(cerita formil dari) Pertemuan Evaluasi Simpus Propinsi Kalimantan Selatan

Beberapa hari yang lalu, 2-4 Desember 2008, saya diundang untuk melakukan evaluasi pelaksanaan Uji Coba tahap ketiga Simpus di Kalsel. Pertemuan ini adalah yang ke-empat dalam dua tahun terakhir, dan merupakan salah satu tahapan persiapan untuk implementasi Simpus(nya Jojok) secara menyeluruh di Propinsi Kalsel. Tahapan persiapan sendiri direncanakan berlangsung selama 5 tahun, dengan melakukan berbagai persiapan dan kegiatan yang diharapkan benar-benar menjadi landasan yang mantap untuk pelaksanaan Simpus.

Proses implementasi yang saya lakukan selama ini memang lebih banyak berlangsung untuk tingkat Puskesmas, atau paling banter tingkat kabupaten. Baru dari pertemuan kemarin setelah dr. Syafril dari Subdin Yankes Propinsi Kalsel memberikan materi di hari pertama, saya bisa mendapat satu gambaran dari yang namanya Proses dan Pentahapan dalam tingkat pengambil kebijakan secara makro (di tingkat propinsi). Selain itu saya jadi banyak belajar perlunya langkah-langkah awal yang harus disiapkan supaya suatu program ataupun kegiatan tidak menjadi hal yang bersifat dadakan ataupun sekedar buang-buang tenaga dan uang. Banyak pelajaran berharga untuk dipetik..

dr. Syafril menyampaikan tahapan implementasi Simpus

dr. Syafril menyampaikan tahapan implementasi Simpus

Menurut pak Syafril, Dinkes Propinsi sendiri telah melakukan langkah-langkah persiapan semenjak beberapa tahun yang lalu. proses yang harus dilalui antara lain (saya ringkas saja, maklum panjang banget) :

  • Sosialisasi Awal, dimana dalam proses ini melibatkan pihak mulai dari puskesmas, dinkes kabupaten sampai dinkes propinsi. dalam proses ini mulai disosialisasikan perlunya pengembangan sistem informasi berbasis teknologi informasi, kondisi yang ada serta ke depan kondisi ideal yang ingin dicapai.
  • Pembuatan model, atau mencari model yang bisa dipakai di Propinsi Kalsel. pada pentahapan ini dinkes mulai mencari model yang sesuai dengan kondisi wilayah Kalsel. Beberapa kandidat software mulai dari tingkat nasional, Simpus dari kabupaten lain, sampai Simpus tingkat individual menjadi bahan awal pertimbangan. Pada tahap ini juga mulai ditentukan software yang akan dipakai, dan kebetulan yang terpilih adalah Simpus saya. Model single user relatif bisa diaplikasikan di puskesmas-puskesmas di Propinsi Kalsel, dengan mengingat kondisi infrastruktur yang ada.
  • Uji coba tahap I, tahap ini adalah dimana calon user mulai dikenalkan dengan software. Saya dan mas Agus, mulai terlibat langsung dalam uji coba ini tahun Desember 2006, ketika pertama kali nya memberikan pelatihan ke beberapa perwakilan puskesmas se Propinsi Kalsel.Waktu itu tiap kabupaten mengirimkan 4 puskesmas sebagai tempat uji coba.
  • Evaluasi tahap I, untuk melihat hasil dari masing-masing kabupaten.
  • Uji coba tahap II, kali ini langsung dicoba implementasi pada tingkat kabupaten dan kota, sebagai perwakilan, dipilih Kabupaten Tanah Laut dan Kota Banjarbaru sebagai lahan ujicoba aplikasi.
  • Evaluasi tahap II, yang sekarang dilaksanakan.
  • Uji Coba tahap III, yang akan dilaksanakan, direncanakan tahun 2009, dilakukan penguatan di dua daerah ditambah Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang sejak tahun 2004 sudah melakukan implementasi Simpus meskipun belum lancar 100%. pada tahap ini mulai dilakukan proses pelaporan melalui file, serta penyajian informasi berupa pemetaan di tiga daerah tersebut.
  • Evaluasi tahap III, mudah-mudahan bisa berlangsung tahun 2009, untuk melihat : Kelemahan Sistem, Kebutuhan Informasi, serta Kebijakan Sistem.
  • Advokasi, diharapkan setelah melihat gambaran dari hasil implementasi tahap III, bisa dilakukan advokasi ke pihak2 terkait misal Dinas Kabupaten Propinsi, DPRD, Pemda, maupun LSM, untuk menggalang dukungan dan juga membuat payung hukum pelaksanaan implementasi Simpus di Propinsi Kalsel. (Saya jadi ingat tulisan dr. Agus Probolinggo, dimana justru dari awal proses sudah disediakan dulu payung hukumnya.. entah mana yang lebih tepat)
  • Penetapan resmi aplikasi Simpus. pada proses inilah Simpus diharapkan bisa dijalankan secara penuh diseluruh wilayah kerja Dinkes Propinsi ke depan, akan selalu dilaksanakan evaluasi, perawatan dan pengembangan Simpus serta variabel-variabel pendukungnya. Kegiatan yang akan dilakukan antara lain : peningkatan SDM, penyediaan Hardware, penyediaan dan peningkatan software dan terakhir
  • Terus menerus melakukan pemeliharaan dan pengembangan modul-modul program.

memang dengan adanya otonomi daerah, hal tersebut tidak mudah dilaksanakan. bagaimanapun juga Dinkes Kabupaten juga bisa melakukan sendiri pengembangan Simpus seperti yang dilakukan oleh Kabupaten Barito Kuala. Dinkes Propinsi seperti disampaikan dr. Syafril tidak bisa memaksa pemakaian Simpus yang sama di seluruh propinsi. masih terbuka kemungkinan pengembangan lain yang dilaksanakan oleh masing-masing pihak.

Acara hari itu juga diisi oleh pembawa materi dari Kalsel, yaitu dari Puskesmas Kertak Hanyar, yang menyampaikan materi tentang customer service dan Puskesmas Pelaihari, yang baru saja mendapat penghargaan presiden untuk pelayanan publik.

Setelah dua presenter Kalsel, saya langsung menyampaikan evaluasi Simpus II, dimana inilah dua daerah yang telah uji coba Simpus menyampaikan apa yang menjadi kendala selama proses Uji Coba. Sesi yang langsung saya moderatori itu menampilkan ujicoba Simpus di dua dinas kesehatan.

Kesempatan pertama disampaikan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Laut. Beberapa kendala selama uji coba disampaikan oleh Bu Eko Subiyanti. Beliau menyampaikan uji coba di 16 puskesmas belum bisa berjalan maksimal, beberapa kendala yang ada :

  • petugas tidak disiplin dalam penulisan lembar registrasi
  • penomoran index belum tertata
  • belum ada ruang / komputer khusus Simpus. komputer masih dipakai bersama program lain. (masih untung bu, di tempat lain sering bentrok dengan program paling populer di puskesmas… Zuma. Game inilah yang memang paling sering saya temui sedang dimainkan oleh staf puskesmas).
  • keluaran LPLPO yg belum sesuai, hal ini terjadi karena entry obat belum valid
  • belum ada nya insentif untuk petugas Simpus.
  • kekurangan perangkat keras di beberapa puskesmas sehingga Simpus susah dilaksanakan.
  • belum adanya Simpus Kabupaten sehingga puskesmas belum terpacu untuk implementasi Simpus. (memang pada pertemuan ini baru akan dikenalkan Simpus Terpadu Kabupaten)

Kesempatan berikut dari Dinkes Kota Banjarbaru. Secara umum disampaikan kendala implementasi Simpus yang hampir sama dengan kondisi pada Kabupaten Tanah Laut. Pertemuan hari itupun diakhiri dengan membahas secara singkat beberapa kendala yang ada dan beberapa solusi singkat. Jatah waktu pembahasan juga sudah mepet, karena acara sudah terpotong sambutan yang lumayan panjang waktu pembukaan🙂

Presentasi wakil Dinkes Tanah Laut dan Dinkes Kota Banjarbaru

Presentasi wakil Dinkes Tanah Laut dan Dinkes Kota Banjarbaru

Malam hari, beberapa peserta menyempatkan diri untuk pelatihan langsung secara teknis tentang Simpus. Acara di luar acara resmi ini berlangsung santai dan akrab. Pada kesempatan inilah saya bisa melihat langsung Simpus dari Kabupaten Barito Kuala yang saya mendengar telah mengembangkan sendiri Simpus nya, SimpusBaku. dan ternyata, Ciluk Baaaaaaaaa… (maaf saya lupa tidak ada kata Ciluk Ba di dunia formil)… 110% (ini bukan meniru angka Cakupan KIA yang muncul dari bu Bidan) sama dengan Simpus saya hehehe… 110% karena SimpusBaku lebih canggih dan lengkap, dengan beberapa variabel tambahan. Berkonsep multiuser, dengan pemograman Delphi dan database Firebird, persis sama dengan rencana pengembangan lanjut Simpus saya yg juga akan menggunakan Firebird hehe.. mungkin tentang ini akan saya buat postingan tersendiri setelah cerita “formil” ini. Hanya saja rencana ini mungkin saya hentikan, sudah ada yang lebih dahulu membantu mengembangkannya🙂

Mbak-mbak dari Pelaihari (maaf kalau salah) tidak ketinggalan membawa notebook pink nya berlatih malam hari...

Mbak-mbak dari Pelaihari (maaf kalau salah) tidak ketinggalan membawa notebook pink nya berlatih malam hari...

Hari berikutnya, dari pagi sampai siang acaranya pembahasan permasalahan yang sudah disampaikan sebelumnya. Kali ini sebelum saya menanggapi dan memberikan masukkan, Puskesmas Guntung Payung dari Kota Banjarbaru mempresentasikan Simpus yang sudah berjalan di tingkat puskemas. Disampaikan data-data, keluaran serta beberapa permasalahan yang ada. Pada kesempatan itulah saya langsung memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan dari sebagian peserta untuk implementasi simpus yang optimal.

)

Omm Jojok pidato ...🙂

Petugas Simpus Guntung Payung memberikan pengalaman implementasi Simpus.

Petugas Simpus Guntung Payung memberikan pengalaman implementasi Simpus.

Mumpung ada data puskesmas yang nyata, saya langsung menyinggung beberapa masalah yang sangat teknis, dilanjutkan dengan demo bagaimana cara-cara upgrade simpus, melakukan maintenance data simpus, cleaning data simpus dan akhirnya cara pelaporan dengan flash disk ke Simpus Terpadu. Berikutnya ditampilkan cara-cara upload data di tingkat dinas, serta data-data apa yang bisa ditampilkan dari proses tersebut. termasuk sampai ke proses pemetaan data yang sudah masuk. Senang melihat para peserta antusias dengan proses real yang memang baru sekarang bisa langsung di perlihatkan ke peserta. Memang pada pertemuan inilah oleh pak Syafril baru akan dikenalkan Simpus Terpadu tingkat dinas kesehatan, sehingga beberapa kendala yang disampaikan sebelumnya sudah terjawab. Harapannya, puskesmas bisa yakin bahwa apa yang dikerjakan mereka tidak sia-sia dan terbaca sampai level di atasnya. (Pak Syafril bahkan berharap, data tersalur sampai tingkat propinsi, bukan tidak mungkin tapi pasti data akan ‘meledak’ kalau dikirim by record. padahal dengan by record, akurasi bisa lebih dinaikkan)

Demo upload data dari Simpus ke Simpus Terpadu Dinas Kesehatan

Demo upload data dari Simpus ke Simpus Terpadu Dinas Kesehatan

Di sesi terakhir, berkesempatan pula Kabupaten Barito Kuala (pak Hata) dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (pak Sarbaini) menyampaikan beberapa permasalahan yang ada dalam pengembangan Simpus. Secara bergantian beliau berdua menguraikan pengalaman-pengalaman di tingkat kabupaten dan puskesmas, bagaimana susahnya mengimplementasikan Simpus. Memang hal ini sudah sering saya dengar tiap kali ada pertemuan dengan user Simpus, dan berulang kali pula saya selalu menyarankan untuk meniru semangat dan komitmen serta “kegilaan” Dinkes Purworejo dan Dinkes Ngawi dalam pengembangan Sistem Informasi.

Pak Hata, wakil dari Dinas Kesehatan Barito Kuala, menampilkan Simpusbaku

Pak Hata, wakil dari Dinas Kesehatan Barito Kuala, menampilkan Simpusbaku

Acara ditutup oleh dr. Rudi, Kasubdin Yankes Dinkes Propinsi. Beliau secara tegas mendukung proses-proses yang sudah dilakukan dalam pengembangan Simpus, dan menjanjikan bahwa untuk software akan mendapat support penuh oleh Dinkes Propinsi. Bahkan beliau merencanakan untuk membantu puskesmas-puskesmas supaya mendapatkan komputer Simpus dari pemda masing-masing, melalui surat resmi dari Dinkes Propinsi. Saya cuma bisa meng-amin-i hal itu bisa terjadi, paling tidak kalau bisa terjadi, sedikit kendala Simpus bisa terlewati.

dr. Rudi menutup pertemuan Simpus

dr. Rudi menutup pertemuan Simpus

Dengan suara yang sudah menghilang gara-gara radang tenggorokkan, sore 4 Desember, setelah acara selesai saya pun langsung pulang dengan seribu harapan dan catatan di kepala untuk menjadi PR bagi pengembangan Simpus kedepan.

4 Tanggapan

  1. way to go SIMPUS-e mas jojok!

    Model software njenengan yang stand alone namun mendukung ekspor impor itu memang paling sesuai dengan sikon yang ada saat ini. Banyak simpus yg canggih malah keok di implementasi.

    Apalagi yg bisa aku bilang..
    Reliable, Collaborative, Feasible..

    itu semua karena emang simpus anda dibuat dari dalam hati (cieee).. ndeso yo ben! ngono to mas? hihihi hayo inventorine diseriusi pak de..

  2. aaahh… anda emangnya tau isi hati saya yang paling dalam ? :p inventori sabar nunggu antrian yakkkk….

  3. maksud nya simpus barito kuala itu nyontek dari simpus nya sampeyan ya mas…..he….he…….turut berduka cita mas….wah yg nyontek…eh mengembangkan nya dapet royalti nggak ya dari barito kuala….

    bukan nyontek kok pak, tapi mengembangkan dengan harapan bisa lebih baik. dan saya kira beliau-beliau disana justru mendukung Simpus saya di Kalsel, dengan menyesuaikan Simpus Batola dengan Simpus saya. Integrasinya mudah gitu🙂 Kalau gak mendukung pasti mbikin dengan format dari tempat lain… begitu ?

  4. Mas Jojok,mudah2an komitmen,semangat,dan “kegilaan” dr Purworejo dan Ngawi nular sampai ke Banjarbaru,Amin!

    amiennnnn… kemarin dokter Agus P. dari Ngawi juga berkenan ber komentar kok di blog saya.. hehe.. gak ngira beliau mau mampir😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: