Obrolan singkat dengan Pak Pujo…

Kesempatan yang lama saya tunggu untuk ngobrol dengan Pak Pujo, yang dulu menjadi Kadinkes Ngawi, akhirnya terwujud juga. Sungguh senang mengetahui beliau termasuk yang diundang untuk menyampaikan materi di seminar yang diadakan Pak Anis Fuad, dari Simkes UGM. Sudah lama saya ingin ngobrol dengan beliau, untuk sekedar bertegur sapa dan sedikit belajar tentang jurus-jurus sukses beliau membawa Ngawi menjadi salah satu ikon SIK Nasional disamping Purworejo. Ketika Rakontek Simpus tahun 2005, saya baru sempat ngobrol dengan pak Sururi, (waktu itu) Kadinkes Purworejo. Saya ingat waktu itu, Pak Sururi bercerita langkah-langkah ‘gila’ beliau untuk mengembangkan Purworejo. Pak Pujo ini bisa disebut mengikuti jurus ‘gila’ Pak Sururi untuk mengembangkan SIK di Ngawi.

Seminar Sabtu, 14 Pebruari kemarin memang mengundang beberapa pembicara yang daerahnya termasuk sudah mapan dalam penerapan dan pengembangan Simpus/SIK. Pembicara pertama, pedagang asongan Simpus, kemudian Pak Erwin, team pak Sururi yang mengawal Sikda Purworejo, kemudian Pak Pujo sendiri, yang saat itu ditemani kenalan lama saya, dr. Rudi. Kemudian hadir juga dr. Rina dari DKK Wonosobo, dan yang juga menarik diikuti adalah dua pembicara ibukota, duo Pak Bambang. Beliau berdua adalah pejabat dari Binkesmas dan Pusdatin. Dan yang jelas, (ini diedit..), Pak Anis sendiri ikut menjadi pembicara. Beliau tampil setelah band pembuka JojokπŸ˜€. (Tambahan ini setelah diingetkan Suhu Anis…kelupaan nulis karena hampir tipis beda antara tuan rumah dan narasumber hehe).

Pak Lutfan, Pak Anis, Mas Jojok, Pak Erwin. Kebetulan 3 dari kiri teman satu SMA hehe..Sesi pertama seminar

Pak Lutfan, Pak Anis, Mas Jojok, Pak Erwin. Kebetulan 3 dari kiri teman satu SMA hehe..Sesi pertama seminar

Saya terkesan dengan gaya santai Prof. Hari Kusnanto, ketika membuka seminar. Analogi beliau tentang Simpus sangat menarik. Beliau menyatakan betapa seminar itu sangat penting, beberapa perguruan silat bisa berkumpul untuk memamerkan jurus-jurusnya hehe… Yang paling penting memang dari yang hadir bisa mengambil banyak pelajaran dari pengalaman-pengalaman yang sudah dilewati dalam pengembangan Simpus/SIK.

Entah kenapa sambutan Prof Hari membuat saya jadi teringat novelis silat kesukaan saya waktu SMA itu, Kho Ping Ho. Bayangan pun melantur, membayangkan pertemuan penting dunia persilatan digelar oleh perguruan besar SIMKES UGM, dengan tokoh-tokoh seperti Empu Pujo dari Padepokan Ngawi, Raden Mas Erwin (agak lebih muda nih masalahnya) dari Padepokan Purworejo, kemudian Roro Rina (hehe..maap bu, pendekar putri saya cuma inget Roro Wilis nya SH Mintarja) dari Wilayah Kadipaten Wonosobo di Lereng Pegunungan Dieng. Roro Rina ini sedang menerapkan jurus Simpus dibimbing Suhu Anis Fuad, pendekar lulusan kerajaan seberang lautan. Dan tidak ketinggalan hadir juga Hulubalang Menteri dari Kerajaan Sunda Kelapa, Sepasang Pendekar Kembar, Tumenggung Bambang H dan Tumenggung Bambang S. Pesertanya ? sebagian besar murid-murid perguruan terkenal sekelas Shaolin Temple… dan mau gak mau muncul lamunan gila tentang seorang Jojok. Saya membayangkan diri menjadi sosok pendekar pengembara naik kuda (besi roda dua). Tanpa padepokan, tanpa teman, tanpa aturan (kan freelance..πŸ˜‰ ), senjata andalan laptop tua yang kucel, dah gitu jarang mandi, orangnya kucel, suka ngeluyur sendirian ke tempat-tempat pengobatan di pelosok negeri. Sepertinya gelar Pedagang Simpus Tanpa Bayangan dari Lereng Merapi cukup bagus ya, daripada Satria Laptop Bertuah. Tapi yang jelas jangan sampai lah bergelar Penjahat Pemetik Bidan hahaha…

Memang DKK Ngawi sangat semangat dalam pengembangan Simpus. Hal itu bisa diikuti dari paparan Pak Pujo ketika memberikan materinya dalam seminar itu. Sedikit telat masuk karena harus menemui teman-teman yang display Simpus di ruang sebelah, saya asyik mengikuti semua yang disampaikan Pak Pujo. Beliau dengan semangat menyampaikan masalah-masalah klasik yang ditemui selama pengembangan Simpus Ngawi. Masalah-masalah sama yang juga Pak Erwin temui di Purworejo, dan juga sering saya temui ketika melatih puskesmas untuk menggunakan Simpus Jojok. Diselingi guyon ala Jawa Timuran dan juga diselipi promo untuk mengundang beliau (hehe…kalah set, saya pas presentasi gak sempat promo habis-habisan), dengan panjang lebar beliau menyampaikan pengalaman pengembangan Simpustronik, lengkap dengan foto-foto kegiatan yang dilakukan. Sempat juga saya tersenyum ketika beliau menceritakan tentang gratis-nya software beliau untuk dipakai daerah lain, dan tersenyum lagi ketika beliau bercerita dengan semangat kenapa belum bisa menembus Jawa Tengah. Beliau melirik sambil guyon, ‘mungkin gara-gara sudah ada mas Jojok…’. Hehe… terus terang saya tersanjung, meskipun itu pernyataan beliau salah. Mungkin beliau tidak ingat ada padepokan Simpus lain yang sudah jauh lebih mapan seperti Purworejo, Wonosobo, Karanganyar, dan mungkin segera menyusul Kudus, Pekalongan, dan beberapa Kadipaten kabupaten lain yang segera akan tampil di dunia Simpus.

Pak Pudjo...

Pak Pudjo...

Beberapa hal penting yang memang saya butuhkan untuk modal presentasi di daerah lain adalah bagaimana Pak Pujo bisa membuat kondisi kerja dari Simpus dan komputer phobia di kalangan staf menjadi Simpus Mania. Pelatihan, pendampingan, team Simpus, dan juga kesiapan infrastruktur, itu sudah sesuatu yang standar bagi pengembangan sistem. Yang paling tidak biasa menurut saya adalah ketika beliau bercerita bagaimana menerapkan prosedur Reward dan Punishment di kalangan DKK. Tidak keras tapi cukup untuk membuat Simpustronik berjalan lebih dari yang diharapkan. tentang Reward ini beliau bercerita kemudahan angka kredit untuk staf yang menjalankan Simpus. Sementara untuk ‘jewerannya‘ menurut beliau dengan membuat malu pas rapat atau dengan kata lain dipermalukan di depan umum… Prosedur yang tidak mungkin seorang Jojok bisa menjalankan hehe. Saya tidak tahu bagaimana dengan prosedur ini di daerah lain. Yang lebih banyak saya temukan dalam pengembaraan di dunia dinas kesehatan dan puskesmas, tidak semua kepala dinas yang mungkin karena pekerjaan dan kondisi di wilayahnya, bisa fokus untuk mengembangkan Simpus dengan sungguh-sungguh. Kadang malah Simpus hanya menjadi gebyar waktu launching nya, tetapi implementasinya ? Minim sekali. Bukan hal yang aneh pengadaan komputer-komputer yang harga proyeknya juga sudah berlipat-lipat, akhirnya hanya menjadi barang pajangan atau bahkan jadi alat yang memang bukan untuk tujuan awal pengembangannya.

Demo Simpus Jojok di waktu istirahat.

Demo Simpus di waktu istirahat.

Kesempatan ngobrol lebih dekat dengan Pak Pujo terjadi ketika waktu istirahat. Sambil makan siang, saya sempat berbincang sambil menyampaikan beberapa pernyataan yang perlu saya konfirmasi langsung dari presentasi beliau.

  • Pertama, ketika beliau menyampaikan bahwa kalau membeli program dari programer, repotnya ketika upgrade, sedikit-sedikit minta tambah. Saya sampaikan kepada beliau kalau saya menggratiskan semua upgrade untuk modul Simpus, bahkan dari pemakai Simpus pertama saya. Saya juga setuju dan sudah melaksanakan dari dulu yang beliau sampaikan, kalau software selalu dikembangkan dengan masukkan daerah lain. Simpus saya bahkan menerima masukkan dari para staf puskesmas yang bahkan kadang diluar hal-hal teknis dan standar yang saya pikirkan.
  • Kedua, pernyataan bahwa software Ngawi gratis. bagaimanapun juga saya butuh kepastian karena saya juga sering sampaikan di daerah lain kalau Ngawi menggratiskan softwarenya untuk dipakai di daerah lain. Menurut beliau memang gratis, tapi dengan MOU dan juga dengan tambahan biaya operasional untuk pelatihan. Hehe.. langkah yang cerdas menurut saya.
  • Ketiga, tentang aplikasi Simpustronik sendiri, yang berupa file Access dan Excel, bagaimana dengan lisensi aplikasi induk MS Office yang dipakai untuk menjalankan sistem ini. ( ini yang membuat saya tambah salut dengan beliau, beliau berkata,”Wah mas, kalau dari awal sudah mikirin itu kita bisa gak segera jalan. Nanti saja ke depan sambil kita benahi…”). Benar-benar Jurus Bonek Ketaton untuk membuat Simpustronik hehe.. Untuk hal ini saya sempat juga ngobrol dengan dr. Rudi. Menurut beliau, memang sudah ada rencana ke depan untuk mengembangkan Simpustronik dengan program open source semacam Open Office.
  • Keempat, ini agak pribadi. Saya sempat minta maaf karena sering membicarakan Simpus Ngawi (dan juga Simpus Purworejo) untuk contoh daerah lain, tanpa ijin beliau. (Hehe… lega sudah bisa menyampaikan hal ini). Niat saya cuma sederhana, supaya daerah lain bisa meniru komitmen pengembangan SIK yang saya anggap memang melebihi daerah lain. Tapi yang jelas, satu hal paling penting yang patut ditiru adalah dua daerah itu memang sama-sama saya pandang berhasil merubah satu bagian penting dalam pengembangan sistem.. yaitu merubah Budaya Kerja yang ada dalam organisasi.
  • dan Kelima saya juga menyampaikan ke beliau bahwa saya sangat sering menganjurkan daerah lain dari luar jawa, untuk berkunjung ke Ngawi dan Purworejo, hanya saja biasanya saya tambahi, “Silahkan studi banding ke Purworejo dan Ngawi, tapi softwarenya beli disini”. Haha… kami berdua hanya tertawa lebar…

Pada kesempatan lain, saya dengan Pak Erwin juga sempat sedikit bercerita bagaimana keterlaluannya ketika mengadakan pelatihan SIK di satu daerah, yang sangat amat berorientasi proyek, sehingga hal yang terjadi kadang bertentangan dengan harapan beliau sebagai seorang pengembang SIK. Wajah sebel Pak Erwin tidak dapat disembunyikan ketika bercerita hal yang memang sangat tidak diharapkan tersebut.

Masih banyak hal lain yang bisa dituliskan disini dari pengalaman para narasumber yang datang. Banyak informasi terutama ketika duet Pak Bambang menyampaikan presentasi berkaitan dengan kebijakan dari pusat seperti KepMenkes tentang SIK dan juga program SIKNAS yang entah mau seperti apa ke depannya. (hehe… mungkin bisa diganti program SIK MAS…, Sik to Mas… sabar…) . Terlalu panjang kalau harus saya tulis dalam satu posting ini. Mudah-mudahan teman-teman blogger yang kemarin hadir seperti mas Chandra, Mas Ugik, Mas Fahrizal, yang akan menuliskannya. Untuk materi dan pengalaman berharga yang lain? Sekali lagi saya sarankan, silahkan mengunjungi Ngawi dan Purworejo, tapi … (jangan lupa mas RaharjoπŸ™‚ )

NB : Terima kasih buat mbak-mbak panitia yang telah repot…

Mbak-mbak panitia...

Mbak-mbak panitia...

29 Tanggapan

  1. Waduh Mas, saya belm sempat memposting mengenai seminar sehari yang diadakan di Gedung Ismangun tmpo hari…. Ntar dech tak posting….lg banyak banget tugas ne….πŸ˜€

    Mas Jojok, turunin ke saya dong….ilmu kanuragannya tentang cara buat software SIMPUS agar saya bisa menerapkannya di Nanggroe Aceh Darussalam….πŸ˜€

    Hebat Softwarenya…. Angkat topi saya untuk senior yang satu ini….πŸ˜€
    He….πŸ˜€

  2. halah.. tugas dari pak Anis toh ? posting dulu, lebih penting haha..

    mau ilmu kanuragan Simpus? gampangggg… ini saya juga dah dapat ilmu dari Empu Pujo dari Ngawi dan langsung saya terapkan hari ini.. “Kita bikin MOU dulu” hahaha….gak usah repot-repot bikin sendiri, lha yang sudah jadi ada kok.. (bener-bener jurus promo nih…)

  3. Mas, headernya banget keren tuch….πŸ˜€
    Kalihatannya Mas jojok cocok banget jadi model untuk ikut iklan promosi Motor ne…. Ha….πŸ˜€

    Kenapa gak dari dulu aja dipasang headernya Mas????
    Emmm, nampaknya pendapatan dari mata pencahariaannya selama udah mulai kelihatan nech…. Tuch buktinya, udah ada MOTOR baru….πŸ˜€

    Wakakkkk….πŸ˜€

  4. haha… keren, kan aku bikin burem, keliatan gantengnya. kalau dibikin close up… pls dehhhhh :))

    Motor itu dah lama kok mas, itu saja mbikin tabungan tak bersisa, belum sanggup beli Ninja haha..

  5. Jok, sekalian gak gawe komik Simpus ala Jojok?

  6. lagi nggolek komikus e..πŸ˜€ kok kayak tau saja planning ku dirimu itu haha…

  7. …ning nek nggawe Komik ojo seneng ngubah crita ora podho karo kasunyatane …contone:
    …Pembicara pertama, pedagang asongan Simpus, kemudian Pak Erwin, team pak Sururi yang mengawal Sikda Purworejo, kemudian Pak Pujo sendiri, yang saat itu ditemani kenalan lama saya, dr. Rudi. Kemudian hadir juga dr. Rina dari DKK Wonosobo, dan yang juga menarik diikuti adalah dua pembicara ibukota, duo Pak Bambang. Beliau berdua adalah pejabat dari Binkesmas dan Pusdatin. ..
    mungkin soale sing ngundang..dadi gak disebut-sebut sebagai pembicara juga ya Jok….he..he..he..πŸ™‚ sampurasun…pendekar lereng Merapi…

  8. hahaha… matur nuwun.. kamsiah.. kelupaan tenan aku. dah aku edit tuh hehe…
    rampesssssssssssssssss….

  9. ha..ha…ha… dasar pendekar simpus era brama kumbara…….

  10. obrolan singkat bukan sing…cut ?
    lha kok panjuaaaang banget…capek membacanya.
    ideku hilang…..
    hai Mas Salam canda….

  11. yah itulah cerita pak, singkat obrolannya, panjang pengantarnya hehe…sayang bapak gak hadir..

  12. ceritanya panjang kayak kereta barang mas
    kadipaten-kadipaten yang hebat, dengan segala pernak-perniknya
    ning koq kadipaten sukoharjo mungkin milih “pendekar budiman” aja, yang mau membantu kita mencerahkan kadipaten kita untuk mengentaskan phobi simpus ato malah phobi data

    salut deh buat pak pujo, pak erwin, bu rina dan semuanya

  13. weh.. jgn pake embel2 budiman.. belum merasakan jurus tangan seribu menagih tagihan saya ya ? haha…

  14. Mas Jojok, cerita nya panjang bangeet. dibagi dalam bab-bab gitu akan mudah ngerti saya…….kok sarannya kayak thesis aja. btw.Yang menarik buat saya dari cerita ini, IT ataupun Simpus cepet banget berkembangnya. di dunia marketing persilatan simpus— sang pelopor belum tentu bisa unggul menghadapi sang challenger— so, kalau merek simpus Jojok mau eksis, you mesti kuatkan merek itu dengan menjual sesuatu yang special dan tidak mudah untuk ditiru…katanya diktator begitu(pembaca diktat). selain itu you mesti kasih value yang beda dengan simpus yang lain, misal……..dikasih onde2 ( kok nyasar ke makanan). yang jelas……jangan pernah berhenti mengembangkan diri, dengar apa kebutuhan user dsb-dsb ( gaya motivatornya keluar nih!).

  15. namanya juga penggemar Kho Ping Ho bu hehe… kalau cerita harus panjang.
    terima kasih buat masukkannya, saya simpan dalam-dalam biar gak lupa..

    jadi pesen ndak (gaya pedagangnya keluar hahaha…)? simpus jojok beda dengan yang lain bu, ada bonus bakpia, ayam bakar, kadang-kadang bonus sate kambing juga :))

  16. Setahu saya, simpus jojok ndak pernah kasih bonus atau value.
    Kalau jojok yang nodong minta ondΓ¨-ondΓ¨, bakpia plus sate kambing, naaa itu hobi’nya..

  17. ssstttt…..jangan diomongin bu, nanti gagal ngrasain sate kambing ponorogo deket alun-alun haha… (ada gak sih?? )

  18. mas Jojok sip muantap tenan, saya bersyukur bisa ikutan Seminar kemarin. Bisa ketemu dengan banyak ahli kanuragan … he ..

    wah apalagi saya mas, saya juga bersyukur banget bs ketemu para suhu kemarin..hehe.. banyak yang bisa ditiru. Kalau bisa saya mengajak pak Pudjo ikut keliling biar ketemu kepala dinas di daerah lain. Tegasnya itu lho yang harus ditiru…

  19. upss.. telanjur pindah tempat, tak lanjutin disini komennya.
    Bulan depan rencana tuh ada diskusi mengenai proses integrasi data. Dulu Pak Chandra kan pernah nanya toh? nah datang lagi saja hehe.. awal maret sih usulnya pak Nurdin (yg ngerjain PWS KIA). Kebetulan Pak Anis jg setuju..

    saya rencana mau ngikut, bisa belajar juga…

  20. Asik tuh mas, saya sangat tertarik.
    Semoga dapat izin & SPPD dari Kantor lagi …..
    soalnya biasa …….

  21. Kalau ada diskusi, mbok yaΓΆ dkk tempatku diajak. Biar ikutan agak maju dikiit gt.

  22. hehe.. ditunggu mas Chandra.. coba kontak Pak Anis..
    Bu Mir..mbok ya kalau ada kabar njenengan juga ngithik-ithik DKK juga hehe…

  23. Saya kira acara besok sama dengan yang mas Jojok dan saya rasan-rasan. Acara kecil aja, teknis, dan membahas tentang integrasi data simpus dan PWS KIA. Kalau di Malaysia ada acara yg namanya connect-athon, ini hampir mirip seperti itu.
    Saya pernah mengusulkan acara ini pada waktu ada seminar di Wonosobo, pak Armunanto juga ada, termasuk salah satu staf pak Nurdin.
    Nanti kita cari tanggal yang tepat. Jadwal dan topik diskusinya kita bahas lagi.
    Chandra: moga-moga bisa ikut ya..Sulteng khan juga lagi nyoba dengan PWS KIA juga tuh.

    Okeee… ditunggu beritanya.. Mungkin nanti kita juga bisa undang dari Wonosobo juga yang ditempati dua sistem calon integrasi itu..

  24. Jojok: justru undangan utama malah untuk Wonosobo kok….

    hahaha… iyo. Tulalit kih wis bengi…

  25. Lah iki, baru mak nyusssss….udah ada fotonya….πŸ™‚

  26. hehe…ssstttt.. jangan bilang-bilang sama orangnya ya, nanti ditagih royalti nya sama panitia haha…

  27. Wach..Wach… terlambat gabung ney…
    Blog yang sangat Bagus…
    Disini saya dapat menemukan “Jejak Petualang”
    dari sisi yang berbeda…

    Harusnya petualangan ini masuk dalam acara disalah satu Stasiun TV NasionalπŸ™‚
    Pasti Rattingx bagus….
    dan Iklannya Buaaaanyaaaak…

  28. Selamat datang mas Herman… hehe.. wah masak baru keluyuran saja dah jejak petualangπŸ™‚

    tentang harapan supaya bisa menular ke Kaltim, mudah2an saja bisa segera kesana. Menunggu MOU haha..

    untuk program rawat jalan dan rawat inap, memang rencana nanti akan dibuat modul terpisah, tapi kita usahakan tetap ada satu sinkronisasi data yang mudah. Tapi ke depan kita akan sediakan satu modul terintegrasi kok sapa tau besok semua puskesmas di Indonesia punya komputer sebanyak yang dipunyai puskesmas di Ngawi yang sampai 15 lebih itu… hehe… cuma kita harus punya Pak Pudjo-Pak Pudjo yang lain…

  29. Saya rasa di Kaltim Target Komputer sampai 15 tidak masalah pak… (Sombong ney!!!)πŸ™‚πŸ˜€ yang jadi masalah adalah Tenaga Pengelola tidak ada, sedangkan tenaga teknis untuk pelayanan saja kurang, di tempat saya dalam terdapat 1 Puskesmas yang jumlah pegawainya hanya 5 orang, 1 orang Administrasi, 1 org Bidan, 2 Perawat, 1 Dokter (tetapi skr sdh tdk ada krn sedang pendidikan spesialis)
    Sbenarnya penyebaran tenaga yg kurang merata disana, terkonsentrasi di sekitar Ibukota Kabupaten .

    Jadi disana memang telah direncanakan untuk semua Puskesmas melakukan Rawat Inap, mengingat kondisi Geografis Kutim yang sulit, sehingga jika merujuk pasien ke RS memakan waktu yang lama. Mengingat Jumlah tenaga jadi hanya beberapa Puskesmas yang telah menjadi Rawat Inap.

    MoU?!? asal bisa PL Mas…πŸ˜€

    Nah mas Andi yang lebih tahu kondisi di daerah pasti nanti bisa menentukan mana yang paling pas di implementasikan disana. 15 komputer? gak usah ngiri sama Ngawi lah haha…di sana semua memang terpakai. Lha kalau pegawainya cuma 5 orang masak mau dikasih 15 kompie hehe…

    Untuk penyebaran tenaga kesehatan, nah itu jago nya Prof Hari atau Pak Anis, atau mungkin dari minat KMPK kayak Pak Mub, Pak Laksono, yang bisa memberikan konsultasi, informasi dan lain-lainnya. itu nanti kan banyak berkaitan dengan kebijakan daerah utamanya dengan finansial..πŸ™‚

    PL ?? ayo aja hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: