Kembali ke Banjarbaru

Senen siang, kembali saya ke Banjarbaru. Kali ini acara meneruskan kegiatan kemarin yang sempat ‘kekurangan’ waktu hehe.. Pak Syafril minta mulai dilakukan validasi kode-kode dan kesepakatan tentang data dasar yang akan digunakan. Sekaligus juga untuk mulai memasang pemetaan di komputer Dinas Tanah Laut dan Hulu Sungai Tengah yang sudah selesai dikerjakan. Herannya, kedatangan kali ini juga diikuti radang tenggorokkan lagi… Sakit yang kemarin dah ilang kok tau-tau nongol lagi..alamat siap-siap kehabisan suara kalau telat minum obat. Sayang rencana acara dibarengkan dengan pelatihan ke Pelaihari sepertinya susah diwujudkan, waktunya terlalu mepet.

Untuk Pemetaan, sudah diselesaikan dan disampaikan peta ke Tanah Laut dan Hulu Sungai Tengah. Pemetaan mendatang adalah Banjarbaru dan menyusul pemetaan untuk tingkat propinsi. Mudah-mudahan di tahun ini pada waktu advokasi sudah bisa ditunjukkan alur pelaporan dari puskesmas-dinas kesehatan kabupaten/kota-dinas kesehatan propinsi, lengkap dengan pemetaan di masing-masing tingkat organisasi.

O iya, ini adalah contoh pemetaan untuk Software Simpus Terpadu di tingkat Dinas Kesehatan Tanah Laut. Unit terkecil pengamatan penyebaran penyakit adalah desa atau kelurahan. Pemetaan di tingkat Dinas Kesehatan ini akan langsung otomatis muncul setiap proses pelaporan dari puskesmas menggunakan pengiriman data elektronik selesai dilakukan.

Pemetaan Wilayah kerja Dinkes Tanah Laut

Pemetaan Wilayah kerja Dinkes Tanah Laut

Dua hari pertemuan kembali membawa masukkan bagaimana saya lebih dalam menghadapi kendala implementasi Simpus, tidak cuma di level puskesmas, tapi masuk dalam level yang lebih tinggi.. propinsi.

Masalah yang terbesar justru ada di masalah birokrasi, manajemen atau organisasi yang sudah ada di dinas kesehatan. Dari masalah birokrasi misalnya, hampir semua dinas kesehatan belum bisa memutuskan apakah Simpus bisa/sanggup diaplikasikan. Memang menjadi masalah utama, sebenarnya siapa yang harus ketuk palu untuk menentukan bahwa sistem ini dipakai sebagai satu-satunya pencatatan kunjungan di puskesmas. Dinkes Propinsi dan Dinkes Kabupaten Kota sepertinya belum duduk bersama. Beberapa peserta juga mengeluhkan hal yang sama, karena belum adanya payung hukum yang pasti tentang implementasi Simpus ini. Peserta bahkan ada yang mengusulkan untuk mengundang semua kadinkes dan kapus se-Kalsel untuk diperkenalkan dengan Simpus, sehingga proses kesepakatan bisa berjalan lebih lancar. Memang menurut Pak Syafril, tahapan sekarang adalah tahapan memperkenalkan Simpus ke semua perwakilan Kabupaten/Kota di Kalsel sebelum nanti diadakan advokasi ke seluruh pengambil kebijakan di Kalsel tentang implementasi Simpus.

Terus terang saya jadi ingat dengan cerita dr. Syururi, mantan Kadinkes Purworejo, sewaktu beliau mulai mengembangkan SIK Purworejo. Pada satu pertemuan di Ngawi, beliau bercerita kepada saya tahap-tahap pertama beliau mengembangkan SIK. Bukannya sibuk mencari proyek sana sini, tapi beliau mengembangkan terlebih dahulu, dengan dana yang seadanya, uji coba, evaluasi, menunjukkan kalau sistem bisa berjalan ada hasil, baru kemudian mengadakan advokasi ke Pemda untuk pengembangan lanjutan. Beliau menekankan, bahwa yang paling penting semua harus diawali dengan KOMITMEN. Ya… komitmen dengan huruf besar. Hal yang hampir sama juga dilakukan oleh Dinkes Ngawi.

Pada pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk menunjukkan Simpus KIA, serta konsep sistem informasi KIA, dimana konsep yang ingin dikembangkan adalah konsep informasi, bukan konsep pelaporan. Memang sangat susah untuk merubah cara pandang dari semua pihak, karena memang konsep informasi adalah mulai dari pembenahan data yang paling mendasar, paling mentah, baru menyusul pengolahan dan pemanfaatan data. Sementara yang berlaku sekarang kebanyakan justru permintaan bagaimana laporan yang sudah berupa data rekapitulasi itu bisa masuk ke dalam aplikasi. Kebetulan hadir dari ibu Hj. Mariani, SKM, Subdin Kesga sehingga dengan beliau saya bisa berdiskusi singkat tentang aplikasi KIA.

Dua hari pertemuan, sudah banyak masukkan yang didapat. Beberapa kabupaten sudah mulai kontak untuk merencanakan pelatihan Simpus di masing-masing wilayah kerjanya. Mudah-mudahan semua bisa menjadi jalan yang lebih mulus untuk lebih memperbaiki mutu informasi yang ada sekarang di Kalsel.

Hal yang mengagetkan…

Di akhir acara, hadir narasumber dari pusat, dr. Bambang. Beliau termasuk pemerhati dan perintis Simpus di Banjarmasin beberapa waktu yang lalu. Beliau diminta untuk memberikan masukan dan komentar sehubungan dengan pengembangan Simpus yang sudah dilakukan, serta memberi masukan tentang beberapa hasil diskusi kelompok yang dilakukan para peserta. Informasi yang bikin saya melongo (mohon maaf kalau salah pak…) dan trenyuh.

Pertama… Beliau sampaikan salut bahwa propinsi dan daerah masih mengembangkan Simpus, sementara beliau sampaikan, bahwa di pusat sendiri sudah tidak ada yang mengurus dan peduli dengan Simpus. Simpus tidak perlu bagi pusat. Simpus adalah kebutuhan puskesmas (ini saya cocok 100%). Depkes tidak butuh data kiriman Simpus. Saya tidak tahu apakah ini kondisi yang terjadi di bagian dr. Bambang (beliau dari Binkesmas), ataukah terjadi di wilayah Depkes. Sempat pula terbersit dalam benak saya, kalau memang gak butuh, ngapain juga milyaran digelontorkan untuk SIKNAS, memimpikan jaringan online sampai puskesmas, dan kalau tidak salah, salah satu tujuannya adalah mempercepat alur data.

Kedua… Simpus sendiri, baik SP2TP, LB1 dan lain-lain, sudah ‘ditinggalkan’ oleh pejabat di depkes. Ada saling tunjuk diantara mereka siapa yang harusnya mengelola Simpus. Data yang dikirim pun (mohon maaf nggih kalau keliru lagi…) tidak ada gunanya dikirim ke pusat, toh gak ada yang mengolah. Pusat fokus depkes adalah pada data dasar puskesmas.

hal-hal lain yang disampaikan tidak bisa saya ikuti, dua hal itu saja sudah cukup membuat saya terbengong-bengong… dan benar-benar menyesal sekali tidak ada kesempatan untuk berdiskusi lebih lanjut dengan beliau. Saya harus segera ke bandara untuk cek in. Sayang sekali beliau tidak hadir lebih awal untuk melihat dan berdiskusi bersama-sama tentang Simpus. Saya ingin sekali ngobrol banyak beliau (menurut pak Adi, staf Dinkes Propinsi, dr. Bambang ini dulu sangat konsen dengan Simpus di Banjarmasin) untuk meluruskan hal yang membuat saya takjub itu, saya berharap barangkali itu hanya awal yang mengagetkan supaya peserta tidak ngantuk untuk kemudian memberikan angin surga bagi pengembangan Simpus.

Suerrrr… saya pingin ketemu beliau…mudah-mudahan saya yang salah…

11 Tanggapan

  1. Salam Bang, Selamat Datang di Kota Banjarbaru…
    semoga hari harinya menyenangkan di kota kecil ini. mungkin tanggal 7 januari nanti situs http://www.dinkes.banjarbarukota.go.id mulai dibuka. tolong nanti saya dan teman teman dikasih sarannya ya…
    salam

    oke mas… nanti saya akan mampir, mudah-mudahan tambah maju dinkes dan puskesmas di banjarbaru..banjarbaru kota menyenangkan, karena saya di hotel terus jadi bisa tidur terus hehe..

  2. Hai Mas JOJOK , apa itu penjelasan tutup tahun 2008 ?
    Saya disini ikutan KAGET lho…Kayaknya 12 skala richter … bergetar sampai di Papua pastinya.
    Apa ada evaluasi sehingga tak ada lagi anggaran sebesar TSUNAMI ???
    Mestinya kita rame-rame datang ke Jakarta kayak berdemo didepan MENKES gitu… biar rakyat bisa SEHAT…. astaga. !

    Komentar di posting satunya saya pindah sini pak,

    Gimana kalo BINKESMASnya sudah buang HANDUK ?
    hehee

    No Comment hehehe… maaf respon komentarnya saya jadikan satu, sepertinya berhubungan dua-dua nya hahaha….

  3. Penjelasan awal tahun 2009 pak. Itu yang bikin saya melongo pak, saya kemarin telpon panitia/peserta untuk mendengar bagaimana kelanjutan materi beliau, beberapa diantaranya malah seperti menyesalkan statemen tersebut. Bayangin saja pak, beberapa kabupaten di Kalsel sudah semangat untuk mulai mengembangkan sistem informasi, mulai dari level yang paling penting, mendasar, lha kok mendengar hal seperti itu, jadinya ikut-ikutan bengong. Untung gak ikut-ikutan pulang ke jogja hehe..

  4. Salam kenal ya. =)

    Salam kenal juga buat Rian…terima kasih dah mampir, mudah-mudahan besok tidak tersesat di puskesmas ya hehe..

  5. Wah, makin mantuap aja mas jojok ne….😀

  6. wah mantap gimana pak… makin pusing yang jelas dengan belum turunnya harga BBM ke level Rp. 1 450,00 haha…gak bisa lagi touring sesuka hati, mikir beli bensinya sekarang..

    Lempar handuk itu kalau kita mau nolong sodara kita yang lupa bawa handuk ke kamar mandi🙂

  7. Hai mas,waduh!saya shock!pdhal tdnya mo crita soal komitmen (dlm huruf kecil,hehe) di pkm saya,ternyata…kok bisa pernyataan gitu bisa keluar dari dr.Bambang?mudah2an secepatnya ada kesempatan untuk diskusi bareng beliau ya mas

  8. Ya begitulah bu Umi.. terus gimana komitmen di puskesmas Banjarbaru ? sudah mulai belum ? kalau dengan dokter Bambang, ya biarlah suatu saat kalau ada kesempatan kami bisa berdiskusi dengan panjang lebar..

  9. Itulah mas,(curhat nih) entah apa yg mereka tunggu?apa mungkin nunggu hasil pemetaan mas?dan komputer baru dah nyampe? Pkm guntung payung, cempaka dan banjarbaru tetep jalan,kalo di tempat saya tragis,boro2 jalan,ngesot pun susah.bahkan komputer simpus dimutilasi,cpu-nya kemana?ups-nya kemana?monitornya nongkrong di pojokan rg.imunisasi (karena selama ini ruang simpus emang numpang disana) saya cuma melongo (syukur ga ada laler mampir) pas saya konfirm ke kapus,beliau berkata,”ntar ya…” yg sangat sarat makna,mudah2an maksudnya,”ntar ya…saya anggarin laptop aja,yg hard drive-nya tahan banting kaya kamu”.duuh….AMIEN!!!jadinya sekarang saya mengandalkan buku register,yg variabelnya sama persis dengan input simpus mas,jadi kalo nanti komputer dah datang (AMIEN!) saya tetep bisa ngelanjutin ngentry data,duh mas…remuk hatiku kalo inget komitmen “mereka2” itu…

    waduh, ikut berduka cita bu untuk mutilasi CPU nya, mudah2an cepat mendapat ganti. sementara teruskan saja pencatatan dengan register bantu Simpus, nanti cepet kok nyusul entrynya, asal dapat laptop 2 hehe.. Saya ada rencana jadwal pelatihan untuk beberapa daerah di Kalsel, Banjarbaru sepertinya juga bakal ngadain pelatihan lanjutan sekaligus masang pemetaan kemarin. Hanya saja saya juga nunggu kabar dari DKK yang mau ngundang. Kalau gak diundang saya juga gak bisa berangkat kesana dengan ngesot hehe..
    sabar bu..pasti nanti bisa jalan lagi..🙂

  10. He he,, gimana tuch Depkes.. Bukan’e sering mengadakan pelatihan SIM di kalangan DKK.. Buat apa donk??? masak cuma buat kasih sangu en jalan-jalan doank..
    Pusat aja komentar’e kaya gitu,, gimana bawahannya.

  11. Wah saya tidak tahu bu, sepengetahuan saya memang sering Depkes mengadakan pelatihan-pelatihan berbau Simpus. Hanya saja pelaku nya mungkin bukan dari bagian yang sama dengan narasumber kemarin jadi agak kurang koordinasi sedikit gitu hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: