?? Motherboard puskesmas di pinggir pantai ini terdapat karat karena angin laut, bisa ditebak, jebol….
– Puskesmas Pulau Motti, setelah sekian bulan berjalan dengan lancar, Simpus berhenti, karena petugas yang ditunjuk untuk entry data pindah ke daerah lain. Akhirnya diputuskan untuk melatih langsung petugas Simpus dari Pulau Moti sebagai pengganti. Pelatihan berlangsung malam nya, dengan diterangi lampu lilin, karena lampu mati…
– Puskesmas Siko juga mendapat musibah, komputer kena virus sehingga hampir semua data hilang. pelajaran yang berharga untuk lebih memperhatikan proses back up. contoh yang bagus di tunjukkan di Puskesmas Kota, disana di atas monitor ditulis peringatan yang cukup jelas.

Peringatan untuk selalu back up di Puskesmas Kota

Peringatan untuk selalu back up di Puskesmas Kota

– Masalah timbul ketika dari Dinas Kesehatan, mulai meminta masing-masing puskesmas membuat peta wilayah kerja. maklum hal tersebut jarang menjadi perhatian, apalagi peta Simpus membutuhkan garis batas sampai tingkat RW atau dusun. dengan sedikit adu argumentasi, akhirnya di setujui untuk semaksimal mungkin dalam 4 hari puskesmas berusaha membuat peta. Bukan hal yang mudah apalagi setelah ada pemekaran wilayah.

Diskusi yang cukup hangat terjadi, ketika di hari kedua ditampilkan pengembangan Simpus KIA yang akan juga mulai di implementasikan di Kota Ternate. Antusias sekali para peserta dan staf dari Dinas Kesehatan untuk menanyakan berbagai masalah yang berkaitan dengan Simpus KIA, termasuk memberikan beberapa masukan yang penting, yang juga dibutuhkan untuk data di KIA. Secara umum mereka bersemangat untuk segera mengimplemetasikan Simpus KIA, dan langsung untuk di installkan di masing-masing komputer puskesmas.

Pertemuan dua hari di akhiri dengan menengok puskesmas Siko untuk mencoba mencari ‘sisa-sisa’ data yang mungkin bisa diselamatkan, meskipun akhirnya dengan menyesal didapatkan hasil kalau data sudah bersih. Hard Disk telah di format ulang … 😦

7 Agustus, acara yang selalu saya tunggu-tunggu setiap kali keluar kota.. menengok puskesmas. Dengan ditemani drg. Baharuddin, perjalanan di awali dari Siko untuk melihat uji coba pelayanan dengan menggunakan modul Simpustu di loket. cukup sulit untuk melihat sistem bisa berjalan dengan lancar, dan hal itu bisa sangat di maklumi, belum pernah ada gambaran di Kota Ternate bagaimana memanfaatkan modul tambahan Simpustu di loket, untuk membantu pencarian nomer pasien dan mencetak Lembar Registrasi Simpus. dari sini bahkan bisa didapat beberapa masukkan untuk kegiatan mendatang supaya ada kegiatan khusus untuk petugas di loket dengan menggunakan Simpustu.

Berikutnya saya menuju Puskesmas Sulamadaha. Puskesmas yang terletak di sebelah utara Gunung Gamalama ini sebenarnya sudah menjalankan Simpus, hanya saja kerusakan komputer menyebabkan macetnya entry data. Di puskesmas ini sempat mengecek virus yang ada di komputer. dan ternyata kegiatan ini hampir dilakukan di setiap puskesmas yang didatangi.

Selepas Sulamadaha, Puskesmas Gambesi menjadi tujuan berikutnya. Simpus sudah berjalan dengan lancar. Beberapa pencarian data dan pembuatan laporan sudah memanfaatkan Simpus. Petugas Simpus Gambesi termasuk yang dulu cukup aktif menghubungi saya untuk konsultasi, dan memang implementasi bisa dilaksanakan dengan lancar. Berturut-turut kemudian kami ke Kalumata, yang kebetulan satu kompleks dengan rumah dinas drg. Baharuddin, dan kemudian diakhiri puskesmas Kalumpang. Gak enak juga membuat petugas Simpus Kalumpang menunggu sampai sore untuk di lihat Simpus nya.

Beberapa gambar dari Ternate.

Puskesmas Sulamadaha

Puskesmas Sulamadaha

Puskesmas Kalumata

Puskesmas Kalumata

Puskesmas Kalumpang.

Puskesmas Kalumpang.

Malam terakhir di Kota Ternate, saya diajak keliling kota oleh Pak Harto, staf DKK yang dulu pertama kali mengundang saya untuk melatih Simpus. Kami muter-muter di beberapa tempat sambil bercerita banyak hal, dari demo-demo pilgub, pengembangan Simpus, dan bahkan di ajak melihat salah satu markas calon gubernur yang masih ramai dengan pendukungnya. Saya cukup ngeri kalau-kalau ada kejadian gak enak seperti yang sering muncul di televisi, tapi Pak Harto santai-santai saja melintasi daerah itu. Beliau hanya berkata “Ah itu di televisi mas, sepertinya seluruh Ternate kisruh, kita di Ternate sih dah biasa, yang demo silahkan demo, yang kerja juga kerja, yang lewat juga lewat…”

8 Agustus, hari terakhir di Ternate. Pagi hari langsung menuju puskesmas terakhir, Puskesmas Kota. Sekali lagi ditunjukkan Simpus yang sudah di jalankan. di sini juga belum di optimalkan penggunaan Simpustu. setelah selesai langsung menuju ke Dinas Kesehatan untuk bersiap-siap sholat Jumat dan pertemuan terakhir dengan seluruh kepala puskesmas di Ternate. Agaknya pak Baharuddin benar-benar ingin memanfaatkan kedatangan saya semaksimal mungkin, bahkan sampai menit-menit terakhir sebelum pesawat datang, masih di adakan rapat yang juga dihadiri oleh Kadinkes. “Susah mendatangkan Mas Jojok!” demikian beliau sampaikan. Hehe… saya geli, asal ada tiket pasti saya siap berangkat 🙂

Rapat menjelang pulang

Rapat menjelang pulang

untung kantor Dinkes berada di sebelah bandara Baabullah, sehingga setiap kedatangan pesawat kita langsung tahu. Beberapa hasil dari pertemuan antara lain kesamaan langkah dan program untuk pengembangan Simpus ke depan, termasuk seperti yang diinginkan oleh ibu Kadinkes. Beliau sangat memimpikan suatu sistem informasi kesehatan terpadu dan online seperti beberapa daerah di Jawa. Kemudian juga dihasilkan beberapa rencana dan langkah nyata ke depan supaya pengembangan Simpus di Kota Ternate bisa berkelanjutan.

Sore, akhirnya berangkat juga pulang ke Makassar, karena masih ada satu agenda tersisa, bertemu dengan Pak Syahrir Hannanu di Makasar. Beliau adalah kenalan baru dari internet yang kebetulan pensiunan Dinkes Propinsi Sulawesi Tengah. saya menyapa beliau karena menyangka beliau adalah Pak Syahrir dari Unhas yang ketemu di Tenggarong, ternyata salah orang.

Malam itu, saya ngobrol banyak dengan beliau, ‘mencuri ilmu’ dari beliau yang benar-benar luas pengalamannya. Beliau kebetulan juga programer Simpus di Sulteng, banyak hal yang beliau sampaikan untuk saya yang msh sangat lugu di bidang non teknis Informasi Kesehatan hehe.. dari pengalaman membuat program, pengalaman komputernya dibobol orang utk diambil softwarenya, pengalaman mengajari orang puskesmas, tentang kodifikasi penyakit yang amburadul, dan demikian banyak cerita sehingga sampai larut malam obrolan kami terus mengalir. hampir jam 2 malam kami masih asik ngobrol..

Beliau berbaik hati menawarkan saya menginap di rumahnya di tengah kota Makassar.. sempat juga di suguhi konser musik oleh putra-putra beliau yang cukup membuat saya terkesima, kagum, sampai iri… permainan musik piano dan biola mereka memang luar biasa. saya jadi ingat ketika ke Kudus, di Puskesmas Undaan sempat juga di suguhi konser Organ Tunggal oleh salah satu staf puskesmas hehe…

Bersama Pak Syahrir, guru baru dari Sulsel

Bersama Pak Syahrir, guru baru dari Sulsel

9 Agustus, setelah siang sempat jalan-jalan keliling Kota Makasar, saya pun berangkat pulang..

ssssttttt melenceng dari cerita tentang Simpus gak papa dong.. sempat ketemu mas Ebiet hehehe… siapa tahu beliau juga pernah berobat ke Puskesmas…

Ketemu mas Ebiet

Ketemu mas Ebiet

Belajar Ke Puskesmas Ngemplak I, Sleman

Sabtu 10 Oktober 08, stlh sempat tertunda gara-gara Roy flu, akhirnya kami bertiga bisa juga ber tamu ke Puskesmas Ngemplak I. Kami, team simpus terbaru (multi user) terdiri dari Albert, bossnya Kunang.com, kemudian Roy, programernya yang masih menunggu wisuda di pulau garam, dan saya sendiri, memang sudah beberapa hari terakhir berniat untuk melihat secara langsung proses yang terjadi di sebuah puskesmas. kemudian bagaimana nanti software bisa dikembangkan dengan menyesuaikan se fleksibel mungkin dengan kondisi puskesmas.

Sekedar Info, Puskesmas Ngemplak I adalah salah satu puskesmas di Kabupaten Sleman, terletak di tepi jalur alternatif Magelang-Solo, kalau dari arah Candi Kalasan (sebelah barat bengkel sunat Bogem, pasti lebih gampang nyari) ambil arah ke utara kurang lebih 6 km. Gedung puskesmas berdiri di pinggir jalan besar, sudah cukup megah, terdiri dari 2 lantai, serta merupakan puskesmas perawatan. Puskesmas Ngemplak beberapa waktu yang lalu termasuk puskesmas di Sleman yang sudah mendapatkan sertifikasi ISO untuk pelayanan publik. Secara pribadi saya memandang sertifikat itu sangat pantas untuk disandang puskesmas Ngemplak I kalau melihat dari pelayanan yang diberikan terhadap pasien yang datang. Etos kerja sama dari karyawan juga (maaf…) di atas rata-rata puskesmas di daerah lain yang pernah saya datangi.. sekedar contoh yang pernah dan sering saya temui, pak Satpam atau petugas lain di Puskesmas Ngemplak I akan dengan segera membantu proses pendaftaran pasien kalau terlihat pasien menumpuk di loket pendaftaran. Mereka akan membantu menulis di komputer, menulis di resep, atau menyiapkan rekam medis untuk segera diberikan ke unit pelayanan yang ada..

Mungkin ada yang bertanya kenapa kami pingin melihat proses pelayanan di puskesmas? kenapa di Puskesmas Ngemplak I? bukan di Puskesmas Salam yang menjadi pioner Simpus versi Single User? atau di Puskesmas Prambanan, Klaten yang juga belum lama mulai menggunakan Simpus..

Tujuan kami yang pertama adalah supaya team programer Simpus, bisa merasakan dan merasa lebih dekat dengan suasana kerja yang nantinya akan didampingi dengan Simpus. mustahil rasanya seorang programer bisa mengembangkan program yang lebih ‘akrab’ dengan pengguna tanpa programer tidak melihat dan merasakan suasana kerjanya..

Kemudian alasan pertama dan utama kenapa ke Ngemplak I adalah lokasi puskesmas sendiri yang relatif paling dekat untuk di datangi oleh Albert dan Roy dari Jogja, dan juga dekat dengan rumah saya, sekitar 7 km (hehe… sedikit egois). saya sendiri sangat sering mampir ke puskesmas Ngemplak I untuk mengupdate Simpus atau sekedar ngobrol dengan Pak Narto, pengelola Simpus.

Alasan berikutnya, Infrastruktur dari Puskesmas Ngemplak sudah cukup mapan untuk nantinya dipersiapkan menjadi puskesmas uji coba Simpus next Generation (… kalau boleh sih). Hampir di tiap ruangan sudah terdapat komputer, kemudian jaringan LAN juga sudah terpasang meskipun terdapat beberapa masalah kecil, Genset juga sudah tersedia kalau listrik mati, dan kesiapan dari teman-teman staf puskesmas dalam penerimaan sistem komputerisasi menjadi pertimbangan juga kenapa kami berkunjung ke Ngemplak I. Simpus yang sudah di pakai beberapa tahun terakhir sampai sekarang masih berjalan dengan baik, meskipun beberapa variabel memang tidak di manfaatkan.

Jam 10 pagi kurang, Albert dan Roy sudah sampai di puskesmas, sementara saya sendiri datang belakangan. hampir 1 jam kami ngobrol-ngobrol dengan Pak Narto. Beliau adalah staf puskesmas yang paling rajin mengelola Simpus di Ngemplak I. termasuk pengguna Simpus dari yang masih sangat sederhana, sampai ke modul Pemetaan yang juga sudah saya instalkan di puskesmas. Banyak masukan dari beliau, terutama dari sisi pengguna, bagaimana nanti diharapkan software yang dikembangkan bisa diimplementasikan dengan mudah, tidak ribet, dan yang jelas tetap bisa sejalan dengan Simpus yang sudah ada. cukup lama juga kami mengobrol kesana kemari, sampai topik-topik di luar puskesmas yang masih ada hubungannya dengan pengembangan sistem informasi. Beliau juga banyak bercerita pengembangan Sikesda oleh Team nya Pak Anis (rekan di IKM) yang juga masih berjalan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman.

Berikutnya kami langsung di ajak melihat secara langsung pelayanan puskesmas, mulai dari pasien datang dan dilayani oleh petugas medis, sampai mendapatkan obat dan pulang. Alur pasien yang sebenarnya sederhana mulai terlihat agak rumit ketika ditemukan beberapa kasus yang kadang-kadang terjadi di puskesmas. misalnya bagaimana nanti rekap kunjungan pasien, bagaimana kalau terjadi rujuk internal, apakah kunjungan dihitung dobel, bagaimana kalau berobat di dua unit pelayanan, bagaimana kalau ini, bagaimana kalau itu, siapa nanti yang boleh mengakses data… dan cukup banyak hal yang ditanyakan Roy pada Pak Narto, beberapa juga belum dapat mendapatkan jawaban yang pasti..

Setelah dirasa cukup melihat proses di puskesmas, akhirnya kami pamit. Tentunya beberapa hal masih menjadi bahan diskusi nanti dengan Albert dan Roy sebelum kita memulai proses panjang pengembangan Simpus Multi User. Sebelum pulang ke Jogja, sempat mampir sebentar ke rumah saya di kampung, ngobrol-ngobrol ringan, serta menghapal jalan supaya suatu saat mereka bisa mengadakan rapat Simpus di kampung 🙂

Lebaran…

Minal Aidzin wal Faidzin…

seminggu setelah lebaran, saya mulai lagi dengan rutinitas lama, keliling puskesmas. Cuma karena masih dalam suasana lebaran, perjalanan dan kunjungan ke puskesmas lebih banyak diwarnai dengan silaturahmi halal bihalal dengan staf dan karyawan puskesmas.

hari pertama penulis ke ‘kantor’ di IKM FK UGM. datang telat mengharuskan saya harus keliling ke semua ruangan dari lantai 1 sampai lantai 3. lumayan juga bisa ketemu banyak teman-teman.

hari kedua, dimulai dengan perjalanan ke puskesmas Klaten Selatan, dilanjutkan ke puskesmas Prambanan, puskesmas Ngemplak Sleman dan terakhir ke puskesmas kampung halaman, Manisrenggo. Kebanyakan di puskesmas hanya ngobrol-ngobrol ringan dengan staf dan (kalau beruntung) mencicipi hidangan lebaran atau halal bihalal..

hari ketiga, saya ke puskesmas Salam, puskesmas yang pertama memelopori Simpus. ngobrol-ngobrol bentar dengan bu Kris, konsultan utama. Sebelumnya sempat ke puskesmas Srumbung sebentar untuk mengupdate data simpus KIA. Siang hari pas mau pulang, terpaksa ke Srumbung lagi karena ada masalah dengan data yang masuk, meskipun hikmahnya dapat makan siang, ada acara halal bihalal di Srumbung.

hari ke empat dan seterusnya, masih belum tahu kemana motor mau membawa keliling, mungkin dekat, mungkin jauh, belum lagi musim hujan dah datang jadi harus benar-benar memperhitungkan cuaca kalau mau keliling. rencana minggu-minggu ini akan menempuh perjalanan panjang ke Blora dan Grobogan, mudah-mudahan cuaca bersahabat dengan saya.

Kepurun, 081009