Kabar pagi dari satu daerah…

Entah kebetulan atau memang pas momennya jadwal proyek berjalan, belakangan beberapa puskesmas pemakai Simpus Jojok, dalam waktu yang hampir bersamaan kontak ke saya untuk bercerita tentang pengembangan Simpus yang dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten yang bersangkutan. Beberapa diantara mereka bercerita tentang akan adanya proyek pengembangan Simpus bernilai ratusan juta yang bakal dilaksanakan dinas kesehatan (di daerahnya masing-masing tentu saja). Ada juga yang cerita ada programer baru kenalan staf dinas kesehatan yang melihat-lihat Simpus saya sambil menyampaikan akan adanya pengambangan baru dari Simpus. Memang banyak diantara para pengelola Simpus itu sudah menjadi teman akrab. Sata dan mereka sering kontak untuk sekedar ngobrol ataupun meminta penambahan beberapa fungsi keluaran Simpus.

Sabtu pagi ini, kontak terakhir datang dari seorang pengelola Simpus di sebuah kabupaten yang sudah beberapa tahun terakhir memakai Simpus (eh tidak ding…Sabtu sorenya, ada lagi telpon dari pengelola Simpus dari lain daerah). Pagi-pagi sebelum saya sempat tidur lagi (hehe…), beliau menelpon untuk kemudian memberi kabar baik dan buruk. Kabar buruknya dulu, Mas X cerita kalau Simpus mau diganti dengan program baru hasil dari proyek pengadaan yang diadakan dinas kesehatan. Kabar baiknya, kabupaten yang bersangkutan sepertinya tidak ketinggalan untuk ikut berlomba menyongsong Agustusan tahun ini dengan Program Towerisasi, membangun menara-menara komunikasi di puskesmas-puskesmas, dengan harapan data yang ada di puskesmas secara real time bisa terbaca oleh dinas kesehatan.

Mas X kemudian lebih banyak bercerita bagaimana beliau “ngeyel” untuk tidak berpindah ke program baru, ketika diadakan sosialisasi di dinas kesehatan. Ditanyakan beberapa hal mengenai Simpus ke calon rekanan baru yang berhubungan dengan Simpus, seperti bagaimana proses alur data, proses input data, proses pengolahan data, sampai proses operasional harian yang bakal dilakukan dengan Simpus yang baru. Dan dengan berapi-api Mas X bilang kalau program yang baru sangat mentah, jauh dari kesiapan untuk diimplementasikan di puskesmas. Dengan sangat rinci disampaikan langkah demi langkah untuk memasukkan data seorang pasien ke dalam software yang baru. Beberapa hal yang masih saya ingat misalnya data yang harus tiap hari selesai dimasukkan ke dalam software, data yang tidak bisa lagi di edit kalau sudah dimasukkan, output yang masih jauh dari kebutuhan puskesmas, sampai Mas X bercerita “Bayangkan Mas Jojok, untuk memasukkan tanggal lahir masak harus klik mundur sampai puluhan kali biar ketemu tahun kelahiran, ya kalau bayi, lha kalau sudah mbah-mbah?? “. He he … mungkin lupa membuat input box untuk entry tanggal, bukannya Combo box.

Mungkin saking semangatnya mempertahankan Simpus Jojok, akhirnya Mas X ini sampai menginstall Simpus saya di laptop dinas kesehatan supaya para staf dan rekanan baru bisa melihat bentuk Simpus saya Jojok. (duh masssss… mudah-mudahan saya harus siap-siap bersyukur kalau nanti output-output Simpus ditiru lagi). Saya juga jadi ketawa geli ketika Mas X cerita kalau di sosialisasi itu disampaikan, ke depan jaringan online itu bakal nyambung sampai ke pusat, dengan Departemen Kesehatan di Jakarta sana na na na…. (Mungkin beliau belum tahu kabar terbaru SIKNAS yang terengah-engah gak jelas kabarnya itu).

