Ambulan Desaku Jaman Dulu…

Membaca komentar pak Agus ketika menanggapi cerita kematian bayi di tulisan terdahulu, terselip kata ANGSI, Angkutan Sayang Ibu. Ndak tau itu apakah singkatan resmi, dari mana atau oleh siapa, kebetulan saya sendiri baru mendengar dari beliau. Maklum biasanya bergaul dengan begin..end,if…then, repeat until, do while, procedure dan teman-temannya di bahasa pascal. Saya juga tidak tahu kenapa tidak disingkat ASI saja supaya paralel ngetopnya.
Istilah yang saya kenal untuk kesiapan angkutan ibu hamil adalah Ambulan Desa. Tapi apapun itu, saya jadi teringat dan mengenang kembali pekerjaan bapak ibu di kampung dulu, yang kebetulan juga tidak jauh dari kegiatan antar mengantar itu. Mohon maaf kalau cerita nanti mungkin agak nyeleweng dikit dari Simpus, tp pasti nanti ada hubungannya, kalau perlu gimana caranya ada hubungan antara Simpus dengan Ambulans Desa alias ANGSI.

Serius … kok jadi mikir mungkin perlu modul Simpus khusus, SIMPUS ANGSI… tujuan dikembangkannya adalah untuk manajemen ambulan desa, dimana data setiap ambulan desa dihubungkan dengan HPL bumil risti terdekat dari tiap wilayah kesiagaan. efeknya, kesiagaan sopir bisa di optimalkan bila terdeteksi bumil risti yang mau melahirkan, kalau perlu dilengkapi dengan perangkat GPS sehingga posisi terakhir Ambulan Desa bisa tampak di layar monitor, kemudian di sms untuk segera menjemput bumil risti di posisi sekian lintang bujur barat timur.. Ambulan berjalan dengan dituntun perangkat GPS tersebut sampai rumah bumil risti, lengkap dengan alternatif jalan pintas ke RS terdekat..hehehe malah ngelantur, tapi bisa jadi proyek gede, mudah-mudah ada yang menangkap ide ini 🙂

Langsung saja ceritanya nggih..

Alkisah.. ibu saya kebetulan seorang bidan, lulus dari Sekolah Bidan di Jebres, Solo tahun 1962, dan beliau mulai menetap sebagai bidan desa, semenjak perawan ting-ting di desa tercinta mulai tahun 1969, setelah sebelumnya bertugas di Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo. Kemudian bapak kebetulan perjaka tong-tong yang waktu itu caretaker kepala desa alias lurah sejak tahun 1969. Yang jelas daripada Bruno, desa saya lebih dekat ke tempat asal ibu di Pedan, sebelah timur Kabupaten Klaten. Nama Desaku, Kepurun, masuk wilayah kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten. Berbatasan dengan Kab. Sleman disebelah barat dan Kecamatan Kemalang disebelah utara. Waktu ibu pindah dari Bruno, suasana waktu masih dalam suasana panas, pasca peristiwa yang menggegerkan itu, dimana kondisi di wilayah saya sendiri memang benar-benar suasana perang. waktu itu banyak bidan menolak untuk ditempatkan di desa tercinta… maklum cukup terpencil, jalan jelek, daerah basis parpol tertentu, dan jangan ditanya kalau malam, sangat mencekam. Sebenarnya ibu sempat menolak ditempatkan di daerah ini. Hanya saja waktu itu terus didorong oleh saudara-saudara, kemudian juga oleh petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten, akhirnya ibu mau juga bertugas di daerah ini.

Ketika ibu pertama kali datang dan ketemu bapak, 17 Maret 1969, saat itu saja sudah cukup takut dengan suasana calon wilayah kerja, apalagi melihat sambutan dari pak lurah yang item, kecil, jelek (kata ibu), dekil (katanya ibu lagi) dan agak gaya (digagah-gagahin) ala koboi, bener2 lengkap dengan topi koboi dan menyandang pistol di pinggang (ini juga ceritanya ibu loh tapi waktu di konfirm ke bapak beliau cuma senyum bangga). Nah entah dengan jurus dan ilmu apa akhirnya pak lurah bujang akhirnya bisa meminang bu bidan lajang setelah 9 bulan… cerita romantisnya tidak perlu saya ceritakan… yang jelas sepertinya saat itu blm ada sms, email, atau kirim2an foto waktu itu, apalagi mejeng di friendster hehe.. tapi yang sangat pasti, bapak gak melamar sambil kirim puisi 🙂

Nah cerita mengerucut.. sebagai bidan, waktu itu ibu sering menghadapi kondisi dimana harus mengirim ibu hamil yang akan melahirkan dengan penyulit ke rumah sakit terdekat (dari Yogya atau Klaten jaraknya 28 km). dan mau tak mau ternyata justru konsep Desa Siaga yang sekarang di genjot dengan berbagai poster di puskesmas, sudah biasa dijalankan oleh bapak ibu (bahkan dari sebelum beliau berdua menikah). Tanpa perlu pencanangan, tanpa perlu pelatihan, sistem desa siaga bisa berjalan lancar. Penyebabnya ? Pertama, jelas ada untungnya pak lurah dapat istri bu bidan. setiap saat butuh, bisa langsung kontek, langsung berangkat. (Maaf bukan berarti menyarankan semua lurah menikahi bidan desa). Yang kedua untungnya juga, kebetulan ada kendaraan yang bisa dipakai buat mengirim ibu hamil.

Sekarang lebih fokus lagi ke kendaraannya. Jangan bayangkan bapak dulu lurah di desa terpencil terus naik gerobak (seperti ditebak Mas Edy dari Tirtomoyo I Wonogiri) atau andong untuk nganter ibu sama bumil. Alhamdulillah Bapak dulu semasa menjabat sudah membawa mobil, bisa dibilang satu-satunya di wilayah kami (makanya bisa bergaya koboi).

Mobilnya sih tampangnya amburadul, jadul, pick up lagi.. biasa untuk ngangkut beras dari sawah ke rumah. Bahkan di awal bapak datang di desa, mobil itu sering dipakai untuk mengangkut tentara operasi pemberantasan. Tapi dengan mobil itulah berpuluh ibu hamil bisa dikirim ke rumah sakit dan bisa melahirkan dengan selamat. Maaf sampai lupa memberikan info merek hehe.. Mobil bapak Dodge tahun 1954, short chasis, model pick up, kalau penggemar mobil kuno bilang (maaf) Dodge Kambing Banci karena panjang bak nya yang nanggung. Saya samar-samar masih ingat waktu kecil kalau naik mobil itu, suaranya mantap, tenaganya kuat, dan dulu anak-anak dan pemuda kampung paling senang bantu ndorong kalau pas macet, karena habis itu pasti boleh ikut naik dan jalan-jalan sampai ke kecamatan, ikut nganter menggiling padi hehe… o iya untuk menyalakan mobil itu selain dengan di putar pakai engkol dari depan adalah dengan cara di dorong.

Ini penampakan Ambulan Desa Kepurun tahun 70 an. selain sebagai ambulan juga berfungsi untuk angkutan beras, buat jalan rame-rame pemuda kampung, kadang-kadang untuk bergaya pak Lurah

Ini penampakan Ambulan Desa Kepurun tahun 70 an. selain sebagai ambulan juga berfungsi untuk angkutan beras, buat jalan rame-rame pemuda kampung, kadang-kadang untuk bergaya pak Lurah

Banyak cerita mengenai Ambulan Desa kami yang pertama itu. Sampai kemarin malam waktu ibu bercerita waktu mengirim para bumil risti itu ke rumah sakit, ibu masih ingat beberapa ibu hamil yang dikirim waktu itu, dengan kondisinya, misalnya siapa yang sungsang, ari-ari di depan, ditunggu-tunggu gak segera keluar, dan macem-macem lagi. ya memang pernah ada yang kurang beruntung sih. berhubung jabang bayi ingin segera keluar, akhirnya lahir juga di atas mobil setelah digoyang kanan kiri jalan tak beraspal. kebetulan tetangga sendiri yang mengalami itu. Waktu itu kalau mengirim bumil ke rs, bumil ditaruh diatas tempat tidur tanpa kaki (kaki tempat tidur maksudnya), tentu dengan kasur di atasnya. Kebetulan mobil itu pernah ada tutup di belakangnya, dengan terpal. nah perjalanan waktu itu karena kondisi jalan yang masih “sangat jauh dari mulus” membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke RS Tegalyoso.

Salah satu ingatan terakhir yang masih jelas saya ingat dengan mobil tercinta itu adalah tahun 1976 itu ketika diajak bapak menjemput ibu yang melahirkan adik yang paling kecil di Prambanan. Saya ingat ketika itu naik di bak belakang, ingat ketika melihat ke bawah lewat lantai kayu yang sedikit bolong, ingat melihat debu dibelakang mobil yang mengepul, ingat ketika panas menyengat kepala ditutup kain selendang sama mbah putri, ingat ketika sampai di rumah (waktu itu kami sekeluarga nebeng tinggal di BKIA yang juga sekaligus jadi kantor kelurahan) disambut orang banyak…

hiks…mengharukan sekali sodara-sodara…gak kalah dengan sinetron kita apalagi kalau ditambah sampai di rumah ibu langsung menjahit sambil menempel koyo di kening nya 😀

Wedhus Besi Amerika ini aktif sampai sekitar akhir tahun 1976, sampai akhirnya bapak jengkel dan mem pensiunkan dengan tidak hormat sang mobil gara-gara rem blong mobil hampir mencelakakan anak laki-laki satu-satunya yang tersayang, yang lagi ngetik cerita di wordpres ini hehe… Akhirnya setelah peristiwa rem blong itu, mobil diparkir di garasi di sebelah kantor BKIA (saya bisa dibilang lahir, besar, main, makan, belajar di BKIA, Pustu, Puskesmas dan Dinas Kesehatan) dan ketika kami pindah ke rumah sendiri tahun 1979, beberapa tahun kemudian mobil itu menyusul untuk ‘ndongkrok’ dengan manisnya di kebun sebelah rumah, menjadi tempat naruh kayu bakar, menjadi tempat ayam bertelur, menjadi sarang tikus, kemudian lampu-lampu ilang karena diambil buat orang nyuluh (mencari belut dengan penerang lampu karbit), dan kadang-kadang menjadi sasaran kalau saya ‘sebel’ sama bapak. Maaf bukan sebel beneran, gak sreg saja. Ada beberapa gambar ketika Wedhus Besi Amerika (logo mobil Dodge adalah kepala kambing) itu ‘menderita’

Dodge tampak dari depan di tempat semedi nya...

Dodge tampak dari depan di tempat semedi nya...

Masa-masa suram Ambulans tercinta, jadi tempat ayam bertelur dan menetaskan ayam kecil. Ya bisa dibilang ayam melahirkan sih hehe

Masa-masa suram Ambulans Desa, jadi tempat ayam bertelur dan menetaskan ayam kecil. Ya bisa dibilang ayam melahirkan sih hehe.. masih ada hubungan dengan regenerasi makhluk Tuhan.

Bayangin saja mobil bobrok kayak gitu pernah ditawarin dengan Kijang untuk di tukar, langsung sama bapak dengan santainya di tolak, dibawain duit mau bayar cash, dengan senyum dijawab lagi gak butuh.. saya jadi ingat ketika SMA, tahun 89-90an, protes keras ke bapak buat mbuang mobil itu, bikin sepet mata kata saya..sodara-sodara mendukung, apalagi mimpi bisa naik Kijang yang waktu itu mulai ngetop. Waktu itu bapak hanya bilang, nilai mobil itu gak bisa dibeli dengan uang. pfffff…. dan akhirnya 28 tahun lamanya mobil itu mendekam di kebun sebelah rumah dengan penutup seadanya.

ah supaya cerita tidak melantur kemana mana, tempo tulisan dipercepat…

Baru beberapa tahun yang lalu, entah kenapa ada rasa sayang kembali ke mobil itu. Waktu itu ada kolektor mobil kuno yang bermaksud “memelihara” (istilah para kolektor kalau mau beli mobil kuno) mobil itu. Setelah ngobrol dengan bapak, melihat sayangnya bapak dengan Si Wedhus, eh beliau malah menawarkan mesin Dodge cadangannya untuk dipasang menggatikan mesin yang sudah lama macet. Dengan dana seadanya akhirnya saya coba renovasi juga. Ternyata tetap ada kepuasan didapat dari situ meskipun renovasi akhirnya macet di tengah jalan. Harap maklum, berapa sih penghasilan programer jalanan (kadang memang mrogram di jalan) kayak saya hehe.. biaya renovasi ternyata sangat mahal dan susah. Onderdil juga gak gampang. Tapi paling tidak saya bangga, masih ingat juga ketika saya mengiringi mobil itu pulang dari bengkel, beberapa orang yang dulu pernah naik mobil itu, ikut mendorong mobil itu, datang lagi untuk melihat lihat Si Wedhus..

Si Wedhus Amrik waktu pulang kembali ke rumah..

Si Wedhus Amrik waktu pulang kembali ke rumah..dah bisa jalan sendiri...

Tahun lalu bapak dan mobil itu masih bisa beberapa kali jalan keliling desa, mencoba mesin barunya yang wusss, merasakan mentul-mentul nya per daun karena belum dikasih shock absorber… hanya beberapa kilometer saja tapi sangat berkesan. Saya ingat betapa raut muka bapak bahagia dan bangga ketika mas Herman, spesialis elektrik mobil kami (satu-satunya yang bisa dan berani menyetir mobil keliling desa) membawa bapak berjalan-jalan keliling. Bapak sempat ketemu dan menyapa orang-orang desa yang pasti juga masih ingat ketika mobil itu berjalan-jalan dengan gagahnya, menengok sawah yang dulu jadi sawah bengkok (pelungguh, atau jatah untuk digarap lurah desa). Kondisi bapak setelah serangan jantung tidak memungkinkan saya membiarkan beliau menyetir sendiri Dodge kami.

Saya bahkan sempat kebablasan dengan membayangkan bisa touring keliling puskesmas dengan Dodge Kambing itu, presentasi di dinas kesehatan, menengok Simpus, mengupgrade Simpus, melatih Simpus KIA (nah.. sekarang ketemu hubungannya…) dijamin pasti banyak mbak dokter, mbak perawat dan mbak bidan yang melirik… hehehe .. melirik kasian maksudnya, hari gini pake mobil kayak gitu…

Tapi sayang, sekarang mobil kembali mendekam (dengan agak lebih berbahagia). Tempatnya lebih baik daripada di kebun, sambil menunggu uluran tangan dermawan membawa Kijang hehehe… meskipun maaf, kalaupun ada jawaban tetap sama. Sepertinya mobil ini lebih berharga menemani kami di rumah dengan ribuan kenangan yang ada. Kalaupun Si Wedhus Amerika ini tidak (belum) bisa menemani saya ke puskesmas, sekarang ada mobil lain yang menemani, meskipun sekarang juga lagi opname di bengkel. hehe.. harap maklum, mobil tua…

Sekarang, dikejar tayang program Simpus (buat ngumpulin modal lagi ke bengkel)membuat tidak ada waktu lagi untuk nongkrongin bengkel membenahi Ambulan Desa ku ini ..

Berharap ada yang jadi donatur ... tanpa syarat hehe..

kapan bisa jadi Ambulan Desa lagi ya? .. yang sudah sih, dipesan buat takbir keliling pas lebaran, kalau jadi ...

Iklan

dan hari ini …

Jum’at 21 November 2008

acara yang sudah terencana sebenarnya gak ada beda seperti hari-hari sebelumnya.. ada puskesmas yang telpon printer di loket ngaco, ngeprint mau nya ke tengah melulu.. setelah itu melanjutkan janji ketemu pengelola simpus dan bu bidan di pelosok lereng gunung sana untuk membenahi data simpus dan mencoba memulai memasukkan data-data ke Simpus KIA.

acara pertama lancar, bahkan sangat lancar.. printer yg kemarin trobel, eh didatangi mbah dukun tersayang langsung sembuh sendiri tanpa disentuh.. berharap acara kedua lancar, segera saja menuju puskesmas berikutnya..

sampai puskesmas, jam 9 kurang 15 menit (8.45 WIB), berharap segera ketemu bu bidan, pelatihan, pulang, biar gak nabrak jumat an..eh ternyata yang dicari belum nongol semua. ditunggu bentar, ditelpon, pengelola simpus bahkan bilang gak datang ke puskesmas, titip data thok sama bu bidan.. ya udah akhirnya menanti bu bidan. jam 9.30 an, baru bu bidan manis datang dengan senyumnya (maaf kebalik, maksud saya bu bidan datang dengan senyum manisnya)…
setelah ber say hello (kalau ini tidak terbalik…) kami lantas segera ke ruang komputer untuk mulai ngadepin data. nah disitu bu bidan mulai cerita kenapa agak telat. ceritanya kurang lebih gini :
pagi-pagi dia dah dibangunin untuk menolong persalinan, yang menyedihkan, bayi nya lahir sungsang, dan sudah lahir selama 1,5 jam tanpa kehadiran bidan desa. waktu datang, kepala sang bayi masih berada di dalam sehingga sudah dalam keadaan meninggal. belum selesai menangani dan men-support si ibu, sudah ada lagi panggilan dari desa yang sama, ada kelahiran lagi yang harus di tolong, kali ini bayi bisa lahir selamat.

yang membuat saya merenung, adalah kenapa bu bidan desa yang bersangkutan bisa tidak di tempat. atau minimal bersiap-siap. alangkah baiknya kalau beliau tahu ada ibu hamil sungsang yang akan segera melahirkan (bu bidan yang menolong persalinan ini adalah bidan desa tetangga). dan siang, ketika bu bidan lapor ke kepala puskesmas, ada lagi info yang disampaikan…bumil tidak ketahuan riwayat pemeriksaan K4 nya, serta tidak punya buku KIA 😮

agak melongo serta prihatin juga mendengar bu bidan cerita. maklum biarpun anak bidan, ibu jarang bercerita kejadian seperti itu. ibu biasa cerita gimana prosedur persiapan bidan desa menghadapi bumil yang bersiap melahirkan. sering juga ibu cerita gimana ibu hapal bumil2 di seputar desa kami serta kondisi anak mereka ketika dilahirkan. ibu masih banyak ingat siapa saja anak di desa sekitar yang lahir sungsang, ibu-ibu yang hamil risti, siapa saja yang ibu kirim rujuk ke rumah sakit, dan banyak lagi. bahkan kadang2 kalau lagi jalan terus melewati satu rumah, kadang ibu beliau cerita.. “tuh dulu ibu nya melahirkan gini..anaknya gitu…” ibu kadang bercerita bagaimana terbebaninya kalau ada bumil yang belum terdata..

saya maklum, mungkin kondisi sekarang sudah banyak berbeda. tapi cerita bu bidan tadi membuat saya ikut tersentil, merenung dan melamun sesaat, apalagi ketika sesaat kemudian saya mulai mengajari beliau dan menunjukkan bagaimana satu perangkat lunak bisa membantu bidan desa dan puskesmas untuk memantau kondisi bumil di wilayah kerja. bagaimana suatu aplikasi bisa memetakan ibu hamil, menunjukkan kantong persalinan, menunjukkan kantong ibu hamil risti, bagaimana kalau konsep desa siaga dibantu dengan Simpus KIA untuk membuat persiapan dan peringatan dini bagi para bidan desa. dan lebih jauh lagi bagaimana kalau bu bidan desa bisa bekerja sama untuk saling mengingatkan dengan bu bidan lain dengan data yang ada…

senang rasanya melihat bu bidan sangat antusias melihat dan menjalankan Simpus KIA..banyak pertanyaan, banyak masukkan, dan beberapa evaluasi beliau berikan untuk Simpus KIA yang memang masih harus banyak disempurnakan. sungguh saya berharap lebih banyak lagi bidan seperti beliau, mau dan mampu mengenal Simpus KIA.

yang jelas, cerita langsung dari peristiwa pagi tadi membuat saya sadar …
bahwa saya bisa membantu bu bidan dan puskesmas melayani masyarakat dengan ilmu dan aplikasi yang saya buat, bahwa saya belum berbuat banyak dengan ilmu saya punya, bahwa masih panjang jalan yang harus saya jalani untuk itu, dan yang jelas masih banyak bu bidan yang harus saya temui..

dan hari ini saya sadar, saya belum apa-apa …

Sekilas Foto I

Liat-liat foto puskesmas, kok nemu yang ini 🙂 mudah2an segera diperbaiki, kebanggaan sebagai korps kesehatan bisa dimulai dari lambang ini..lokasi secret, waktunya juga secret. semoga sekarang sudah diperbaiki..

Bakti Husada ku, jangan sampai ambruk...

Bakti Husada ku, jangan sampai ambruk...

mohon maaf untuk puskesmas yang bersangkutan…

Perjalanan ke Tenggarong

Salah satu team Simpus Kutai Kartanegara, mas Ruly...

Salah satu team Simpus Kutai Kartanegara, mas Ruly...biar di pinggir Sungai Mahakam, tempat ini ada hot spot nya..

Untuk ke tiga (atau empat ya ?) kalinya saya berkesempatan ke Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Acara kali ini adalah melanjutkan pengembangan Simpus di Kabupaten Kutai Kartanegara dengan modul yang baru, Simpus KIA. KuKar sendiri memulai implementasi Simpus mulai tahun 2006, di mulai dengan pelatihan oleh team Simpus mulai dari dr. Kristiani, mas Agus, dan saya sendiri.

Pada implementasi awal Simpus Rawat Jalan, cukup banyak kendala yang dihadapi. Luas wilayah yang dimiliki, jarak puskesmas dengan dinas, transportasi yang berat dari puskesmas ke dinas, ketersediaan perangkat pendukung, listrik byar pet terutama di daerah pedalaman, dan terutama sistem pencatatan serta penguasaan komputer oleh SDM puskesmas yg belum cukup menjadi faktor utama penghambat implementasi Simpus. Beruntung di dinas kesehatan sudah mulai ada team yang mengelola Simpus. Team Simpus DKK KuKar sendiri sekarang dipimpin dr. Kuntiyo, dengan tenaga teknis mas Ruly, mas Rizal, pak Dayat, serta Bu Dewi…
Beberapa langkah perbaikan setelah pertemuan awal tahun 2008 sudah dilaksanakan, antara lain dengan pengadaan perangkat pendukung seperti komputer, printer, laptop, selain itu, sudah ada rencana meniadakan desktop di puskesmas, diganti dengan laptop plus solar cell untuk mengatasi masalah listrik. mulai direncanakan pula pengadaan beberapa modem untuk pengiriman data. Maklum biaya perjalanan dari puskesmas ke dinas saja bisa mencapai 1 juta untuk puskesmas yang terjauh. Bisa dihitung berapa penghematan biaya kalau saja GPRS bisa dimanfaatkan untuk kirim data. Pak Kuntiyo sendiri sudah bercerita kalau beliau sudah mencoba kontak operator selular untuk mencoba memakai sinyal yang ada untuk kirim data. Jangan bayangkan membangun menara-menara WAN seperti di beberapa daerah di Jawa, meskipun KuKar sangat mampu. Satu tongkang batubara yang lewat sungai Mahakam mungkin lebih dari cukup untuk membiayai pengembangan Simpus selama beberapa tahun hehe.. Sempat saya memberikan saran untuk membeli komputer mini, dengan prosesor intel Atom yang jauh lebih irit dan sudah cukup untuk menjalankan Simpus, terutama di proses entry data.

Dari beberapa kali menengok implementasi Simpus ke Kutai, perkembangannya sudah mulai menunjukkan hasil yang lumayan. Pelaporan yang di awal tahun hanya baru beberapa puskesmas mengirim data, akhir tahun sudah mendekati 100 %. Dinas Kesehatan sendiri lewat Mas Ruly dan Mas Rizal sangat membantu proses implementasi ini. Berdua beliau2 melayani beberapa masalah yang timbul pada implementasi Simpus, termasuk membuat jaringan komputer, memperbaiki hardware yang rusak, dan juga menghubungi saya kalau ada data yang bermasalah.

Kembali ke pelatihan kali ini, sesuai rencana diikuti oleh operator Simpus dan Bidan dari puskesmas.. Simpus KIA memang diharapkan menjadi sarana bu Bidan untuk sarana utama komputerisasi dalam mengelola data-data KIA. Tahap awal Simpus KIA adalah memperbaiki data Ibu Hamil dan proses informasi dari data yang ada, seperti pencarian data, pembuatan rekapitulasi data, dan juga membuat satu sistem peringatan dini untuk pengelola program KIA terutama dalam manajemen ibu hamil resiko tinggi.

Rencana pelatihan yang tadinya akan diadakan di Pusdatinkom akhirnya batal, karena tabrakan dengan acara lain. Lokasi dipindah di sebuah cafe di pinggiran sungai Mahakam. di daerah Seberang istilah nya pak Harto, dekat dengan kompleks stadiun baru yg kemarin di pake untuk PON. Lumayan, seumur-umur baru kali ini mengalami pelatihan di sebuah cafe, untung gak ditodong nyanyi oleh peserta hehe…Asik juga sambil pelatihan sesekali melihat perahu yang lewat…

Pelatihan dibuka oleh dr. Abdurachman, Kepala Dinas Kesehatan Kab. Kutai Kartanegara. Beliau banyak menyampaikan pentingnya pembenahan data, sistem informasi, terutama data-data KIA. banyak hal-hal yang disampaikan termasuk juga yang berkaitan dengan pengembangan Simpus di Kutai Kartanegara, pengembangan manajemen puskesmas dan beberapa hal lain termasuk tentang pembagian laptop untuk puskesmas dalam mendukung Simpus. Memang pada pelatihan kali ini juga sekaligus akan dibagikan laptop untuk puskesmas, sekaligus dipakai untuk latihan entry data KIA.

Kepala Dinas menyampaikan sambutan menjelang pelatihan, yang motret pak Arief..

Kepala Dinas menyampaikan sambutan menjelang pelatihan, yang motret pak Arief..

Berikutnya ketua Tim Simpus pak Kuntiyo juga ikut memberikan sambutan. beliau banyak menyampaikan hal yang berkaitan dengan implementasi Simpus secara teknis, termasuk beberapa rencana pengembangan ke depan. Disampaikan juga evaluasi singkat pelaksanaan Simpus beberapa bulan terakhir, termasuk juga kendala-kendala utama yang ada, serta rencana untuk mengatasi hambatan yang muncul.
Seperti biasa saya tidak memberikan sambutan 🙂

Setelah break sejenak, pelatihan langsung dimulai. Diawali dengan pengenalan beberapa format pencatatan baru untuk kunjungan KIA, kemudian diskusi untuk integrasi dengan Simpus Rawat jalan, serta beberapa masalah teknis yang mungkin nanti akan muncul dalam implementasi KIA. Banyak hal yang ditanyakan dan hal ini juga sering menjadi masalah di beberapa daerah, misalnya :
– Bagaimana misalnya ibu hamil hanya periksa satu kali di bidan desa yang bersangkutan, selanjutnya periksa kehamilan di tempat lain.
– Bagaimana misalnya ibu hamil terdata ketika umur kehamilan sudah sekian bulan
– Bagaimana misalnya ibu hamil lebih sering periksa di tempat praktek swasta
– Bagaimana misalnya ibu hamil hanya datang ke desa tertentu hanya untuk melahirkan
– Bagaimana misalnya ibu hamil periksa di puskesmas lain, atau di bidan desa lain..

masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan didiskusikan bersama. belum lagi pertanyaan, bagaimana nanti pengaruh Simpus KIA terhadap laporan cakupan data PWS…hampir semua bidan yang dilatih menanyakan hal tersebut 🙂

Peserta pelatihan Kutai Kartanegara...laptonya baru lohhh..

Peserta pelatihan Kutai Kartanegara...laptopnya baru lohhh..

Memang banyak hal yang harus dijelaskan sebelum implementasi siap dilakukan. Simpus KIA pada dasarnya adalah langkah awal untuk membenahi data-data KIA. Tahapan pertama adalah membenahi data-data ibu hamil. Ketika kita berbicara laporan, cakupan, rekapitulasi, semua berangkat dari data, untuk itulah langkah pertama adalah pembenahan data. pembenahan data dimulai dari akses ke ibu hamil. Ini yang kemarin saya tekankan ke semua peserta pelatihan.

Diskusi rampung, langsung dilanjutkan dengan acara instal menginstall program, yang langsung diteruskan dengan otak atik program. Latihan mengisikan data dilakukan langsung di laptop masing-masing. dalam proses ini pun masih ada banyak pertanyaan yang harus dijawab, misalnya
– Bagaimana kalau HPHT tidak tepat
– Bagaimana kalau data pemeriksaan kurang lengkap
– Bagaimana kalau data tidak muncul
– bahkan sampai pertanyaan yang sebenarnya sudah harus jadi kesepakatan dari jaman dulu, bagaimana kita menentukan status K1 dari temuan ibu hamil..

Secara umum, para peserta tidak menemukan kesulitan menjalankan Simpus KIA, kecuali beberapa kesalahan teknis dalam penomoran index kohort, dan juga sedikit kesalahan program yang segera saya betulkan.

Memang dari pelatihan kemarin belum muncul variabel-variabel baru sebagaimana terjadi di Kota Ternate. mungkin karena peserta belum mulai mendata ibu hamil secara langsung sehingga belum melihat apakah ada variabel baru yang perlu ditambahkan. Hal ini bisa menyusul pada pertemuan berikutnya.

Proses untuk menjalankan Simpus KIA ini tidak bakal berjalan dengan mudah. Banyak hambatan yang bakal muncul, baik dari sisi teknis maupun non teknis. Yang jelas dukungan dari Dinas Kesehatan KuKar sangat dibutuhkan untuk lebih mempercepat implementasi Simpus KIA.

Sepertinya bakal jadi perjalanan yang panjang bersama ibu-ibu bidan …

Rampung pelatihan bersama staf DKK KuKar

Rampung pelatihan bersama staf DKK KuKar

Mampir di Puskesmas Gombong II

Kamis, 30 Oktober 08, pulang dari presentasi untuk beberapa staf dinkes Purwokerto, Jawa Tengah, saya mampir ke salah satu pengguna Simpus, Puskesmas Gombong II, Kabupaten Kebumen. Beruntung ada undangan mendadak ke Purwokerto sehingga pas perjalanan pulang bisa sekalian menengok Simpus di puskesmas. Seminggu sebelum perjalanan ini saya memang sempat kontak pengelola Simpus di Gombong II untuk menanyakan ada tidak nya masalah di Simpus. Di Kebumen sendiri baru ada dua puskesmas yang menggunakan Simpus. Satu lagi adalah Puskesmas Petanahan, yang sayang sekali tidak sempat saya datangi, mudah-mudahan saja di kesempatan lain bisa menengok kesana.

Karena berangkat dari Purwokerto sudah siang, saya ditemani Uun, ponakan (yang juga sekaligus merangkap jadi body guard, maklum guedeee hehe…) yang jadi driver sampai puskesmas sekitar jam 3 sore. Beruntung Bu Eny (pengelola Simpus) tinggal di rumah dinas disamping puskesmas. Keterlambatan itu sendiri salah satunya karena harus mengganti bumper mobil yang copot gara-gara nabrak jago yang sedang berburu laron di jalan pagi hari nya…

Uun, di depan Puskesmas.. dah tutup maklum jam 3 sore.

Uun, di depan Puskesmas.. dah tutup maklum jam 3 sore.

Puskesmas Gombong II terletak di Desa Semondo, agak masuk dari jalan menuju Pantai Karangbolong, Gombong. terletak di sebelah pinggir barat kota Gombong. Puskesmas ini sudah menjalankan Simpus selama beberapa tahun, dah uniknya, pelatihan oleh Mas Agus yang di ikuti dulu hanya beberapa jam di Lab Komputer IKM. Beberapa kali saya datang ke puskesmas ini untuk upgrade maupun sekedar mampir. Biasanya untuk ke Gombong sendiri paling tidak butuh 3 jam perjalanan dari rumah.

Operasional Simpus termasuk yang paling sederhana, hanya menggunakan satu komputer utama. Beberapa kali saya menawarkan untuk mulai menggunakan Simpustu di loket, tetapi oleh Mbak Eny (saya lebih sering memanggil mbak 🙂 ) dibilang belum waktunya. Masih belum siap SDM nya kata beliau. Sementara saat ini sedang disiapkan Simpus oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen berupa Simpus yang online, multiuser. Dan saat saya lihat memang sudah ada server untuk koneksi ke dinas kesehatan, serta tower untuk antena WAN. Mungkin implementasi Simpus (nya Jojok) sudah bersiap-siap menghilang di sini kalau sistem ini sudah berjalan hehe…

bersama mbak Eny..pengelola Simpus Gombong II, pintunya sudah berteralis..

bersama mbak Eny..pengelola Simpus Gombong II, pintunya sudah berteralis..

Seperti biasa, saya langsung menuju ruang komputer untuk mengecek Simpus dan melakukan upgrade Software. Sengaja saya suruh Uun untuk mengecek data-data yang ada. Data lumayan bersih, dan belum ada keterlambatan, kecuali ada satu waktu beberapa hari data sempat ilang ketika hard disk nya jebol beberapa bulan yang lalu.
Selesai mengupgrade, saya ngobrol-ngobrol banyak dengan mbak Eny. Beliau kemudian menunjukkan satu ruangan khusus untuk mengelola dan menampilkan data-data puskesmas. Dan saya cukup senang ketika melihat beberapa tampilan grafik dan peta Simpus ikut dipajang di papan data. Banyak hal yang disampaikan untuk pengembangan Simpus, dan beberapa modul baru juga saya sampaikan untuk pertimbangan apakah puskesmas sudah siap implementasi atau belum. hanya saja mengingat sudah bakal ada Simpus baru, mungkin implementasi modul ini tidak terlaksana. Tidak mungkin rasanya ada dua simpus berjalan bersama..

Salah satu papan data di Gombong II, pake bahasa Inggris hehe...

Salah satu papan data di Gombong II, pake bahasa Inggris hehe...

Akhirnya setelah sekitar satu jam di puskesmas, kami pun pamit pulang, perjalanan masih lumayan panjang. Dan sangat terpaksa (hehe…) saya bawa beberapa bungkus Lanting yang sudah disiapkan mbak Eny untuk oleh-oleh di rumah…

matur nuwun Mbak … ditunggu pelatihan Simpus KIA nya 🙂