Selamat Tahun Baru 1430 H, 2009 M

Sedikit Catatan Akhir Tahun 2008. Tahun ini :

  1. Simpus Rawat Jalan mulai dikurangi intensitasย  penambahan-penambahannya outputnya. Saatnya lebih fokus ke modul-modul baru.
  2. Simpus KIA mulai dikembangkan, tahap pertama adalah mencoba membenahi data ibu hamil. Mudah-mudahan lancar.
  3. Beberapa puskesmas dan daerah mulai mencoba mengimplementasikan Simpus. Sepertinya acara touring masih harus terus dilakukan.
  4. Mulai mengerjakan Simpus Web Based, dengan tambahan team baru, Albert dan Roy.
  5. Beberapa daerah meninggalkan Simpus (Jojok). Daerah-daerah itu beralih ke proyek Simpus baru yang lebih canggih dan lengkap, yang memang belum bisa (dan sanggup) saya kerjakan tahun kemarin. Semoga mereka sukses :). (meskipun akhirnya beberapa puskesmas malah kembali lagi ke aplikasi Simpus jadul ini hehe). Paling tidak tujuan utama team Simpus kami, puskesmas dan daerah bisa mengenal proses komputerisasi data sudah ada hasilnya. Dan ini memang menjadi pendorong semangat team Simpus untuk mulai mengerjakan catatan no. 4.
  6. Tidak usah kembali membaca dari no. 1. Sekian.

Saya mengucapkan selamat tahun baru untuk semua rekan-rekan. Semoga tahun depan membawa kebaikan bagi kita semua. (Catatan paling penting : khusus buat saya, Jojok, semoga tahun baru di depan mendapat sesuatu yang baru…). Maaf sebaiknya tidak berkomentar… hehe…

Iklan

Mari ke Puskesmas Salam…

Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang Puskesmas Salam. Kalau pembaca blog nanya ke Omm Google tentang Puskesmas Salam, beliau akan menunjukkan ada dua puskesmas dengan nama yang sama untuk Salam, yaitu yang berada di Kota Bandung dan Puskesmas Salam Magelang. Ada lagi puskesmas Salam Babaris, di Kabupaten Tapin (atau Banjar), Prov Kalsel yang entah dimana saya belum tahu posisi GPS di derajat berapa lintang dan bujur nya ๐Ÿ˜€

Nah Puskesmas Salam yang ini ada di jalan raya Jogja-Magelang, lokasi tepatnya ada di dekat pertigaan jalan raya Salam-Ngluwar, sekitar 20 km dari kota Jogja atau kalau ada yang mau ikut saya berangkat dari rumah, kira-kira harus berjalan 45 menit menempuh jarak 26 km, dengan kecepatan kendaraan santai (slow wae kalau orang jogja bilang..). Puskesmas ini bisa dibilang rumah kedua bagi saya selama pengembangan Simpus.. Lokasi puskesmas sangat strategis, sedikit masuk ke dalam dari jalan besar, kemudian berada di daerah perbatasan dengan Propinsi DIY. Kalau saya mengajak di judul tulisan Mari ke Puskesmas Salam, bukan berarti saya mengharap pembaca sakit, terus berobat ke puskesmas Salam, tapi saya mencoba mengajak bapak ibu saudara menengok apa yang ada disana. barangkali ada hal-hal positif yang bisa dijadikan contoh untuk puskesmas yang lain.

Puskesmas Salam dari depan, sayang tertutup pagar

Puskesmas Salam dari depan, sayang tertutup pagar

Beberapa waktu yang lalu puskesmas Salam telah direnovasi dengan anggaran sebesar….. (saya gak tau, bukan bidang kerja saya hehe)..sekarang telah berdiri dengan dua lantai, megah dan cukup luas untuk menampung semua aktifitas puskesmas. Dan untungnya kemegahan gedung juga diikuti dengan peningkatan kinerja pelayanan kesehatan oleh puskesmas. Pustu yang ada sebanyak 5, dengan posyandu sebanyak (maaf lupa) di 12 desa wilayah kerja. Per hari, pasien yang berkunjung bisa mencapai 150-200 orang, bahkan hari-hari tertentu bisa lebih. banyak pasien yang berasal dari luar wilayah kerja, bahkan bisa separo lebih.

Alur data secara umum sama dengan puskesmas yang lain. kita lihat saja…

Di pintu masuk puskesmas, telah menanti satu meja informasi untuk pelayanan di luar medis. jadi kalau ada yang cari informasi tentang kebutuhan surat menyurat, tentang prosedur pengobatan, tentang administrasi lain, dapat langsung duduk dan dilayani, tanpa mengganggu proses pendaftaran di loket. pelayanan sederhana tapi sangat membantu kelancaran pendaftaran pasien. bayangkan saja kalau di loket orang antri hanya untuk minta surat, ndaftar berobat, atau konsultasi lainnya…

Meja informasi di depan pintu masuk

Meja informasi di depan pintu masuk

Untuk pelayanan Loket, dulu dipasang satu komputer untuk modul Simpustu . Komputer yang dipakai pun Pentium 1/2 hehe…hasil pengadaan komputer 10 tahun yang lalu yang untungnya masih bisa berjalan terengah engah untuk melayani pendaftaran pasien. Karena loket belum memenuhi standar keamanan, komputer ditaruh dimeja dengan roda, sehingga setelah pelayanan selesai komputer langsung didorong ke ruangan yang tertutup. Beberapa waktu yang lalu saya sudah mengganti komputer di loket dengan komputer yang lebih bagus, dilengkapi dengan PC Cloning, sehingga antrian pendaftaran dilayani dua monitor secara bersamaan. Untuk sistem antrian elektronik, belum lama ini sudah dipasang sistem antrian elektronik. (kayak di bank, kalau sudah waktunya akan dipanggil : nomer sekian sekian harap masuk ke ruang BP Umum…

Entri data pasien di loket

Entri data pasien di loket

Pencatatan pelayanan menggunakan cara yang sama dengan puskesmas lain. di Loket, pasien datang pencet nomer, terus taruh kartu pasien, selanjutnya menunggu dipanggil petugas pendaftaran. Kalau tidak bawa kartu, pencarian nomer rekam medis cukup beberapa detik menggunakan komputer. Setelah dipanggil, langsung data pasien diketik komputer Simpustu, dicarikan rekam medis nya setelah itu menunggu panggilan dari dalam. Pencarian rekam medis juga tidak membutuhkan waktu yang lama, sudah ada petugas khusus. (saya jadi inget beberapa waktu lalu masih ada juga puskesmas yang belum punya rekam medis…).

Ruang tunggu pasien, cukup nyaman dan luas..dan seperti di banyak puskesmas lain telah dilengkapi dengan TV, untuk antisipasi sapa tau ada pasien yang tidak mau ketinggalan acara sinetron. Setelah itu tinggal menunggu panggilan dari sistem antrian untuk pasien supaya masuk ke ruangan yg dituju. Selesai di periksa, duduk lagi menunggu obat.. pulang..

Ruang tunggu.

Ruang tunggu.

Data kunjungan pasien hari itu bisa langsung di kirim ke komputer Simpus di ruang lain untuk dilengkapi data diagnosis dan obatnya oleh petugas lain. Kebetulan jaringan LAN di Salam belum menghubungkan semua komputer yang ada. Simpus single user masih sangat mencukupi untuk dipakai. nah di ruang komputer itu pula kunjungan-kunjungan pasien ke Pustu, Posyandu atau Pusling juga dimasukkan ke komputer untuk kemudian digabung ke Simpus.

Komputer di ruang data..

Komputer di ruang data..

sama kan ??…

Dengan pelayanan yang bisa dibilang “standar”, Puskesmas Salam sudah mendapatkan sertifikat ISO 9001 sejak tahun 2006, dan sebagai tambahan informasi, tahun 2008 ini Puskesmas Salam mendapatkan penghargaan pelayanan prima dari Presiden SBY. Kepala Puskesmas sekarang, drg. Wahyu Wuryaningsih, M.Kes, menerima langsung di istana bersama beberapa institusi lain yang dianggap prima dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. (maaf fotonya belum boleh di publish sama yang punya hehe…).

Melatih bu bidan Salaman II

Jumat, 26 Desember 2008, dari jam 8.30 saya sudah harus menghadapi dua bidan dari puskesmas Salaman II, Kabupaten Magelang.

Puskesmas Salaman II, ternyata ikut memberikan andil dalam ekonomi rakyat..

Puskesmas Salaman II, ternyata ikut memberikan andil dalam ekonomi rakyat..

Peserta kali ini berbeda dengan pertemuan pertama bulan puasa yang lalu, dimana semua bidan hadir untuk pengenalan. Sekarang hanya Bu Nur dan Bu Wiwik, sambil sesekali Bu Nyoman sebagai bidan koordinator ikut melihat proses belajar.

Bu Wiwik dan Bu Nur

Bu Wiwik dan Bu Nur

Bu Nur dan Bu Wiwik, memang yang ditunjuk untuk tahap awal ini menguasai entry data ibu hamil, dan beliau berdua sudah siap untuk segera mulai melakukan entry data ibu hamil yang sudah dicatat sebelumnya di lembar register yang baru. Modal nya cukup mendukung, sudah ada Laptop untuk program KIA di puskesmas ini. Sangat membantu daripada rebutan komputer lain yang ada di puskesmas. Dan seperti biasa, benar-benar harus ekstra sabar melatih bu bidan..untung beliau berdua sudah agak familiar dengan laptop, meskipun ngetiknya masih jurus dua jari..

Pur ikut mendampingi pelatihan

Pur ikut mendampingi pelatihan

Simpus KIA pun diinstall, dilengkapi data, dan mulailah beliau berdua belajar memasukkan data, tentunya tidak lupa bertanya setiap ganti kotak masukkan ๐Ÿ™‚ . Awal belajar, bisa dimaklumi, 2 jam belajar mendapat 3 data hehe.. begitupun, beliau berdua sudah sangat senang melihat pemetaan kehamilan dan beberapa output awal dari Simpus KIA. Sepertinya saya optimis implementasi di Salaman II bisa lancar kalau melihat semangat bu bidan berdua.. tinggal menunggu bidan lain menimba ilmu baru ini. Setelah pelatihan selesai, bersama Bu Nyoman beliau berdua telah merencanakan langkah pembenahan dan pelatihan untuk bidan yang lain.

Selamat merayakan Natal

Saya mengucapkan selamat merayakan Natal bagi rekan-rekan, semua staf puskesmas, dan para pembaca blog ini yang merayakannya…

Kabar Team Simpus Sukoharjo

Hari Sabtu, 20 Desember 2008, setelah mundur satu minggu dari janji pertama, saya ke Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo. Seminggu yang lalu pak Didik, salah satu staf perencanaan menelpon untuk janji ketemu, sekedar ngobrol-ngobrol tentang rencana pengembangan Simpus di semua puskesmas di Sukoharjo.

Sukoharjo adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah, berlokasi disebelah selatan Kota Solo, sebelum wilayah Kabupaten Wonogiri. Puskesmas di Sukoharjo berjumlah 22, meskipun akan di’likuidasi’ menjadi 12 puskesmas, sesuai dengan SOTK yang baru. Kabupaten Sukoharjo mulai mengaplikasikan Simpus sejak tahun 2005, dan dua tahun terakhir ini Simpus sudah berjalan di hampir semua puskesmas. Dinas Kesehatan sendiri memang tidak setengah-setengah dalam mendukung Simpus, dua tahun terakhir selalu ada pengadaan komputer untuk puskesmas sehingga di tiap puskesmas sudah ada minimal dua komputer baru untuk menjalankan Simpus.

Pak Didik sengaja mengundang untuk bisa berdiskusi, pengembangan apa yang paling sesuai dengan kondisi implementasi Simpus yang sudah berjalan di Sukoharjo. Teman-teman Team Simpus saya memang sudah beberapa kali berkeliling ke semua puskesmas Sukoharjo, dan secara lugas Pak Didik meminta masukkan dari saya supaya pengembangan Simpus nanti bisa tepat dan sesuai. Menurut Pak Didik, saya lah yang bisa paling pas merencanakan pengembangan Simpus setelah dua tahun mendampingi Sukoharjo. Hehe.. benar juga sih, dan yang penting yang disampaikan dan menjadi beban buat saya pribadi adalah, bahwa beliau yakin saya gak akan macam-macam mengajukan pengembangan yang melebihi kemampuan dinas kesehatan Sukoharjo..(sstttt…dengan kata lain biar gak gede-gede ngajukan anggarannya)

Dinas Sukoharjo sendiri selama ini sangat komit dengan implementasi Simpus. Salah satu wujud nyata sesuai dengan masukkan yang saya berikan ketika pelatihan awal adalah membentuk Team Simpus DKK, dengan personel yang ringkas dan responsif. Itu saya lihat sendiri ketika pas saya datang di DKK, salah satu puskesmas menelpon kalau printer nya rusak, dan anggota team bagian hardware langsung berangkat ke TKP. Beberapa kali juga diadakan pertemuan pengelola Simpus, sehingga permasalahan yang ada bisa dianalisa bersama-sama.

Team Simpus ini terdiri dari beberapa orang :

Pak Hari

Pak Hari

Pak Hari, beliau adalah Kasubag Perencanaan (maaf kalau keliru, maklum SOTK lama gak hapal dan SOTK baru belum diresmikan). Kumis tebal dan suara beratnya cukup membuat Simpus berjalan dengan lancar.. ada hubungannya gak ?

Pak Didik, staf perencanaan, beliau yang biasa membuat perencanaan software hardware untuk Simpus. Maaf beliau masih keberatan foto gantengnya ditampilkan, takut nambah fans dan terkenal. Maklum kalau musim lelang biasa diburu teman, rekanan, sampai preman…

Pak Tri

Pak Tri

Pak Triyono, staf perencanaan, untuk merespon kendala hardaware. Rajin menelpon saya kalau ada masalah di lapangan

Mas Jumpono alias Mas Sastro

Mas Jumpono alias Mas Sastro

Pak Jumpono, outsourcing dinas kesehatan untuk urusan hardware. Nama aslinya memang itu, tapi biasa dan lebih senang dipanggil Sastro. Sepertinya untuk persiapan kalau mbak Dian bisa jadi istrinya.. Dian Sastro. Beliau sensitif (senggol sedikit langsung aktif) kalau ada panggilan puskesmas.

dan ini team numpang lewat dan numpang tampang…

Mas Jojok

Mas Jojok

Mas Jojok (harus ditulis dong, meskipun team gak resmi), jelas untuk bagian software.

Bagyo

Bagyo

Bagyo (hasil nepotisme saya, adik sepupu yang biasa blusukan ke puskesmas Sukoharjo dan daerah lain untuk upgrade Simpus).

Purwoko

Purwoko

Purwoko Edi (hasil koncoisme, tetangga di kampung yang juga biasa blusukan ke puskesmas, melirik petugas-petugas manis Simpus, untuk dilaporkan ke saya hehe…maksudnya mencari mana yang masih kurang fasih entry gitu…).

Nah dari hasil diskusi singkat kemarin beberapa masukkan yang bisa diaplikasikan untuk pengembangan Simpus Sukoharjo antara lain :

  1. Pengembangan Simpus Terpadu di Dinas Kesehatan berbasis web based, sehingga dari subdin lain bisa melihat rekapitulasi kunjungan yang dikirim dari semua puskesmas. Pelaporan sudah berjalan secara elektronik dari semua puskesmas, tinggal pengembangan lanjutan sistem pencatatan elektronik untuk format-format yang belum terangkum dalam Simpus Rawat Jalan.
  2. Pengembangan bertahap Simpus Rawat Inap untuk puskesmas perawatan.
  3. Pengembangan Simpustu di loket dengan membuat sambungan LAN langsung dengan Simpus utama. Saat ini baru ada 3 puskesmas yang melakukan ini. Paling tidak sebagai persiapan kalau di waktu mendatang Sukoharjo mulai memasang Simpus Online untuk setiap ruangan.
  4. Mulai mengenalkan Simpus KIA, supaya semua bidan sesegera mungkin mengenal sistem komputerisasi data KIA.

Selain itu saya sempat menyampaikan usulan untuk melengkapi semua puskesmas dengan modem GSM atau modem biasa, supaya puskesmas mulai mengenal internet untuk mengirim pelaporan secara online. Pak Didik masih mempertimbangkan usul itu. Mungkin pembaca heran kenapa saya tidak mengusulkan pembangunan tower-tower Wave LAN, seperti yang dilakukan daerah-daerah lain. Terus terang saya sendiri kurang sreg dengan ‘balapan’ pembuatan tower2 itu. Masih banyak hal lain yang lebih penting dibenahi dalam Simpus/SIK dan lebih bermanfaat untuk puskesmas sebelum membangun tower tersebut. Sayang sekali rasanya kalau puskesmas yang belum siap sistem online mendapat jatah pembangunan tower. Hasil berkeliling puskesmas di beberapa daerah membuat saya yakin akan hal itu. Saya pernah mendengar guyon seorang teman, jangan-jangan jaringan itu dipake untuk main Game Online antar puskesmas pas Agustusan hehe… ๐Ÿ™‚

Secara kebetulan, pagi itu saya ketemu salah satu kepala puskesmas, dr. Indarto dari Sukoharjo I. Wawancara dan diskusi ringan pun ikut terjadi dengan kehadiran beliau. Menurut beliau, ada beberapa permasalahan yang masih ditemui di puskesmas, dan hampir semuanya adalah masalah non teknis. Simpus belum bisa dimanfaatkan seperti harapan dari Dinas dan Puskesmas. Beberapa permasalahan implementasi Simpus yang beliau sampaikan antara lain :

  1. Penguasaan SDM masih kurang. Banyak staf cepat dan lancar entry tapi kurang memanfaatkan data. Mungkin belum bisa seperti puskesmas Wonogiri yang (menurut Bu Ary, petugas Simpus Wonogiri I) hampir 80% data sudah mengacu ke Simpus.
  2. Kurangnya komitmen dari petugas. Menurut beliau pekerjaan yang ada di puskesmas rangkap-rangkap, dan seorang staf bisa mempunyai banyak pekerjaan. Dan seperti biasa kalau saya menemui masalah ini,saya segera bertanya, “Wah kalau gitu semua staf saking sibuknya pulang jam 14.00 ya pak?” dan seperti biasa juga, jawaban yang sering saya dapat ,”Ndak juga mas Jojok”. Pak In menjawab sambil senyum simpul. Hehe… silahkan menafsirkan sendiri…
  3. Dinas Kesehatan belum punya mainstream yang jelas tentang Simpus. menurutnya setelah ada simpus harusnya dinas tidak menuntut laporan-laporan yang lain yang dilakukan secara manual. Hal itu memang saya amin i, dan saya sampaikan kalau memang Simpus masih dalam tahap awal, pembenahan program pelayanan rawat jalan. Ke depan memang diharapkan sebagian besar pelaporan bisa dilaksanakan melalui Simpus.

Pada akhirnya, memang masalah Simpus bukan hanya sekedar beli software dan pelatihan lalu jalan. Banyak hal-hal lain yang harus ikut dibenahi supaya Simpus bisa berjalan dengan baik. Dan yang paling penting memang menanamkan ‘Budaya Simpus’ di semua staf puskesmas..

Catatan pendek dari perjalanan panjang Grobogan-Blora-Boyolali

Istirahat dua hari setelah ke Kaliangkrik, Kamis pagi saya berangkat menuju Blora. Tujuan utama adalah ke Puskesmas Tunjungan, Jiken, dan Sambong di Blora, untuk membenahi Simpus dan mulai mengenalkan Simpus KIA kepada bidan-bidan desa. Seperti biasa kalau dalam perjalanan melewati daerah lain pengguna Simpus, saya mampir ke puskesmas di wilayah Kota Grobogan, Puskesmas Purwodadi I.

Seragam wajib perjalanan

Nampang sebentar di perjalanan.

Berangkat jam 5.00 ba’da Subuh, jam 8.15, saya sudah sampai di PKM Purwodadi I, dan sungguh sangat beruntung ternyata saya bisa langsung ketemu dengan kepala Puskesmas, dr. Bambang, untuk ngobrol masalah Simpus. Ternyata Kamis kemarin puskesmas sudah ada rencana pertemuan semua staf puskesmas untuk mulai sosialisasi sistem jaringan komputer yang akan dibangun. Tanpa saya tahu, dr. Bambang sudah mempersiapkan Simpus Online (Simpus single user sebetulnya belum mulai di aplikasikan). Itulah kenapa merasa saya sangat beruntung, bisa ketemu pada hari yang tepat, sayang rencana pertemuan jam 11, padahal jam 10 sudah ada janji di Tunjungan. Rencana mampir yang hanya beberapa menit akhirnya molor hampir satu jam lebih, karena diskusi panjang lebar dengan dr. Bambang yang ditemani Mas Pur, penanggung jawab pengembangan Simpus. Yang jelas, sangat senang melihat semangat dari puskesmas untuk membenahi Simpus nya. Bahkan saat ini saja sudah diadakan 6 komputer baru untuk mendukung Simpus nanti. Diskusi berakhir dengan janji pelatihan Simpus KIA dan pengenalan Simpus Web Based minggu depan. Beberapa rencana disiapkan, termasuk untuk melibatkan dinas kesehatan dan pemda supaya lebih memperhatikan pengembangan Simpus. Selain itu, dr. Bambang juga setuju untuk pengembangan Simpus yang bertahap, tidak langsung ke web based, maklum banyak langkah awal dan budaya baru yang harus dikenalkan lebih dulu ke semua staf, budaya Simpus (ada istilah baru nih, besok mudah2an bisa saya uraikan pemahaman budaya baru ini, sapa tau bisa dapat jadi bahan diskusi).

Mengejar waktu, saya segera bergegas ke Tunjungan, dan beruntunglah sebagian besar jalan Purwodadi-Blora sudah lumayan mulus, sehingga motor bisa dipacu (seperti biasa hehe…jangan lakukan ini di rumah Anda) hingga 90-100 km/jam. Letak PKM Tunjungan ini pinggiran kota Blora ke arah kiri kurang lebih 5 km. Sampai Tunjungan, molor 15 menit dari waktu yang dijanjikan. Segera saja setelah ngobrol dan istirahat sebentar, beberapa bu bidan dikumpulkan untuk mulai mengenal dan menjalankan Simpus KIA. dr. Mardiah, Kapus PKM Tunjungan menemani dan ikut berdiskusi beberapa saat. Untung sudah ada bu bidan yang cukup lancar mengoperasikan komputer sehingga pelatihan berlangsung dengan cepat, 2 jam an..

Malam itu saya menginap di Blora, mengisi waktu dengan ketemu teman SMA, serta mampir ke kediaman salah satu kepala puskesmas yang sedang bekerja keras dalam implementasi awal Simpusnya. Ngobrol ngalor ngidul soal kendala dari soal SDM, kendala perangkat komputer yang sering rewel, sampai kendala di tingkat dinas yang belum sepakat mengenai Simpus yang akan dipakai di Blora. Banyak hal dan informasi baru yang membuat saya makin sadar, betapa panjang dan berat perjalanan Simpus nanti di wilayah ini..

Pagi hari berhubung hari Jumat, saya pun langsung menuju ke Puskesmas Sambong. Jalan Blora-Sambong yang melewati hutan jati, sangat sayang untuk dilewatkan sambil ngebut. Lokasi PKM berada 7 km menjelang kota Cepu. Puskesmas Sambong baru beberapa bulan ini mulai mengimplementasikan Simpus. Implementasi lumayan lancar, bahkan langsung mengaplikasikan Simpustu di loket untuk pendaftaran. Beberapa minggu yang lalu memang dr. Yani, Kapus Sambong telpon kalau Simpus bermasalah. Sampai PKM Sambong, belum ada staf yang datang, maklum masih jam 7.30 an. Untung tidak lama dr. Yani sudah datang sehingga bisa langsung membenahi Simpus. Kerusakan yang terjadi ternyata di monitor loket yang rusak dan kabel LAN yang tidak terhubung. Untuk sementara saya berikan cara-cara upload data menggunakan flash disk sambil menunggu perbaikan kabel.

Selesai Sambong, tujuan berikutnya adalah PKM Jiken. Kali ini saya kembali ke arah Blora, karena letaknya memang 10 km dari arah Blora. Agenda yang direncanakan adalah mengenalkan Simpus KIA dan mencoba untuk memulai proses implementasi nya di puskesmas. Sengaja beberapa bidan dipanggil bu Pinti, Kapus Jiken untuk melihat dan berdiskusi. Simpus sudah mulai berjalan di Puskesmas Jiken, meskipun kendala yang ditemui juga sering muncul, terutama dari perangkat yang sangat sering rusak. Belum lagi komputer yang juga dipakai untuk keperluan lain sehingga kadang file ada yg tidak sengaja hilang atau kemasukkan virus. PKM Jiken hampir berbarengan dengan Sambong ketika memulai Simpus.

Selepas Sholat Jumat, saya langsung pulang sekaligus mampir menuju Puskesmas Karangrayung di Kabupaten Grobogan. Jaraknya lumayan dari Blora, hampir 80 km. Butuh waktu hampir 2 jam sebelum sampai di Karangrayung sekitar 14.30. PKM ini juga bersiap-siap mengimplementasikan Simpus. Yang saya kerjakan hanya mengupgrade Simpus dengan program terbaru, serta memberikan beberapa masukkan untuk Mas Zainuri, pengelola Simpus. Cukup lama juga mengobrol sambil cerita ngalor-ngidul tentang Simpus dan kendala-kendala yang akan dihadapi, termasuk beberapa cara praktis dalam implementasi Simpus. Untunglah Mas Zain sudah sangat mahir menggunakan komputer, sehingga dengan sedikit penjelasan beliau sudah bisa mengerti.

Setelah sholat Ashar dan menyelesaikan semua pekerjaan, pukul 16.00 akhirnya saya segera pamit untuk langsung pulang. Maklum agak takut juga kalau kemalaman di jalan. Perjalanan pulang kali ini langsung melewati jalur Juwangi-Karanggede-Boyolali. Dan untung perhitungan saya tepat. Sekitar jam 5, ketika mulai melintasi wilayah hutan di Juwangi-Kemusu, hujan mulai turun dan jalan yang rusak berat itu mulai sepi dari pengendara kendaraan bermotor. Meskipun hujan tidak deras, cukup membuat pontang panting juga sepanjang puluhan kilometer menghindari kubangan air di sepanjang jalan. Saya membayangkan kalau saja kemalaman di daerah ini mungkin mending balik kanan kemudian nginep di Grobogan. Jalan mulai kembali mulus setelah sampai Desa Guwo, wilayah Kecamatan Kemusu, Boyolali. Dan kecepatan pun mulai bisa dinaikkan sampai di PKM Wonosegoro.

Di puskesmas ini, karena saya inget pengelola Simpus lama tinggal di dekat puskesmas, saya pun mampir untuk silaturahmi dan menanyakan perkembangan Simpus. Pak Giatmo, staf sepuh yang dulu sangat rajin entry itu, kaget melihat kehadiran saya yang tak diundang. Dengan kondisi penuh dengan lumpur di sekujur motor, rambut acak2an, tampang dekil dan kucel karena seharian naik motor ratusan kilo.. saya maklum kekagetan beliau karena memang saya singgah tanpa memberitahu terlebih dahulu. Dan kami pun segera ngobrol banyak di warung sebelah puskesmas untuk membahas Simpus yang (sayangnya… ๐Ÿ˜ฆ ) macet. Pak Giatmo kemudian bercerita banyak betapa susahnya petugas entry yang baru untuk menjalankan Simpus. Belum lagi pergantian kapus yang baru yang belum sempat untuk mengadakan pembenahan dan koordinasi internal puskesmas.

Segar juga istirahat sambil minum teh panas plus tahu goreng (saya lupakan dulu tenggorokkan yang masih sakit…). Saya pun memberikan beberapa masukkan supaya Simpus bisa di jalankan lagi. Terus terang untuk mengharapkan Pak Giatmo entry juga berat, karena sudah sepuh dan pekerjaan beliau memang sudah rangkap. Mudah2an saja kendala yang ada (non teknis sekali…) bisa di atasi, sempat ditawari menginap di PKM Perawatan ini, serta mandi, tapi berhubung sekalian badan kotor dan berharap mandi air panas di rumah, saya terpaksa menolak tawaran Pak Giatmo.

Maghrib, saya pun segera pamit dan menuju rumah. Sampai di rumah sekitar jam 8 malam, niat langsung mandi air panas terpaksa di tunda gara-gara harus air panas sudah dipakai untuk mandi terlebih dahulu oleh adik..pingin segera istirahat karena hari Sabtu sudah ditunggu di Dinkes Sukoharjo untuk ngobrol pengembangan Simpus dengan Pak Agus, Pak Didik dan kawan-kawan team Simpus Sukoharjo.

Yang jelas ada beberapa catatan penting dari 2 hari perjalanan ini :

  1. Komitmen dan semangat Simpus memang berbeda beda di antara puskesmas, baik dari kepala puskesmas, staf puskesmas, dan juga dari dinas kesehatan. Kondisi SDM yang kurang ideal memang kurang mendukung. Saya maklum karena memang itulah kondisi yang sering saya temui di sebagian besar puskesmas yang saya datangi, apalagi di awal-awal implementasi Simpus.
  2. Peran dan semangat kepala puskesmas, benar-benar sangat dibutuhkan untuk menjalankan Simpus. Sangat jarang saya temukan puskesmas bisa menjalankan Simpus dengan baik ketika kepala puskesmas nya kurang peduli untuk mengembangkan Simpus. Terus terang saya sangat senang kalau Simpus itu sudah merupakan satu kebutuhan yang harus ada di puskesmas. Rasa butuh akan membuat Simpus berjalan dengan sendirinya. Hanya saja saya harus menunggu agak lama untuk mewujudkan itu. Saya bisa maklum, pekerjaan kepala puskesmas memang berat.
  3. Keterlibatan dinas kesehatan, juga ditunggu oleh puskesmas, paling tidak supaya ada rasa kewajiban untuk menjalankan Simpus. Saya juga maklum, karena pekerjaan dinas kesehatan juga banyak.
  4. 2 hari ini saya menempuh 461 km…, cukuplah untuk latihan tour, sapa tahu besok suatu saat bisa muter dengan Harley besok.. hehe.

Siap !!! …………..

Minggu ini, acara dimulai dengan menengok puskesmas Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Untuk informasi, mungkin ada yang belum tahu lokasi wilayah ini, Kaliangkrik terletak di lereng Gunung Sumbing sebelah timur, dari kota Magelang ke arah barat. Berbatasan dengan Kecamatan Kajoran di sebelah selatan, Kecamatan Bandongan sebelah timur, Kabupaten Wonosobo sebelah barat, dan Kecamatan Windusari di sebelah utara. Terletak di lereng gunung membuat pemandangan sepanjang jalan lumayan bagus, terutama buat penggemar acara jalan-jalan. Sangat tidak disarankan untuk naik sepeda, menyenangkan waktu turun, ngos-ngosan waktu naik.

Sebagai salah satu puskesmas di Kabupaten Magelang, Puskesmas Kaliangkrik telah beberapa tahun mengimplementasikan Simpus. Tidak selalu lancar, tetapi cukup untuk membuat beberapa pengolahan data pasien menjadi lebih mudah. Letaknya yang dekat pasar Kaliangkrik juga membuat kunjungan pasien ke puskesmas ini lumayan banyak.

Kedatangan saya sendiri ke puskesmas setelah sebelumnya dihubungi petugas Simpus lama, mbak Eni, dan mbak Nida, petugas Simpus yang sekarang, untuk mulai memanfaatkan lagi implementasi Simpustu di loket pendaftaran. Sebenarnya sudah lama disediakan kabel dan komputer di ruangan loket, hanya saja pemanfaatannya belum maksimal untuk pendaftaran. Dan Mbak Eny, Mbak Nida serta staf loket mulai berniat untuk kembali menggunakan komputer yang tersedia.

Musim hujan yang memang sudah datang membuat cuaca cukup mendung, berangkat pagi, hujan yang turun membuat saya mulai memakai mantel hujan sejak melintasi kota Pakem. Perjalanan sangat lambat, hanya di kisaran 50 km/jam. Jalan basah plus mata yang agak ngantuk setelah semalam tidak tidur blas membaca kisah Nagasasra Sabukinten nya S.H Mintarja, membuat saya tidak berani ngebut seperti biasanya. Setelah sebelumnya mengantar orang yang bertugas menemani bapak pulang ke rumahnya di Windusari, saya pun langsung ke puskesmas. Pas ketika beberapa ratus meter sebelum puskesmas, hujan pun kembali datang. Untung tidak begitu deras. Dan kali ini, kedatangan saya disambut oleh suara seorang pasien yang dengan tegasnya menyapa.. “Siap…”, bahkan dilanjut dengan tiupan peluit yang dibawanya. Lumayan kaget juga. Baru kali ini seorang dengan mengenakan sepatu boot, kemudian topi hansip, menyambut kedatangan seorang Jojok.

Langsung seperti biasa saya masuk ke ruang komputer nyari mbak Eny. Hanya saja kebetulan beliau sedang ke posyandu sehingga otak-atik komputer selanjutnya ditemani mbak Nida. Eh tak tahunya bapak yang tadi menyambut saya menyusul ke ruangan komputer untuk menyalami dan menyapa dengan ramah “Mari pak mendaftar”. Saya hanya bengong dan menyambut salam beliau dengan tersenyum. Si Bapak langsung kembali ke ruang depan puskesmas dan ngobrol ditemani seorang staf puskesmas, sambil sekali-sekali berteriak “Siap….”. Mungkin melihat saya terbengong-bengong, mbak Nida bilang “Maaf mas.. itu bapak ada gangguan jiwa”. Oalahhhhh.. tiwas GeEr disambut sempritan peluit mantan tentara …ceritanya (dari staf puskesmas yang menemani beliau ngobrol ngalor ngidul) beliau pernah latihan terjun payung kemudian nyangkut di pohon selama beberapa hari, mungkin karena depresi atau karena hal yang lain, beliau mendapat masalah itu. Saya hanya bisa bilang “Kasihan ya pak …”. untung beliau tidak sampai mengganggu orang lain, hanya kadang-kadang menunjuk petugas puskesmas kemudian bilang “Itu istri saya…” Mbak Nida cerita itu sambil senyum kecut…

MBak Nida, petugas Simpus Kaliangkrik

MBak Nida, petugas Simpus Kaliangkrik

kembali ke Simpus …
Pelaksanaan Simpus di PKM Kaliangkrik ditunjang dengan dua komputer, satu di loket, satu lagi di ruang komputer yang dipakai oleh mbak Nida entry data. Jalur data pun biasa saja, resep/lembar registrasi dari luar gedung diserahkan ke mbak Nida untuk kemudian di entry. Untunglah hal ini sudah berjalan dengan lancar, proses penyerahan juga jarang terlambat, apalagi sudah ada kesepakatan dengan semua petugas medis tentang aturan serah terima resep.

Aturan serah terima register luar gedung. Memang harus tertib.

Aturan serah terima register luar gedung. Memang harus tertib.

Resep dalam gedung juga langsung di entry di ruang komputer, tetapi dengan dipasangnya kabel Simpustu ke Simpus, diharapkan entry data puskesmas induk bisa langsung dilakukan di loket pendaftaran.

Loket PM Kaliangkrik

Loket PM Kaliangkrik

Siang, sambil menunggu hujan reda, ternyata Bu Supiyati, Bidan Koordinator hadir di puskesmas. Mumpung beliau pas longgar, acara pelatihan dadakan untuk Simpus KIA pun langsung dilakukan. Beberapa tampilan dan output sempat diperlihatkan sehingga bu Supiyati bisa langsung mendapat gambaran kira-kira apa yang akan dilaksanakan dengan Simpus KIA. dan seperti biasa pertanyaan dan pernyataan beliau juga tidak jauh dari masalah apakah cakupan nanti akan terpengaruh dengan Simpus KIA ini, bagaimana data harus direkap, bagaimana data luar gedung nanti masuk.. Rame juga ngobrol dengan beliau, apalagi ternyata beliau juga kenal dengan beberapa teman lama ibu saya sesama bidan di Klaten. O iya, di puskesmas ini saya juga ketemu dengan salah satu putri almarhum teman sekolah ibu saya. Dulu waktu pertama kali mulai mendampingi Magelang dalam pelaksanaan Simpus, saya sempat cerita ke ibu kalau sudah jalan-jalan sampai daerah Kajoran, Kaliangkrik. Ibu titip untuk mencari teman lama di Sekolah Bidan dulu, Bu Saidah. dan ternyata beliau memang bertugas di Puskesmas Kajoran, sedang putrinya staf di puskesmas Kaliangkrik. Hanya saja Bu Saidah sudah wafat beberapa tahun yang lalu.

Kantong Persalinan, lengkap, besar ...

Kantong Persalinan, lengkap, besar ...

Hujan yang memang sepertinya lama berhenti akhirnya membuat saya memutuskan tetap pulang memakai mantel hujan. Maklum siang itu saya ada janji ke Jogja untuk mengevaluasi Simpus Web Based yang sedang digarap Albert dan Roy. Sayang, acara gagal. Gara-gara tidak pakai mantel yang model baju-celana, mantel model konvensional tidak memberi perlindungan maksimal kalau dipakai naik motor laki membuat celana panjang saya ikut basah sampai di bagian atas. Akhirnya saya pun langsung pulang, daripada nanti ada acara kerokkan..

Gara-gara basah dan kedinginan itu pula, plus mata kecapean membaca Nagasasra Sabukinten, dua hari badan jadi gak enak, sehingga rencana Selasa pagi ke Blora pun akhirnya saya batalkan. Mundur Kamis besok baru akan berangkat menengok puskesmas di sana. Dua hari pun akhirnya bisa dimanfaatkan ke Jogja untuk diskusi ringan dengan Albert dan Roy.

Sepertinya memang saya harus ndengerin kalau Ibu atau Bu Kris sering bilang “Jok… Eman-emanen awakmu” ๐Ÿ™‚ (terjemahannya : sayangilah body eh … badanmu…)

Siaaaapppp… laksanakan bu… !!!