Saat itu, saya lebih banyak mendengar cerita dari Mas X, sambil sesekali memberi komentar kalau memang ada hal yang sedikit saya tahu tentang Simpus Online. Cerita dari Mas X tadi memang juga sudah beberapa kali saya dengar dari daerah dan dinas kesehatan yang berbeda. Saya hanya berfikir, mau gimana lagi kalau itu memang sudah menjadi hal yang dikehendaki dari para pemegang otoritas kebijakan ?. Saya jadi ingat ketika mengikuti seminar sosioteknis dalam komputerisasi puskesmas dan dinas kesehatan beberapa waktu yang lalu. Memang banyak faktor non teknis yang kadang lebih berkuasa dalam menentukan program dan sistem apa yang akan diterapkan di dua institusi itu. Banyak pertimbangan yang (kadang buat orang seperti saya yang hampir tiap hari keliling puskesmas) tidak masuk akal. Pemaksaan kemenangan suatu proyek kadang lebih diutamakan daripada memperbaiki dan mengembangkan sistem yang sudah ada. Saya jadi ingat ketika sedang mengikuti presentasi software di dinas kesehatan, seorang anggota DPRD dengan santainya ikut masuk dan duduk ditemani seorang “pengawal”, yang kemudian saya tahu beliau mengawal rekanan yang menjadi jagoannya. Atau saya ingat ketika seorang staf dinas kesehatan bercerita bahwa pemenang suatu proyek adalah rekanan titipan dari pejabat di daerah tersebut.

Kalau sudah gitu, terus gimana…?

Satu hal yang menghibur saya pagi tadi, Mas X bilang ,”Mas Jojok, saya gak bermaksud ngalem (memuji) njenengan, tapi banyak rekan-rekan pengelola Simpus yang hadir kemarin bilang Simpus Mas Jojok masih jauh lebih baik daripada yang baru”.

hehehe… terima kasih Mas… pagi-pagi anda sudah mendapat pahala karena membuat senang orang lain…

9 Tanggapan

  1. Jadi tertarik pingin lihat SIMPUS Jojok nih😀
    Jadi penasaran gitu. Memangnya SIMPUS Jojok itu simple banget ya ? Paling tidak kan sudah ada Mas X yang “Mbelani” SIMPUS Jojok mati-matian

    Sing sabar yo Mas, kadangkala kenyataan gak sesuai dengan harapan. Apalagi kalo yang pake bodyguard segala gitu ya………gimana ya ?

    Tetap semangat ngembangin SIMPUS ya…jangan menyerah hanya karena sedikit sandungan

  2. hehe… kebetulan saya kenal banyak orang yang seperti Mas X, mbelani mati-matian tapi akhirnya menyerah pada kenyataan🙂

    saya sih santai saja kok, prinsipnya kalau memang masih cocok dengan puskesmas monggo dipakai dan dikembangkan bareng-bareng, kalau gak ya beri masukkan gitu. O iya itu di sebelah box download ada tulisan dikit plus bbrp tampilan Simpus, monggo kalau mau liat.

    Semangat ?? jelassss…

  3. Kang, ketoke sampeyan layak mendapat penghargaan Menkes sebagai inovator sistem informasi puskesmas. Tapi, nek lagi hawa panas pemilu kayak gini ketoke ora direken…

  4. Halah… salah besar boss… jauh dari layak untuk penghargaan. Pedagang asongan gak masuk kriteria inovator. Lagipula mungkin beliau lagi mikirin SIKNAS hehe…

    @Pkm Mojoagung : terima kasih ilmunya, posting berikutnya mau saya praktekkan hehe…

  5. Susah ya Mas, pengambil keputusan kurang (atau malah tidak) tahu hal teknis, tapi dengan pede ambil kebijakan. Sayang sekali…

    Kenapa harus tower ya? Kalo dengan langganan koneksi internet (murah2an wis, pake GPRS minimal), bisa kirim data, kenapa mesti bikin tower? Belum biaya maintenancenya, pasti belum terhitung di awal. Tujuan utamanya kan cuma agar data sampai.

    Kalo harus real-time, apa ya sempat tiap menit mengamati perubahan data? Paling kan sehari sekali lihat datanya.

    … menghela napas …

  6. ambil nafas, siapkan nada dasar C minor..
    siappppppppp??? mari kita nyanyi bersama :

    “Itulah Indonesiaaaaaaaaa…..”

  7. ahhh..kapan kabupaten’ku ikut-ikutan semangat…masih kalem wae nich

  8. wah, semoga kabupaten ku terhindar dari virus-2 “proyek”,
    duh Gusti kang ngecat lombok kanthi maneko warni,
    mugi para pemimpin kulo panjenengan paringi pitudhuh kapurih boten kenging penyakit “towerisasi”
    amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: