Robohnya tower kami…

Towerku sayang...

Towerku sayang...

Pulang dari merger data di Polokarto, Sukoharjo, saya membaca berita dari satu surat kabar. “Angin Lisus Tumbangkan Tower”. Kaget dan sedih juga mengetahui akhirnya satu kekhawatiran yang selama ini saya dengar langsung dari para staf puskesmas tentang tower-tower di puskesmas bisa ambruk, terjadi juga😦

Dalam berita tersebut disebutkan, tower jatuh menimpa mobil boks, kemudian menimpa kabel listrik, akibatnya beberapa daerah mengalami lampu mati. Dan menurut kepala puskesmas, tower ini sudah terpasang sejak beberapa waktu yang lalu namun hingga saat ini belum dioperasikan.

Kok bisa ya ??

Peristiwa ambruknya tower ini juga terjadi belum lama ini di daerah yang kebetulan juga baru membangun jaringan data online dinas-puskesmas, dan juga terjadi di tower puskesmas, tower Simpus kalau orang puskesmas bilang. (kena juga deh Simpus nya…). Dan tidak mungkin dengan banyaknya angin puting beliung, kejadian seperti ini bisa menimpa di daerah lain.

Ada satu hal menarik yang saya temui ketika di suatu daerah mulai memasang tower-tower untuk Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA). Hampir semua staf  Simpus yang saya temui menanyakan bagaimana pemanfaatan tower yang sudah terpasang itu. Bagaimana kelanjutan program yang akan dipakai, dan beberapa kepala puskesmas dari puskesmas itu juga telah menyatakan rasa was-was nya terhadap tower yang telah terpasang.

Keluhan yang sama pernah saya temui di suatu puskesmas di daerah lain yang agak jauh dari wilayah ini. Petugas ini dengan sangat khawatir mengkhawatirkan kekuatan tower yang sangat tinggi itu karena melihat pondasi yang tertanam tidak cukup dalam, padahal beliau tinggal di rumah dinas di puskesmas, di samping tower.

Mengapa muncul kekhawatiran ? Apa tidak ada sosialisasi ke puskesmas tentang rancangan teknis tower ? Atau tentang keamananan tower ? penjelasan tentang kekuatan kabel, dalamnya pondasi tower dan sebagainya ? siapa yang bertanggung jawab kalau ada tower ambruk, atau kena petir hingga tv tetangga njeblug ? atau kah tinggal menyalahkan angin Lisus itu kalau tower ambruk ? jangan-jangan kita harus memeriksa besi towernya untuk memastikan besar diameter besi yang dipake… (berandai-andai saja hehe… jangan lakukan ini…saya tidak menyarankan anda untuk menaiki tower).

Permasalahan yang ada ketika mulai memutuskan tower-tower bermunculan di puskesmas, memang seharusnya sudah diantisipasi sebelumnya oleh pihak pejabat di dinas kesehatan. Amdal, perijinan (kalau ada sih), koordinasi antar sektor, dan juga antisipasi bencana sudah harus jelas.

Dari dulu (dan sampai sekarang !!!) saya selalu menyarankan untuk berpikir  ulang tentang towerisasi puskesmas ini. Banyak dinas kesehatan yang sekarang dengan bersemangat untuk membangun Sistem Informasi Kesehatan yang online, yang secara terus menerus menyalurkan data ke puskesmas, dengan harapan dapat memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kecepatan akses data. Dan hebatnya (atau sedihnya ya ), semangat membangun jaringan data ini sebelumnya tidak didahului dengan semangat membangun sistem informasi di puskesmas.

Akhirnya, seperti yang saya temui di beberapa daerah, tower-tower itu berdiri manis menatap langit menunggu data lewat.  Masih mending sih kalau dipakai untuk main internet, game antar puskesmas (ini jangan dilakukan nggih hehe…) atau mungkin ada puskesmas yang kreatif, untuk nebeng memasang antena televisi hehe…

Muncul lagi pertanyaan, emang berapa sih besar data yang harus dikirim sehingga membutuhkan tower untuk online ? ataukah memang sudah saatnya dinas membutuhkan data real time ? sudahkah dinas kesehatan kabupaten butuh sistem seperti perbankan yang harus menghitung dalam ukuran detik untuk setiap transaksi ? ataukan dinas kesehatan sudah siap untuk mengamati setiap hari di depan monitor server setiap transaksi di puskesmas ? mengawasi dengan kondisi siaga setiap kunjungan pasien? tidakkah cukupkah kalau disediakan modem GSM untuk mengirim data dengan terjangkaunya hampir semua kecamatan di wilayah negeri tercinta ini dengan sinyal GPRS ? (kalau yang ini klaim dari salah satu operator, inisialnya T hehe)

Belum lagi program SIKNAS yang juga sudah bergulir dan entah mau kemana. Online antara dinas kesehatan kabupaten dengan depkes pusat, dengan sewa bandwith internet 256 Kbps yang juga gak jelas untuk berapa Gigabyte data yang akan lewat sehingga harus nyambung 24 jam… ck ck ck… mimpi apalagi ini ya ?? jangan-jangan ini yang ditiru ya hehe…

Saya tidak anti kemajuan, saya tidak anti proyek, saya tidak anti SIK. Simpus saya pun sudah siap online dan saya salut dengan beberapa daerah yang SIK nya sudah mapan dengan tower-tower itu. Saya hanya berpikir untuk daerah yang bersiap untuk melakukan itu. Pembangunan Sistem Informasi Kesehatan, harus dibangun dari pondasi Sistem, yaitu Data.

Pertanyaan yang akhirnya muncul, sudahkah anda minum… eh salah.. sudahkah anda membangun data dan sistem informasi di puskesmas anda ?? kalau belum, mohon maaf jangan bermimpi untuk ikut lomba towerisasi…

Mubazir!!!

11 Tanggapan

  1. Sekarang berani bilang kalo Simpusnya sudah siap online juga ya Mas🙂

    Saya setuju dengan apa yang Mas Jojok sampaikan. Hal lain yang patut dipertimbangkan juga sebelum mengimplementasikan sebuah software adalah kesiapan SDMnya. Banyak terjadi, saya tahunya malah di luas puskesmas sih, SDMnya belum siap, tapi sudah mau implementasi software baru. Akhirnya yang terjadi adalah software tidak termanfaatkan secara maksimal. Kalo ada problem malah softwarenya ditinggal sekalian. Sayang dana pengembangannya ….

    betul…banyak software canggih terkapar gak berdaya gara-gara gak nyiapin SDM nya.

  2. eman-eman banget..mending dana pemasangan tower buat miranti saja..eh salah,,maksud saya untuk pembangunan puskesmas yg miskin..misalnya (tempat saya..he he)

    weleh weleh…tinggal nebang jati dah dapat duit gitu lho masak puskesmas miskin..🙂

  3. lho lho..Jati siapa tuh kok asal main tebang saja..Bagi-bagi rejeki dan ilmu kan boleh,,akan di terima dengan tangan terbuka..:-D

  4. apa mau dikata teman-teman…………..
    sebuah pelajaran berharga buat kita, sangat berharga
    bayangkan dana sekian M itu masuk ke rekening pribadiku
    wah, bisa keliling kabupaten naik X-Trail ga kuwatir hujan dan panas kayak gini

    ngomong-omong, perlu penggalangan dana solidaritas untuk tower yang “gugur” itu ?

  5. Lagi-lagi SDM, sudah bobrok kah bangsa kita ini, sehingga tidak mempunyai SDM yang handal ato sebenarnya ada yang handal namun masih terpendam terlalu dalam sehingga tidak bisa digali…..????

    • kayaknya dah ngincer X-Trail nih🙂 penggalangan dana yang dibutuhkan untuk pulsa internet saya saja mas hehe…

      SDM ? ya tugas panjengan toh mas sastro biar lebih banyak lagi tenaga handal IT di puskesmas…gali saja di puskesmas, banyak kok potensi, gak cuma potensi petugas loket manis😉

  6. Asyik ya simpus

    Asyik pak, asal gak ada tower yang roboh..

  7. gimana kalo gali SDM di Blora?? Apa terlalu dalam juga ya?? Mungkin untuk recruitment pegawai yg akan datang perlu untuk ditambahkan mesti bisa operasi komputer atau mengikuti fit en proper test gt ya??

  8. dari lihat selama ini masalah tower roboh hanya dibesar-besarkan oleh para orang sakit hati tidak dapat bergabung kembali pada dunia tower karena dari penghasil cukup lumayan, dan mereka ini itu yang membesar2kan pernah masuk tapi mereka itu membuat suatu kesalahan atau mark up dari sis biaya.
    ditower pada saat pembangunan sebelumnya dilaksanakan yaituh :
    1. Test soil untuk yang berdiri ditanah ataupun hammer test
    2. Gambar rencana harus dari hasil test no 1
    3. test beton atau pondasi.
    3. test besi
    4. test terpa angin
    5. test grauding
    6. test frekwensi atau radiasi
    7. Asuransi
    semua ini dilakukan oleh konsultan atau orang yang idependen atau dari kampus terdekat.

    jadi masalah radiasi dan tower roboh hanya dibesar2kan oleh orang :
    1. Tidak dipercaya lagi para operator.
    2. Karena tempatnya tidak jadi disewa oleh operator
    3. Karena iri atau cemburu karena melihat tetangganya di
    sewa lahannya.
    4. Memang karena sudah rusak dari hatinya.

    Kebiasaan kita ini kalau ada rencana tower pastu warga yang berada dilokasi berpikiran ” Ada tower ada uang”
    Coba masyarakat berpikir sudah berapa pemilik perusahan yang sudah masuk penjara gara gara tower yang ia dirikan tidak jadi atau dirobohkan dari masyarakat atau dari pihak pemda.
    Tentang dana konpesasi atau uang tali asih sebenarnya dari peraturan tidak ada yang menentukan angkanya, tapi masyarakat hanya mengada-ada. karena ini bisnis.

    Pembangunan menara BTS sangat diperlukan untuk masyarakat untuk perluasan wilayah frekwensi.
    Coba masyarakat berpikir ada saudara kita yang ada dipelosok membutuhkan alat komunikasi, disana mereka harus kekota yang jaraknya jauh itupun kalau tidak hujan.

    Untuk para propokator sudahlah anda sadar yang anda kerjakan isu untuk masyarakat yang tidak mengerti. Suatu saat anak anda akan merasakan ini

    terimakasih

    Hari

    • Terima kasih sekali Pak Hari. Salam kenal dan senang bisa mendapat informasi yang sangat berharga.

      Sebelumnya mohon maaf kalau ada tulisan yang mungkin salah tafsir atau salah pemahaman. Tapi kalau tidak salah saya menafsirkan tulisan anda, sepertinya Pak Hari menulis tentang pembangunan tower BTS untuk menara seluler.🙂

      mungkin agak sedikit berbeda pak, sebelumnya mohon bapak juga membaca tulisan saya yang lain, dengan harapan bapak bisa mengerti dunia yang saya jalani setiap hari.

      Saya bukan rekanan towerisasi BTS, saya bukan pula rekanan tower puskesmas. saya cuma pedagang kecil software pak. dan yang saya tulis adalah tentang pengembangan tower2 kecil Wifi untuk puskesmas dan dinas. Ini yang sangat mengusik saya, selama hal-hal yang seharusnya dilalui jarang dilaksanakan.

      Terima kasih sekali lagi Pak Hari membantu menulis syarat2 dan kondisi sebelum membangun, tp itu yang dilakukan oleh rekanan sekaliber bapak yang saya yakin sangat bertanggung jawab untuk keselamatan dan standar tower. Saya haqul yakkin dan percaya untuk pembangunan menara seluler itu pasti tidak akan bermain-main dan mempermainkan spesifikasi teknis, taruhannya terlalu besar.

      Yang saya temukan pak untuk tower wifi itu, banyak syarat teknis yang dilanggar, dan ini sangat membahayakan puskesmas dan sekitarnya. Kabel yang longgar, besi yang besar dibawah kecil di atas, tanpa anti karat, letak pemasangan yang membikin deg-deg an…

      Untuk BTS Seluler ? maaf pak, saya selama ini malah menganjurkan TIDAK membangun tower wifi sendiri tetapi MEMANFAATKAN tower BTS yang (mungkin) bapak bangun.. Dengan modem GSM, tarif yag murah, gampang dipakai, pemeliharaan minim, itu sudah sangat bermanfaat dan memudahkan puskesmas untuk mengirim data lewat BTS-BTS seluler itu. Soal konflik di sekitar BTS, ya memang saya juga tahu kondisinya seperti yg Pak Hari tulis di atas…

      di akhir tanggapan ini, sekali lagi saya sangat berterima kasih informasi dari bapak, semoga rekanan-rekanan yang hendak membangun tower wifi bisa ikut membaca.

      Dan mudah-mudahan saya bukan profokator untuk menolak BTS di lingkungan pekerjaan bapak, dan hati saya semoga belum rusak hehe…🙂 saya juga memanfaatkan kok….

      Sukses untuk Pak Hari… silahkan baca tulisan2 saya yang lain untuk sekedar berbagi cerita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: