Gimana kalau … ?

Pertanyaan yang standar, biasa, dan bahkan kadang-kadang juga sepele, tapi dampaknya luar biasa terhadap implementasi Simpus. Pertanyaan ini sering saya dapat, baik dalam pelatihan maupun dalam presentasi-presentasi. Dari level operator puskesmas di loket, sampai level pejabat di pusat, seperti yang ditanyakan dr. Bambang dari Binkesmas, minggu kemarin dalam seminar di Simkes. “Kalau listrik mati gimana dengan Simpus anda?”.

Hehe…lucu juga kadang-kadang ya, pertanyaan yang sangat gampang jawabannya itu masih ditanyakan terus. Tapi paling tidak memang harus ditanyakan supaya para pengembang seperti Team Purworejo, Team Ngawi, Team UGM, dan Saya sendiri juga sudah punya antisipasi untuk menghadapi. Nah, yang menjadi masalah sebenarnya adalah bagaimana kita menyiapkan solusi untuk menghadapi masalah yang timbul karena kinerja salah satu BUMN itu memang agak kurang mengesankan akhir-akhir ini.

Solusi, sebenarnya juga tergantung dari sistem Simpus yang kita kembangkan. Seperti yang saya sampaikan kemarin, ada beberapa macam Simpus, baik dari sisi pengguna, maupun dari desain pemrograman. Solusi pasti, entry dilakukan setelah listrik nyala lagi. Tapi ini juga ada masalah, kalau desain Simpus kita membutuhkan beberapa langkah untuk melakukan entry data satu pasien puskesmas, kemudian membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk memasukkan data itu, bisa ditebak bahwa data akan numpuk bahkan tidak akan dimasukkan. Pegawai puskesmas kita bukan pegawai swasta seperti perbankan yang bahkan harus lembur entry data kalau memang data belum selesai. Pegawai puskesmas kita, adalah pegawai yang punya karakteristik sendiri kalau waktu sudah menjelang siang..πŸ™‚

Kalau kita mengimplementasikan Simpus Online, yang setiap ruangan “mencegat” data, jelas proses entry pasti membutuhkan waktu yang lama. Saya sudah melihat beberapa Simpus Multi user ataupun Simpus Web Based, dan semua hampir mempunyai kesamaan dalam proses entry. Butuh beberapa langkah supaya satu pasien bisa dimasukkan. Pasien dimasukkan dulu, posting, kemudian membuka halaman untuk memberi diagnosis dan obat, posting, selesai. Langkah-langkah yang sederhana tapi cukup membuat operator enggan. “Harus keluar masuk beberapa tampilan dulu untuk memasukkan data mas”, begitu rata-rata jawaban yang mereka berikan kalau saya tanya kenapa enggan memasukkan data yang telat itu. Nah agak terhindar dari permasalahan seperti itu, supaya proses implementasi tetap jalan, siapkan saja generator. Selesai.

Bagaimana dengan Simpus Jojok ?

Hehe… ternyata rancangan sistem single user yang saya kembangkan terlebih dahulu, sangat terasa kelebihannya ketika menemui masalah listrik ini. Sistem yang ‘menunggu’ data pasien setelah pelayanan selesai, membuat proses entry data bisa dilakukan kapanpun, dimanapun, dan dengan kecepatan yang bisa diandalkan untuk entri data. Simpus saya memang tidak terikat dengan kondisi listrik yang byar pet, karena entry data tidak mengikuti alur pelayanan pasien, tetapi menunggu semua data lengkap baru dimasukkan. Kalaupun listrik mati seharian, cuma nyala malam hari, ya masukkan saja datanya malam hari. Simpel… Kalaupun puskesmas sudah mengimplementasikan modul Simpustu di pendaftaran, ya tinggal kembal lagi ke proses manual, menulis data kunjungan pasien di lembar register Simpus, setelah selesai dan listrik nyala, baru di entry. Standar Simpus Jojok untuk waktu entri data normal adalah maksimal satu menit untuk satu pasien. Cukup cepat untuk mengejar data.

Pengalaman implementasi di Timika mungkin mewakili kondisi tersebut. Di beberapa klinik disana, tidak ada listrik siang hari. Hanya malam hari listrik nyala. Nah Simpus saya di sana dipasang pada laptop yang ada di setiap klinik. Setiap hari, begitu laptop nyala, data kunjungan kemarin langsung di masukkan, balapan dengan baterei laptop habis. Kalau batere laptop nyerah dan masih ada data, lembar register pun dibawa pulang. Malam hari sambil laptop di charge, data yang belum masuk di entry. Pagi siap untuk meneruskan entry data yang belum masuk. Beberapa klinik disana sudah cukup beruntung memiliki genset.

Pak Willem, pegawai klinik di Timika menggunakan laptop dan berpacu dengan baterei untuk entry data..

Pak Willem, pegawai klinik Poumako di Timika menggunakan laptop dan berpacu dengan baterei untuk entry data..bisa jalan juga kok Simpusnya.

Jadi kalau ada pertanyaan seperti di atas, sebenernya bapak-bapak, ibu-ibu, sodara-sodara baik dari pusat, dinas kesehatan propinsi, dinkes kabupaten maupun puskesmas yang membaca blog ini, pertanyaan itu sekali lagi sangat gampang jawabannya. Kalau listrik mati ? ya komputer mati, Simpus gak beroperasi, proses entry terhenti, data ngantri, ngetiknya nanti-nanti… . Ya.. itu saja jawabannya. Gitu saja kok repot ya Gus…πŸ™‚

20 Tanggapan

  1. Ya itu masalahnya Mas
    Disini masih berlaku pematian listrik bergilir, kalau SIMPUS memang bisa ditunda, lha yang sering itu pas operasi e….mendadak mati listrik.
    Ada tips dan trik buat memtivasi teman2 di PKM agar rajin mengisi SIMPUS ?
    SIMPUS di Mojoagung dibuat seperti di rumah sakit jadi entrynya banyak dan lengkap sekali,tapi masalahnya karena entrynya banyak jadi semua itu males mengerjakan. Yang masih ngisi simpus cuman di bagian Loket aja, itu juga gak mesti lengkap, trus bagian laen udah gak ada yang ngisi.
    Gimana dng Mas Jojok ?? ada tips dan trik ??? masak kita harus ikutan ganti SIMPUS Jojok jugaπŸ˜€

  2. Gimana kalau….jika….seandainya….andaikata…. ada alat yg bisa menyimpan arus listrik dalam kapasitas yg besar….sudah tentu simpusnya berjalan dengan lancar mas jojok….πŸ™‚

  3. @Puskesmas Mojoagung.
    waduh ini yang mas pak atau mbak ibu yang nulis…

    Tips dan Triks ? waduh panjang banget kalau saya tulis semua, bisa satu posting sendiri bu. Yang jelas, banyak jawaban kenapa mereka malas entry. Di puskesmas lain pernah saya temui yang Simpus nya seperti Jombang, yang di entry cuma di loket thok, itu saja utk nyari no kartu. Malah baru sabtu kemarin bu saya ketemu kayak gitu. Salah satu jawaban adalah,”Lha ngapain kita entry wong kita gak dapat liat output nya”. ada lagi jawaban, “orang2 kita susah mas, sudah tua2”, ada lagi yang bilang gini, “Manual saja cepet kok”.

    Salah satu yang bisa saya sarankan, tumbuhkan situasi bahwa mereka butuh Simpus. Nah itu bisa diliat kalau mereka entry data semua, terus diliatin, ini lho kalau entry nanti bapak2 ibu2 sodara2 bisa nyari data dengan mudah, dari bidan, perawat, petugas pustu, sampai petugas SP2TP. Kalau mereka butuh, nanti kebalikannya bu, Simpus macet pasti mereka ngomel hehe…Saya ada beberapa puskesmas dengan kunjungan diatas 150/hari, Simpus gak boleh ditinggal, karena hampir semua pembuatan rekapitulasi memakai Simpus.

    Tips yang lain, puskesmas itu gak perlu dibebani sistem yang rumit kayak rumah sakit, level nya jauh bu dr beberapa segi dan beberapa hal. Jadi kalau mereka dikasih sistem kayak rumah sakit terus berharap mereka bisa kerja seperti rs, ya perjalanannya agak jauh bu. Itu nanti harus diawali dari kepemimpinan ala Pak Pudjo kemarin. Reward Punishment nya ada.. kalau tidak ya jangan salahkan kalau mereka bilang “gak ngerjain itu saja saya tetep gajian kok”. Pakai saja sistem yang simple duluπŸ˜‰.

    Tips terakhir, nah ibu sudah menulis sendiri di bagian terakhir komentar ibu..

    Sekian, maaf kalau masih kurang berkenan, sampaikan salam untuk dik Ponari …πŸ™‚

    @Faisal Akbar
    Sabar bang, sudah ada teknologinya kok, cuma agak mahal..

  4. kalau malas entry simpus, sama donk… Yang butuh data aja pada mualessssss apa lagi yang gak butuh… hemmm enakan entry yang lain

  5. Akbar : Di Puskesmas saya kira disediakan UPS juga bisa koq, tapi hanya bertahan beberapa jam, mau yg lebih lama ada tapi duitnya cukup g?!? Di Kutai Kertanegara (Tenggarong) Klo tidak salah menggunakan Solar Cell ya Mas Jojok?!? Nach itu mungkin salah satu solusi….

    Saya setuju dengan menggunakan Aplikasi yang tidak rumit buat petugas Puskesmas, Mau menyentuh dan menggunakan Komputer saja sudah syukur…

    Mas nanya ney?!? Datanya tidak langsung di Entry ke Komputer ya?!? Jadi dicatat dikertas (Formulir) dulu kemudian datanya di Entry lagi?!? Apa tidak kerja 2 kali mas?!? Apa kondisi itu hanya pada saat mati lampu?!?

  6. @Bu Mir : entry apaan tuh bu ? hehe… mungkin di puskesmas ibu butuh mendatangkan Pak Pudjo hehe…

    @Bang Andi : Tahun kemarin Pak Harto dan Team Simpus sudah mulai mencoba cari-cari informasi soal solar cell, sayang saya bukan bergerak di hardware jadi kurang begitu tahu. Tapi di Jakarta kayaknya dah banyak yang jual..Mudah2an saja tahun ini dah terealisasi di puskesmas.

    Untuk soal entry, Simpus saya memang membutuhkan pencatatan terlebih dahulu di kertas, baik oleh petugas di puskesmas, atau pun oleh pelayanan di luar gedung. setelah data lengkap, baru di entry. Sama sekali gak kerja dua kali kalau nanti sudah berjalan kita bisa meninggalkan register-register lama itu..πŸ™‚ Kebetulan ada beberapa kondisi yang mensyaratkan pencatatan di kertas.

    kalau tidak mau nulis dulu, atau paperless, bisa saja.. aplikasikan saja Simpus yang online itu.

  7. Oooo iy… Mas Jojok kan SIMPUS-nya ada 2 versi y?!
    Tetapi yg Online itu bisa dipakai Offline y!?
    Di Tenggarong Pakai yg mana Mas?!?

    Masalahx gini mas…
    Biasanya Petugas malas untuk entry data, lebih baik langsung entry di Komputer biar g kerja 2 kali…

    Selama ini ditempat saya petugas Kabupaten (Dinas Kesehatan) memberikan formulir ke Puskesmas, selanjutnya form tsb diisi, nah nanti yg entry ke komputer petugas kabupaten, itu pun hanya menggunakan excel, nanti jika saya minta mereka entry ke komputer malahan protes… Jadi selama ini laporan yg dikirim oleh puskesmas berbentuk paperless, selanjutnya yg mengolah Dinas Kesehatan, itupun kalau sempat diolahπŸ˜€πŸ˜€

  8. @Mas Jojok:
    Mau cerita sekalian laporanπŸ™‚
    Hari Senin lalu, waktu setting Simpus webbased di Magelang, terjadi beberapa kali listrik mati. Yang jelas, server tidak mati, karena ada UPSnyaπŸ™‚ Tapi semua komputer lain mati. Listrik mati disebabkan oleh karena belum dinaikkannya daya (masih nunggu proses di BUMN yang Mas sebut di atas ituπŸ™‚ ).

    Nah untuk mengantisipasi terjadinya masalah yang sama di kemudian hari, mungkin memang rencana yang dulu pernah kita bicarakan itu perlu dipersiapkan, dan disampaikan pada petugas di lapangan. Yaitu menempatkan Simpus desktop sebagai cadangan. Betul gitu Mas?πŸ™‚

  9. @Andi Herman :
    Simpus saya sudah ada 2 versi mas, siap segala kondisi hehe.. mungkin kemarin sudah saya tunjukkan di demo seminar. Untuk Tenggarong yang dipakai saat ini adalah versi single user dengan simpustu sebagai program bantu entry data. Tapi Pak Harto mencoba implementasi Simpus Multi user tahun ini di beberapa puskesmas kalau memungkinkan. Kita memang mengolah data langsung dari level raw data, bukan berupa format rekapitulasi yang rentan data imajinasi hehe..

    @Albert :
    Thx.. Laporan diterima…selanjutnya nunggu PLN bekerja hahaha.. Nah Simpus desktop yang single user tidak bakal kita hilangkan karena itu memang rencana B kalau listrik mati.

  10. Memang bener sih mas jojok….tp kantong berbicara lain….😦
    Udah kantong kempis….bolong lagi…. Ha….πŸ˜€
    Lengkap dech….πŸ˜€

    Oiya Mas, saya masih blm sempat posting mengenai Seminar tempo hr….tp saya udah posting mengenai pengalaman saya ketika datang ke seminar tersebut….πŸ˜€

    Jangan diketawain ya….πŸ˜€

  11. Makasih Mas Infonya…. Nanti saya tanya Pak Harto, untuk mendapatkan info lebih lanjut termasuk proses pengadaan barang/jasa

    saya nunggu saja mas herman..mudah2an bisa berlanjut.

  12. Mudah2an Iklim Politik mendukung…
    Ney lagi Pemilu…
    Tahun 2011 Pemilihan Bupati
    Mungkin mas Jojok sdh pengalaman berhadapan dengan Kontraktor Lokal….
    Kebetulan Kasubag Penyusunan Program dulu dari di RS daerah dan mengadakan SIMRS, ternyata banyak preman yg berusaha mengagalkan prosesn lelang…
    Makanya saya studi banding ke Tenggarong dulu, untuk mengetahui proses disana…

  13. haha.. wah gak disana gak disini kok ketemu preman lagi..πŸ™‚ santai saja mas herman, saya santai saja kok..

  14. Ini bukan cerita simpusnya mas Jojok, tetapi cerita bangsa ini yang katanya bernama INDONESIA….. Kalo ada pertanyaan yang mudah dijawab dan mungkin si Penanya tahu jawabannya…. maka pura-puralah dia bertanya seolah-olah o’on, Kalo bisa dipersulit kenapa musti di permudah, kalo bisa o’on kenapa musti harus pura-pura pintel (r)…. Kalo Listriknya mati ya…. mestinya **** **** untuk cari solusinya. Anak kecil aja bisa……

    saya edit pak comment nya…πŸ˜‰

  15. Selamat datang pak Adhi, akhirnya datang juga di kolom komentar, mari berbagi cerita pak..

    untuk format jamkesda/jamkesmas sudah saya edit, yang rekap total sudah bisa dipilah untuk per jenis, per unit atau per lokasi pemeriksaan, termasuk rekap berapa yang bayar berapa yang gratis untuk tiap tindakan.

    tinggal untuk cetak by name yang belum, gampang sih tapi untuk pengelompokkan kolom tindakan belum saya create variabel yang baru. mudah2an satu dua hari ini selesai pak, mohon ditunggu…

  16. Udah nyampe Timika, Mas Jojok…. ??

  17. Sampun bu…πŸ™‚ tahun kemarin..

  18. wah, meriah banget….. mas jojok malah jadi konsultan BTL (Biro Teknik Listrik)

    hehe…mungkin keliatan pinter nyetrum mas…

  19. ass.kum p jojok..
    sy ada sdkit problem nch.komptr yg sy pke srg restart.tktnya berimbas hilangnya data simpus yg sdh ada.rencana prgrm dan smua data sy pindah ke komptr yg baru(spec&memory >bsr). tp komptr yg bru ini terlnjr sdh terinstal SIMPUSTU.
    pertnyaan sy :
    1.Bgmn cr menghpus SIMPUSTU (soale dikontrol panel-add&remove program tdk ada)pengalman sya pernah sy cb menghapus file yg ada di start-all program,haslnya simpustu mash ada shngga SIMPUS ga bs di install.
    2.bgmna cara memindahkan data dari SIMPUS komptr yang lama ke SIMPUS komptr yg baru.
    trima kasih…..

  20. 1. Untuk menghapus manual, masuk saja ke folder C:\Program Files\Simpustu. Atau install langsung Simpus di tempat yang ada Simpustunya, otomatis pembacaan data akan dialihkan ke Data Simpus.

    2. Untuk memindahkan Simpus, cukup pindahkan folder Database dari C:\Data Simpus di komputer lama ke folder yang sama di komputer yang baru. Tentunya komputer yang baru sudah di install Simpus terlebih dahulu. Tumpukki saja folder atau data yang ada, data akan langsung terbaca seperti di komputer lama.

    kalau komputer sudah sering restart, ada beberapa kemungkinan pak. Mungkin beberapa komponen sudah mulai jelek, seperti memory misalnya, jadi tidak tahan dipakai lama (over heating).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: