Cerita dari Kota Ternate

Bulan Agustus kemarin, saya di undang Dinas Kesehatan Kota Ternate, untuk mereview lagi Simpus yang sudah mulai diimplementasikan 2 tahun yang lalu, serta mulai memperkenalkan modul baru dari Simpus, Simpus KIA. Rencana evaluasi dan upgrade ini sebenarnya sudah disiapkan hampir setahun sebelumnya, hanya saja banyak hal yang membuat acara ke Kota Ternate menjadi tertunda. Berikut adalah sebagian cerita perjalanan ke Kota Ternate..

Tanggal 4 Agustus pagi, berangkat dari Jogja dengan pesawat. Siang setelah transit di Bandara Hasanudin yang baru, persis hari pertama uji coba bandara, yang membuat ruwet proses antri dan transit, akhirnya sampai juga di Kota Ternate dengan selamat. Di jemput oleh drg. Baharuddin, MKes yang sekarang memegang pengembangan Simpus di Kota Ternate.
Siang itu juga langsung di ajak ke Dinas Kesehatan untuk bertemu dengan beberapa staf kenalan lama yang kebetulan sedang mengadakan rapat. Setelah makan siang di warung Coto (atau Soto sih ??? ) Makassar, sore baru istirahat di hotel.. Malam hari, drg. Baharuddin datang bersama mbak Indri, orang Delanggu yang menjadi PNS di Dinkes Kota Ternate. Acaranya ?? menata tempat pertemuan untuk besok pagi, serta memasang spanduk untuk background pertemuan… lumayan sambil mengobrol ngalor ngidul (terjemahan dalam bahasa Indonesia : ke utara ke selatan…) tentang perkembangan Simpus selama ini di Ternate.

Nampang di depan spanduk pelatihan

Tanggal 5-6 Agustus, setelah sedikit jet lag🙂 karena terbiasa bangun jam 4 di WIB, pertemuan dimulai sekitar jam 9.00. Peserta yang datang adalah staf-staf puskesmas yang dulu mengikuti pelatihan Simpus, dan kali ini ditambah beberapa bidan karena ada materi pengenalan Simpus KIA. Puskesmas di Kota Ternate antara lain :
– Puskesmas Kota
– Puskesmas Siko
– Puskesmas Kalumpang
– Puskesmas Sulamadaha
– Puskesmas Gambesi
– Puskesmas Kalumata
– Puskesmas Pulau Motti

Acara bersifat semi formal, dibuka oleh Ibu Chairunnisa, beliau Kadinkes Kota Ternate, dan kemudian langsung di isi dengan diskusi tentang implementasi Simpus di Kota Ternate selama 2 tahun setelah berjalan. Dan hasil dari pertemuan itu :

– ternyata Simpus bisa berjalan dengan baik di beberapa puskesmas. proses penyesuain berjalan dengan cukup mudah. beberapa puskesmas bahkan sudah memanfaatkan Simpus untuk membantu proses pendaftaran di loket, terutama dalam pencarian nomer index pasien.

– Puskesmas Sulamadaha mendapat sedikit musibah, sehingga Simpus sempat macet. mau tau ?? Motherboard puskesmas di pinggir pantai ini terdapat karat karena angin laut, bisa ditebak, jebol….
– Puskesmas Pulau Motti, setelah sekian bulan berjalan dengan lancar, Simpus berhenti, karena petugas yang ditunjuk untuk entry data pindah ke daerah lain. Akhirnya diputuskan untuk melatih langsung petugas Simpus dari Pulau Moti sebagai pengganti. Pelatihan berlangsung malam nya, dengan diterangi lampu lilin, karena lampu mati…
– Puskesmas Siko juga mendapat musibah, komputer kena virus sehingga hampir semua data hilang. pelajaran yang berharga untuk lebih memperhatikan proses back up. contoh yang bagus di tunjukkan di Puskesmas Kota, disana di atas monitor ditulis peringatan yang cukup jelas.

Peringatan untuk selalu back up di Puskesmas Kota

Peringatan untuk selalu back up di Puskesmas Kota

– Masalah timbul ketika dari Dinas Kesehatan, mulai meminta masing-masing puskesmas membuat peta wilayah kerja. maklum hal tersebut jarang menjadi perhatian, apalagi peta Simpus membutuhkan garis batas sampai tingkat RW atau dusun. dengan sedikit adu argumentasi, akhirnya di setujui untuk semaksimal mungkin dalam 4 hari puskesmas berusaha membuat peta. Bukan hal yang mudah apalagi setelah ada pemekaran wilayah.

Diskusi yang cukup hangat terjadi, ketika di hari kedua ditampilkan pengembangan Simpus KIA yang akan juga mulai di implementasikan di Kota Ternate. Antusias sekali para peserta dan staf dari Dinas Kesehatan untuk menanyakan berbagai masalah yang berkaitan dengan Simpus KIA, termasuk memberikan beberapa masukan yang penting, yang juga dibutuhkan untuk data di KIA. Secara umum mereka bersemangat untuk segera mengimplemetasikan Simpus KIA, dan langsung untuk di installkan di masing-masing komputer puskesmas.

Pertemuan dua hari di akhiri dengan menengok puskesmas Siko untuk mencoba mencari ‘sisa-sisa’ data yang mungkin bisa diselamatkan, meskipun akhirnya dengan menyesal didapatkan hasil kalau data sudah bersih. Hard Disk telah di format ulang …😦

7 Agustus, acara yang selalu saya tunggu-tunggu setiap kali keluar kota.. menengok puskesmas. Dengan ditemani drg. Baharuddin, perjalanan di awali dari Siko untuk melihat uji coba pelayanan dengan menggunakan modul Simpustu di loket. cukup sulit untuk melihat sistem bisa berjalan dengan lancar, dan hal itu bisa sangat di maklumi, belum pernah ada gambaran di Kota Ternate bagaimana memanfaatkan modul tambahan Simpustu di loket, untuk membantu pencarian nomer pasien dan mencetak Lembar Registrasi Simpus. dari sini bahkan bisa didapat beberapa masukkan untuk kegiatan mendatang supaya ada kegiatan khusus untuk petugas di loket dengan menggunakan Simpustu.

Berikutnya saya menuju Puskesmas Sulamadaha. Puskesmas yang terletak di sebelah utara Gunung Gamalama ini sebenarnya sudah menjalankan Simpus, hanya saja kerusakan komputer menyebabkan macetnya entry data. Di puskesmas ini sempat mengecek virus yang ada di komputer. dan ternyata kegiatan ini hampir dilakukan di setiap puskesmas yang didatangi.

Selepas Sulamadaha, Puskesmas Gambesi menjadi tujuan berikutnya. Simpus sudah berjalan dengan lancar. Beberapa pencarian data dan pembuatan laporan sudah memanfaatkan Simpus. Petugas Simpus Gambesi termasuk yang dulu cukup aktif menghubungi saya untuk konsultasi, dan memang implementasi bisa dilaksanakan dengan lancar. Berturut-turut kemudian kami ke Kalumata, yang kebetulan satu kompleks dengan rumah dinas drg. Baharuddin, dan kemudian diakhiri puskesmas Kalumpang. Gak enak juga membuat petugas Simpus Kalumpang menunggu sampai sore untuk di lihat Simpus nya.

Beberapa gambar dari Ternate.

Puskesmas Sulamadaha

Puskesmas Sulamadaha

Puskesmas Kalumata

Puskesmas Kalumata

Puskesmas Kalumpang.

Puskesmas Kalumpang.

Malam terakhir di Kota Ternate, saya diajak keliling kota oleh Pak Harto, staf DKK yang dulu pertama kali mengundang saya untuk melatih Simpus. Kami muter-muter di beberapa tempat sambil bercerita banyak hal, dari demo-demo pilgub, pengembangan Simpus, dan bahkan di ajak melihat salah satu markas calon gubernur yang masih ramai dengan pendukungnya. Saya cukup ngeri kalau-kalau ada kejadian gak enak seperti yang sering muncul di televisi, tapi Pak Harto santai-santai saja melintasi daerah itu. Beliau hanya berkata “Ah itu di televisi mas, sepertinya seluruh Ternate kisruh, kita di Ternate sih dah biasa, yang demo silahkan demo, yang kerja juga kerja, yang lewat juga lewat…”

8 Agustus, hari terakhir di Ternate. Pagi hari langsung menuju puskesmas terakhir, Puskesmas Kota. Sekali lagi ditunjukkan Simpus yang sudah di jalankan. di sini juga belum di optimalkan penggunaan Simpustu. setelah selesai langsung menuju ke Dinas Kesehatan untuk bersiap-siap sholat Jumat dan pertemuan terakhir dengan seluruh kepala puskesmas di Ternate. Agaknya pak Baharuddin benar-benar ingin memanfaatkan kedatangan saya semaksimal mungkin, bahkan sampai menit-menit terakhir sebelum pesawat datang, masih di adakan rapat yang juga dihadiri oleh Kadinkes. “Susah mendatangkan Mas Jojok!” demikian beliau sampaikan. Hehe… saya geli, asal ada tiket pasti saya siap berangkat🙂

Rapat menjelang pulang

Rapat menjelang pulang

untung kantor Dinkes berada di sebelah bandara Baabullah, sehingga setiap kedatangan pesawat kita langsung tahu. Beberapa hasil dari pertemuan antara lain kesamaan langkah dan program untuk pengembangan Simpus ke depan, termasuk seperti yang diinginkan oleh ibu Kadinkes. Beliau sangat memimpikan suatu sistem informasi kesehatan terpadu dan online seperti beberapa daerah di Jawa. Kemudian juga dihasilkan beberapa rencana dan langkah nyata ke depan supaya pengembangan Simpus di Kota Ternate bisa berkelanjutan.

Sore, akhirnya berangkat juga pulang ke Makassar, karena masih ada satu agenda tersisa, bertemu dengan Pak Syahrir Hannanu di Makasar. Beliau adalah kenalan baru dari internet yang kebetulan pensiunan Dinkes Propinsi Sulawesi Tengah. saya menyapa beliau karena menyangka beliau adalah Pak Syahrir dari Unhas yang ketemu di Tenggarong, ternyata salah orang.

Malam itu, saya ngobrol banyak dengan beliau, ‘mencuri ilmu’ dari beliau yang benar-benar luas pengalamannya. Beliau kebetulan juga programer Simpus di Sulteng, banyak hal yang beliau sampaikan untuk saya yang msh sangat lugu di bidang non teknis Informasi Kesehatan hehe.. dari pengalaman membuat program, pengalaman komputernya dibobol orang utk diambil softwarenya, pengalaman mengajari orang puskesmas, tentang kodifikasi penyakit yang amburadul, dan demikian banyak cerita sehingga sampai larut malam obrolan kami terus mengalir. hampir jam 2 malam kami masih asik ngobrol..

Beliau berbaik hati menawarkan saya menginap di rumahnya di tengah kota Makassar.. sempat juga di suguhi konser musik oleh putra-putra beliau yang cukup membuat saya terkesima, kagum, sampai iri… permainan musik piano dan biola mereka memang luar biasa. saya jadi ingat ketika ke Kudus, di Puskesmas Undaan sempat juga di suguhi konser Organ Tunggal oleh salah satu staf puskesmas hehe…

Bersama Pak Syahrir, guru baru dari Sulsel

Bersama Pak Syahrir, guru baru dari Sulsel

9 Agustus, setelah siang sempat jalan-jalan keliling Kota Makasar, saya pun berangkat pulang..

ssssttttt melenceng dari cerita tentang Simpus gak papa dong.. sempat ketemu mas Ebiet hehehe… siapa tahu beliau juga pernah berobat ke Puskesmas…

Ketemu mas Ebiet

Ketemu mas Ebiet

13 Tanggapan

  1. Urusan puji-pujian cari Mas Jojok.
    Urusan jalan-jalan tanya Mas Jojok.
    Urusan ke SIMPUS jangan ditanya. Dialah Pakarnya.
    Urusan Bidan… boleh ditanya…
    Salam Mas dari kami sekeluarga,
    Semoga sukses selalu.

  2. Terima kasih kembali pak, salam kembali untuk seluruh keluarga, di tunggu konser nya di Jogja🙂

  3. sempet gitar-gitaran bareng mas ebiet ngga ..???
    “perjalanan ini .. serasakan naik sapiiiii .. …. “

  4. Mas, ada satu foto yang ngga terupload dengan baik tuh .. dan fasilitas snap-nya dimatikan saja .. mengganggu sekali ..
    themes>extra>clear snap

  5. Ya… Mas Jojok, mestinya konser bersama ya. Konser SIMPUS sajalah… soalnya si Fabrice itu lagi mau ujian di Surabaya dalam waktu dekat ini, sedang di bungsu Muh. Iffan lagi dolan dengan sekolahan ke Bali padahal mestinya ia ikut juga ujian..terpaksa ujiannya dia dipending dulu.
    Mentas di Jogya …. lebih asik nonton gamelan atau ludruk… itu kesukaan saya dulu di makassar, sayangnya sekarang sudah tak ada yang begitu.
    Salam

  6. hehe.. terima kasih pak dokter..ini jg lagi nyari2 setting yang agak longgar.. herannya.. saya belum ngilangin moderasi, tp khusus pak syahrir sapa pak agus, komentarnya langsung nyemplung tuh…

    Konser di jogja? saya sendiri jrg nonton pak, kmrn pas 17 an bikin acara sendiri di kampung, Kethoprak Pemuda hehe.. lmyn sukses, biarpun pentas belum rampung penonton dan kabur ….

  7. Thanks udah mampir di blog saya. Wah seneng tuh ada foto bareng Ebiet G Ade. Sayang sekali ya sekarang sudah gak ada penyanyi sebagus Ebiet G Ade, yang meski liriknya sederhana tapi mempunyai makna yang dalam. Meski tidak masuk kategori Lagu-lagu religi, tapi liriknya banyak yang dalam. bahkan lebih dalam dari lagu-lagu religi jaman sekarang…..

  8. sama-sama mas… sayang saya lupa nanya Mas Ebiet pernah ke puskesmas atau belum hehe…

  9. kayaknya masalah yang kita hadapi hampir sama, memang koordinasi dan dukungan dari kepala puskesmas itu faktor yang sangat dominan untuk keberlangsungan simpus itu sendiri.
    semoga dengan media ini kita para penggiat simpus bisa saling berbagi

    http://simpus.wordpress.com

  10. betul mas..faktor pertama memang kepala puskesmas, care apa kagak, mampu koordinasi apa nggak, memberi support atau ndak.. tapi saya pernah ketemu lo, kepala puskesmas adem ayem, yang semangat justru petugas simpus.

    nah yang lebih banyak itu yang dinas nya adem ayem hehe..biasanya kendala utama memang di faktor pembiayaan..masalah yang klasik..

  11. wah, ketemu juga sama idolanya, pak ebiet..😀

  12. pak, saya dari puskesmas Sulamadaha, sekarang puskesmasnya dah pindah ke gedung yang baru dan lebih mewah. tapi kalau bisa pak, tolong dong pak kesini lagi karena simpusnya dah gak jalan. padahal itu sangat dibutuhkan guna menyesuaikan dengan gedung dan fasilitas yang mewah. bahkan kalau boleh yang lebih dari sekedar simpus puskesmas, tapi bisa entri data ke dinas dan ke pusat (kemenkes).

    • apa kabar Sulamadaha ?
      wah senang sekali saya mendengar perkembangan gedung Puskesmas Sulamadaha yang sudah menjadi mewah. Saya masih inget pertama kali datang kesana, terkesan sekali ketika seorang petugas setiap pagi menyapa para pasien yang datang seperti menyambut tamu.. kesannya begitu akrab, membuat nyaman pasien.
      Mudah2an juga ruang komputer sudah lebih sip lagi sehingga agak lebih tahan angin laut, bikin motherboard lebih awet hehe..
      Soal Simpus, saya sebenarnya selalu siap untuk berangkat ke sana, tentunya menunggu undangan dari Puskesmas atau DInas kEsehatan. Dinas tahun ini rencana mau mengundang tapi sepertinya batal karena berbagai hal. MUdah2an saya masih sempat ke Sulamadaha Pak, untuk menghidupkan lagi SImpus nya.
      Sekarang sudah siap modul yaang multi user, sehingga jauh lebih mudah di pakai.
      Bulan depan saya diundang dr. Bahar ke Haltim, insya Allah lewat Ternate, dan ada kesempatan untuk menengok teman2 di puskesmas Kota Ternate.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: