Alhamdulillah, akhirnya Simpus(Jojok) ditiru lagi…

Pertemuan Simpus minggu kemarin membawa kisah dan pemahaman tersendiri tentang Simpus yang saya kembangkan. Kalau dulu saya sempat bercerita jengkelnya hati ketika ada yang minta ijin buat meniru output-output Simpus (untuk proyek Simpus, lucunya rekanan yang menang gak punya pengalaman dengan Simpus tapi bisa dapat order Simpus se-kabupaten), sekarang saya ketemu lagi kenyataan ternyata Simpus sudah ditiru tanpa lebih dulu memberitahu sebelumnya. Hanya saja untuk kali ini entah kenapa saya bisa gak jengkel, gak marah, gak sebel, malah akhirnya ada perasaan senang, bangga (boleh to bangga??) dan bahkan akhirnya terharu, sampai meneteskan air mata (hehehe…kalau ini keliatan banget boongnya)..

Seperti saya tulis di cerita sebelumnya, saya menemukan kembaran Simpus saya ketika ada evaluasi uji coba Simpus se Propinsi Kalimantan Selatan di Bapelkes Dinkes Propinsi Kalsel Banjarbaru. Kebetulan masing-masing kabupaten mengirimkan perwakilan puskesmas dan dinas kesehatan. Hanya Kabupaten Tanah Laut dan Kota Banjarbaru yang semua puskesmasnya diundang untuk hadir karena diharapkan tahun depan kedua dinas kesehatan itu sudah menerapkan Simpus secara utuh di semua puskesmas.

Malam kedua pelatihan, ketika beberapa peserta menginginkan pelatihan non formil tentang simpus secara santai, disitulah saya melihat Simpus dari salah satu kabupaten di Kalsel, Kab. Barito Kuala. Dinkes Kab. Batola ini, sebelumnya saya memang mendengar telah mengembangkan Simpusnya sendiri. Kabar sebelumnya, setelah studi banding di salah satu kabupaten di Jawa Timur, DKK Batola berniat menerapkan sistem dari Jatim itu di wilayah kerjanya. Eh ternyata malam itu yang saya temukan adalah, mereka mengembangkan Simpus single user saya menjadi multi user. Memang peserta dari Batola kemudian bercerita banyak yang kemudian membuat saya senang, bangga dan terharu itu.. Ceritanya gini:

Setelah Dinkes Batola pulang dari studi banding, ada satu staf (entah kasubdin atau apa saya lupa) yang sangat bersemangat membuat sistem pelaporan puskesmas itu. Kebetulan Batola sendiri sedang giat mengembangkan jaringan WAN di wilayahnya dan menurut beliau, jaringan ini sudah sangat maju dan sangat membantu proses transfer data. Merasa bisa dan mampu, akhirnya usulan pengembangan simpus itu disetujui dan langsung dilaksanakan. Beliau-beliau langsung melakukan langkah-langkah awal pengembangan termasuk mencari pengembang software. Kalau tidak salah programernya ini adalah seorang dosen di Banjarmasin. Setelah proses pembuatan selesai, kemudian sekarang Simpus itu telah di uji coba di salah satu puskesmas. Hasilnya? so far so good, kecuali beberapa output yg blm sesuai…

Nah ketika Staf tersebut mulai membuka laptop simpusnya, kagetlah penulis, ternyata tampilan input, tampilan menu, tampilan data, bisa dikatakan sama persis dengan Simpus saya yang masih single user. perbedaannya, SimpusBaku sudah bersifat multiuser, dan tampilannya lebih bagus, ada grafik yang lebih warna-warni hehe.. perbedaan lain, belum ada pemetaan, maklum Simpus yang dulu dibagi memang belum ada peta, jadi mungkin belum ada yang ditiru (mungkin sih hehe…). Wakil Batola juga mengakui kalau memang Simpusbaku mirip Simpus saya..

Di awal saya melihat program itu, sempat memang terbersit rasa jengkel, sebel, dan sedikit marah, kenapa orang dengan gampangnya niru hasil karya orang lain, tanpa ‘kulo nuwun’ terlebih dahulu. Dah gitu foto saya gak dipasang lagi hehe (maap narsis nya keluar…hehe). Programernya, Dosen (eh ini katanya juga, saya juga belum kenalan dengan beliau) harusnya juga tau gimana etika kalau mau menyadur, mengutip atau menulis hasil karya orang lain, itu baru berupa tulisan atau karya tulis.. lha ini ?? program sudah jadi kok tanpa ba bi bu langsung ditiru. Meskipun juga kurang adil juga sih, programer kan kadang cuma seperti tukang, disuruh saja sama yang pesan. Sempat jengkel juga sama bapak yang punya ide itu, apa mungkin beliau yang lebih layak untuk disalahkan (kalau memang salah loh..), kok ya asal ngasih program orang lain buat dikerjain lagi sama orang lain, tanpa ijin dan permisi orang lain tersebut, dan orang lain itu tidak minta ijin pada orang lain terdahulu hehe… bingung ya ??

Nah entah kenapa, mungkin ingat beberapa masukkan teman ketika simpus saya ada yg mau meniru, saya kok tau-tau merasa seperti apa yang saya rasakan di atas. Jengkel, sebel, kok tiba-tiba saja bisa berubah Senang, bangga, dan terharu… bahkan terus terang sekarang saya merasa salut dengan apa yang telah dilakukan Dinkes Batola. Kok bisa ?? mungkin itu ya yang dinamakan pencerahan, pemahaman baru atas sesuatu yang mungkin tidak pas di benak kita, tapi hikmahnya ada dan luar biasa. Saya saat itu cuma mencoba berpikir positif saja. Tapi paling tidak ada beberapa hal yang bisa saya petik dari sini..

pertama.. saya senang, karena ada yang meniru Simpus(Jojok) berarti isi dari program saya memang bisa diterima puskesmas atau dinas kesehatan. Baik variabelnya, metode inputnya, keluaran atau outputnya, pasti bisa dimanfaatkan oleh puskesmas atau dinas. Saya merasa, Dinkes Batola sebagai salah satu dinas kesehatan kabupaten di Kalsel berarti sangat mendukung Simpus(Jojok) diaplikasikan di Kalsel, karena ke depan, integrasi data menjadi lebih mudah..🙂 coba kalau Dinkes Batola memakai Simpus yang lain, jangan-jangan itu menjadi awal dari masalah lagi. Paling tidak dari cerita staf Dinkes Batola kemarin, saya merasakan semangat lebih dari Dinkes untuk memajukan puskesmas disana.

kedua.. saya bangga, ternyata sudah ada yang bisa mengembangkan Simpus saya selangkah lebih maju.. Simpus saya memang Jadul, se jadul orangnya..nah dengan adanya pak Dosen yang membantu mrogram, saya gak repot-repot lagi recoding Simpus menjadi Multi User (terima kasih pak…) dan saya gak usah mbayari beliau untuk mengerjakan itu hehe … gratis tissssssssss…  meskipun saya gak ada hak cipta dan hak atas kekayaan intelektual sedikitpun untuk itu… ( tapi mohon mahasiswanya jangan boleh niru ya pak. Teman saya, Albert, salah satu team programer Simpus Multiuser saya, pernah nerima pesanan untuk membuatkan skripsi, tapi ditolak mentah-mentah).

ketiga.. terharu, gak sia-sia saya bertahun-tahun keliling puskesmas, nyari masukkan input apa yg bisa memudahkan mereka, output apa yang diharapkan, metode apa yg pas untuk puskesmas dengan kondisi pas-pasan. dan sekarang ketika ada daerah ikut memakai hasil saya mengukur jalanan. Berarti mereka cocok dengan apa yang saya temukan. Paling tidak mereka gak perlu repot-repot naik motor ratusan kilo sehari mendatangi puskesmas, gak repot nanyain puluhan dokter puskesmas, gak perlu ngecengin dokter PTT dan mbak-mbak perawat (kalau yang ini sih asik asik saja), tidak sampai diomelin petugas pelaporan dan obat kalau ada yang kurang cocok, diprenguti orang puskesmas yang merasa dapat kerja tambahan, dan lebih untung lagi gak perlu seperti saya jungkir balik plus patah tangan hasil tabrakkan dengan si Mio sialan dulu di Nanggulan hehe…

Itulah saudara-saudara sedikit cerita tersisa dari evaluasi kemarin. yang jelas, ada yang perlu saya sampaikan :

Untuk Dinkes Batola.. Maaf saya sengaja tidak menyebut inisial, karena sekali lagi saya salut untuk inisiatif yang telah dilakukan, dan saya bisa memahami langkah team Simpus Batola. Maju terus untuk mengembangkan Simpus, satu saat saya ingin sekali berdiskusi dengan Team Simpus Batola untuk bersama-sama mengembangkan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi puskesmas. Saya mendengar dari cerita staf yang dikirim kemarin bahwa semangat dinas sangat luar biasa untuk Simpus ini, dan saya ikut senang mendengarnya. Apapun yang terbaik buat puskesmas, semoga terus menerus dilakukan. (Tapi besok beritahu dulu ya pak jadi saya gak kaget lagi… )

Untuk Programernya, ada sedikit salam perkenalan dan masukan buat output yang belum pas kemarin.
– terima kasih atas peran serta anda secara tidak langsung mengembangkan Simpus Multi User. Harapan saya usaha ini tidak berhenti sebatas kegiatan ini saja. Masih banyak modul-modul lain yang butuh dikembangkan bersama-sama.
– saya kemarin janji ke staf Batola untuk memberi masukkan tentang 10 besar penyakit di Simpusbaku, mungkin bisa ditambahkan sedikit filter supaya penyakit yang field LB1nya = false gak ikut dihitung, sehingga Kunjungan K1, KB Pil, Pemeriksaan Haji, Cabut gigi dan teman-temannya itu gak masuk 10 besar penyakit. (Saya gak bisa membayangkan kalau di daerah…… yang di kliniknya tersedia kondom gratis, peringkat berapa nanti KB Kondom nya..hehe)
– untuk pemetaan, anda bisa memakai software lain seperti EpiMap (atau apa MapInfo ya ??), kalau memakai cara akal-akalan programer jadul seperti saya, anda bisa memakai TImages, terus manfaatkan saja fungsi FloodFill untuk manipulasi warnanya, setelah terlebih dahulu melihat koordinat area nya.. saya dulu dua hari gak nyenyak tidur buat mikir otak-atik itu.. gampang, tapi bisa laku dijual hehehe.

O iya.. maaf, bukan berarti saya mulai sekarang mengijinkan Simpus saya dibedah dan ditiru begitu saja oleh daerah lain hehe… berkomitmenlah dulu untuk kemajuan puskesmas seperti yang dilakukan Dinkes Batola sebelum mulai melakukan itu.

Sekian..

27 Tanggapan

  1. Hatiku ingin berkata…tapi aku diam saja.

  2. Ada ada aja ya orang mau menjiplak tapi kok ya gak permisi dulu gitu …. ya kuatkan hati mu om jojok. Orang yang sabar dikasihani Alloh SWT

  3. Sabar aja.. Tak kn lari gunung dikejar..

  4. waduuhhh…..kok tega ya karya org kok di jiplak…….kebetulan saya pernah liat dan tau ttg simpus barito kuala, dan yang mengembangkan bukan dosen banjarmasin setahu saya….tapi pegawai dinas kesehatan banjarbaru…..biasa…supaya bisa jadi proyek….di pakai nama lain….tapi tetap saja kok tega ya..?

  5. @pak Syahrir, mengutip mas Ebiet, “berjalan” diam-diam ternyata lebih banyak makna pak, semua bicara sejujurnya, semuanya seperti adanya..hehe..saya sudah bisa menangkap banyak hal dari kediaman pak syahrir..

    @Mas Nurul, @Bu Mir, Insya Allah sabar, dan saya sampaikan saya akan merasa lebih senang kok ke depan..positif thinking lebih bikin ayem..

    @ Pak Baskoro, thx untuk info nya.. info kemarin sampai ke saya yang mbikin dosen, tapi siapapun beliau saya tetap akan berterima kasih, dan yang jelas berharap mudah2an bisa terus dilanjutkan, jangan seperti proyek lain yang…gitu dehhh… paling ndak kalau seorang dosen, dengan latar belakang sebagai akademisi, masih ada nilai2 idealisme yang harusnya dipegang oleh beliau.

  6. Pak, menurut saya halal aja lho kalo kita mencontoh desain proses orang lain, wong kita develop code dari awal juga. Kecuali kalo kita mencuri source codenya itu lain soal.

    Malah dengan adanya kenyataan itu :
    1. Dikau itu jualan software, bukan jualan desain handicraft yang kalo kita masuk ke dalam galerinya ada tulisan “DILARANG MEMOTRET”. Jadi let’s focus to the code. Kalo ada yang menjiplak tampilan, mari kita tertawa karena itu membuktikan bahwa produk Anda telah menjadi suatu image bagus yang patut dicontoh.
    2. Terjadi iklim persaingan yang natural. Kalo saya bisa bikin ramuan cendol.. orang lain boleh lho bikin yg mirip dengan saya. Nanti tinggal gimana konsumen yang menilai. Sehat, sehat, sehat…
    3. Membuat Anda lebih semangat untuk mempercantik, memperbaiki dan membuat inovasi dari produk Anda.
    4. Orang yang menjiplak tidak berkesempatan mendapat pelayanan Anda yang (saya akui) prima, ganteng dan bujangan itu (hihihihi)..

    Jadi gitu ya, jangan sedih atau sebel lagi. Mari memikirkan pengembangan SIM puskesmas menjadi lebih baik. Balasannya nanti datang dari atas. Cukuplah.

    PS. Mikirin masa depan juga lho, dikau!

  7. @Dedi.
    matur nuwun..dibantu promo :p
    sudah saya sampaikan kok, saya gak sebel dan sedih lagi, dah ada (mimjem istilah pak Dian) pencerahan hehe..toh kalau memang memajukan puskesmas… ya ayo saja.
    masalah ganteng dan lain-lain, biarlah jadi rahasia umum :p

  8. Katanya segala sesuatu musti disyukuri, termasuk syukur atas hari yg serasa jungkir balik setelah menemukan pembajakan terencana ini… kata orang sih pasti ada hikmahnya… sok wise nih… hihihi…

    you know what : hard times should make you better not bitter… ok Jo ?!

  9. Ikut bangga ternyata masih ada yg mau jiplak… He..hehe.., “….. KOK JIPLAK” Artinya produk mas jojo ada lebihnya yaitu larismanis untuk kalangan Puskesmas dan intansi terkait ( barang yg laris penjualannya mesti ada yg jiplak ) Buat lagi yg lebih baik, lha wong larinya udah didepan, apa ya.. akan lari ditempat, OKE… deh..

    mungkin perlu diluruskan, bukan menjiplak mas, tapi mengembangkan dengan format yang lebih baik kok..

  10. Apa simpusnya belum di-paten-kan? Kalau sudah, pasti orang lain tdk berani sembarangan. Kalau nakal bisa lansung Anda somasi.

  11. Tidak saya patenkan pak.. biarlah kalau memang mau di tiru🙂 kita ambil positifnya saja berarti lebih banyak lagi puskesmas bisa make model2 output Simpus saya… Windows itu paten nya jg ga main2.. tp memang orang kita saja yang kreatif hehe, lagipula sapa tau besok dari hasil pengembangan itu saya juga dapat sesuatu yang baru, sama-sama untung ke depan..😀

  12. Mungkin karena yang bersangkutan dosen, mengikuti prinsip Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, niteni, nirokke, nambahi….
    Jangan patah semangat Jo……

    siap bosss….. itu pas bener, lebih sip kalau ditambahi, nyangoni hehe…

  13. bwahahaha nyindirrrrrr

  14. Maaf sebelumnya mas jojok kalau saya banyak omong hehehe

    dikatakan bahwa simpus di batola tersebut adalah “multi user” bukan “single user” tapi kenapa memerlukan banyak monitor trus dilengkapi dengan perangkat utk penggunaan mouse+keyboard+vga jarak jauh sedangkan cpu yg dibutuh kan tidak sebanyak monitornya.

    kayaknya menurut saya bukan multi user tapi lebih ke multi session.

    kira2 bagaimana pendapat saudara?

    satu lg nih mas :

    Saya mau nanya nih simpus punya mas jojok apakah berbasis web atau desktop?
    trus databasenya menggunakan apa?

    terima kasih

    dan satu hal lagi saya setuju tentang saling menghargai hasil karya orang lain dan sungguh disayangkan kenapa gak mas jojok patenkan, paling tidak mas sebagai pencetus simpus bisa dihargai….

    Terima kasih banyak mas Ahyar..
    tentang multi user dan multi session, ya mungkin saya kurang tepat menaruh istilah itu. kebetulan kemarin saya juga sudah diingatkan teman baik saya tentang pengertian itu. kalau saya sih lebih berangkat dari titik supaya teman-teman puskesmas bisa membedakan simpus saya yang hanya butuh satu komputer dgn simpus yang bisa dijalankan oleh beberapa orang bersama sama. istilah yang saya pandang cukup mudah (meskipun tidak tepat) adalah multi user.. matur nuwun untuk revisi nya.

    Simpus saya desktop kok, web based saya gak bisa hehe.. memakai Delphi utk RAD nya dan Paradox sebagai databasenya. memang ada rencana ke Firebird, tp karena sudah ada yang membuat jadi saya pending dulu. saya fokus ke pengembangan lain.

    soal paten ?? ah itu terlalu berlebihan menurut saya mas. saya bukan pencetus Simpus, saya hanya membuat program yg bisa dipakai org puskesmas dengan mudah. dan Simpus itu sangat luas. masih banyak modul-modul yang harus saya kembangkan.. Simpus itu pencetusnya bapak-bapak di Depkes sana…🙂 saya mencoba berbaik sangka saja lah, bahwa orang lain meniru karena juga ingin memajukan puskesmas.

  15. Mas Jok,yg njiplak orang dinkes banjarbaru?(kt mas baskoro?) duuh…jangan2 orangnya duduk di samping nih….yang sabar mas ya,btw dpt salam dr temen2 di pkm

    wah saya tidak tahu bu.. dan mungkin gak akan cari tahu🙂 sudah saya sampaikan, untuk batola dan kalsel silahkan saja kok ditiru, malahan terima kasih secara langsung sudah membantu dan mendukung simpus saya. toh nanti kita juga butuh mereka supaya integrasi data bisa dilakukan..
    salam balik untuk teman-teman di puskesmas. Tanggal 22 saya di Pelaihari. kalau ada waktu 23 pagi saya mampir banjarbaru untuk melihat Simpus nya…

  16. inisialnya (“MI”)
    —————-
    Berdasarkan dari pa baskoro yg mengatakan: ” dan yang mengembangkan bukan dosen banjarmasin setahu saya….tapi ”’pegawai dinas kesehatan banjarbaru”’…..biasa…supaya bisa jadi proyek….di pakai nama lain….tapi tetap saja kok tega ya..? ”

    “DILARANG KERASS MENJIPLAK SESAMA PROGRAMMER”
    “SI PENJIPLAK TIDAK PUNYA HARGA DIRI”

    klw poenya orang luar negeri sehh boleh2 aja hehehehehe

    ttd
    Pejuang Programmer

    hehehe…wah demi kemajuan bangsa, kita menjiplak karya luar negeri ya mas pejuang hehe… terpaksa mau gimana lagi..

    biarlah gak papa di tiru, pengembangan Simpus bukanlah proyek yang bisa ditempuh dalam 1-2 tahun SPJ. Simpus butuh lebih dari sekedar tanda tangan pencairan dana untuk kemudian dibikin bancakan mas. Pengembangan Simpus butuh waktu lama dan berkelanjutan. butuh kerja keras, komitmen dari semua pihak, dari puskesmas, sampai dinas, bahkan depkes pusat..

    Silahkan bertanya pada orang Dinkes Purworejo, Dinkes Ngawi, Dinkes Karanganyar, Dinkes Banjarnegara, Dinkes Wonosobo, dan masih ada beberapa dinas kesehatan yang juga telah mengembangkan Simpus/Simkes selama beberapa tahun. Komitmen mereka bisa dijadikan pelajaran bagaimana supaya kita hanya menggantungkan pengembangan Simpus pada yang namanya PROYEK…

    Jadi kalau memang meniru tampilan thok, tp kok kemudian komitmennya gak ada sama sekali, biar orang yang akan menilai🙂

  17. Bicara soal meniru dan menjiplak, saya jadi ingat pengalaman saya sendiri waktu software saya dicrack orang🙂

    Saya sendiri juga seorang programmer, mengembangkan software rekam medis sederhana untuk dokter praktek pribadi. Selama ini proses instalasi selalu dibarengi dengan permintaan pengisian nomor serial, yang bisa diperoleh dengan menghubungi saya. Beberapa bulan lalu ada orang yang berusaha mem-bypass tahapan tersebut. 2 orang malahan. Yang menarik, orangnya (yang melakukan crack) memberi tahu saya, bahwa software saya bisa dia crack🙂

    Awalnya saya juga mangkel, kenapa juga orang mesti usil mengganggu hasil karya orang lain. Tapi setelah dipikir lebih dalam, bagi saya ini adalah kesempatan yang baik untuk memperbaiki software saya. Selain itu, paling tidak, saya jadi tahu ternyata software saya mampu menarik perhatian orang untuk mencoba meng-crack-nya🙂

    Seorang teman malah bilang, ‘Harusnya kamu itu bangga, aku aja buat software seumur2 belum pernah ada yang nyoba nge-crack.’ Betul juga ya🙂

    Buat Mas Jojok, pasti ada hikmah dari kejadian2 ini. Setidaknya, anggapan bahwa Mas Jojok (dan karya Mas) menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejak Mas itu tidak salah🙂

  18. hehe… nah itu juga hikmah positif dan positif thinking dari sesuatu yang mungkin menjengkelkan. daripada repot mikirin yang gak enak, buang2 energi, mending nyari2 yg bisa dijadikan pelajaran.

  19. Diambil hikmahnya sj mas, bayangkan mas, berapa puluh ribu bahkan juta pahala mas jojok. he … becanda mas …

    kalo mau pakai orang punya ijin donk …

  20. sippp pak Chandra.. bbrp hari kmrn saya ke Banjarbaru lagi, ketemu lagi sama staf nya bahkan sudah saya kasih masukkan untuk beberapa hal yg masih belum pas.. mudah-mudahan pengembangannya lancar dan bisa bermanfaat.

  21. Dalam meng – CP hasil karya orang lain alangkah lebih baik kalau minta izin terlebih dahulu, jangan langsung meng – CP doang….

    Walau bagaimanapun, blog mas jojok ini kan hasil karya cipta juga…..

    Makanya Mas Jojok, mendingan di PATENKAN aja Blognya Mas jojok…. biar aman gitue lowh….😀

  22. Kebetulan bukan tulisan blog saya kok pak yang di CP seperti pernah menimpa dr. Agus dulu. Yang di tiru adalah tampilan-tampilan input output Simpus saya, kemudian dikembangkan menjadi satu aplikasi client server. Saya senang-senang saja sekarang. Dulu sih sebal karena gak minta ijin hehe…

  23. HARAU DECH, DA LALU KREATIF, SAMATA MANIRUN AYUN ULUH.. NGAPEK AKAI..!

    waduhh… artinya apa ya ? sepertinya ada ulun-ulun itu bahasa Kalimantan deh.. mudah2an gak ngrasani saya hehe… terima kasih sudah mampir mas fithri…

  24. ngelanjutin comment saya tadi, artinya kurang lebih begini ; “Waduh!! Sangat Nggak Kreatif, Kerjaanya cuma nyontek punya orang, dikemplang aja palanya, he..he..hee..” Nggak ko ya?! Mas Jojok kan orangnya SABAR ( SAma-sama ketawa leBAR). Saluut !!

  25. hahaha… wah segitunya, masak pake dikemplang palanya.. gak baik pak..🙂. Justru kreatif, toh yang ditiru dikembangkan lebih baik dan bagus kok..

    berarti saya salah duga, Ngapek Akai..! tadi saya artikan gini…
    Capek dehhhhhh….!

  26. Salut buat rasa iklas dan sabarnya krn softwarenya ditiru orang, semoga rasa yang iklas dan sabar mendapat balasan dari alloh s.w.t (dapat proyek baruuuu he…he…he…)

  27. amiennnnnnn… Pasuruan kuwi lho susahnya mau ngajuin kegiatan baru hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: