Memulai Simpus : Kenali kendalanya

Rekam Medis Pasien Puskesmas

Rekam Medis Pasien Puskesmas.

Simpus, untuk sebagian puskesmas merupakan hal yang baru. Memulai Simpus bagi beberapa puskesmas bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Kendala-kendala dari berbagai sisi sudah siap menghadang implementasi Simpus, seperti apapun model aplikasi Simpus yang akan di implementasikan.

Apa saja toh kendala-kendala yang bakal menghadang  Simpus ?

Langkah persiapan pertama yang harus dilakukan untuk memulai Simpus adalah mempersiapkan segala hal yang diperlukan. Persiapkan kebutuhan perangkat keras, kebutuhan SDM yang mapan, serta kebutuhan untuk mengorganisasi implementasi Simpus. Untuk itu sangat penting bagi puskesmas mengetahui kendala yang ada.

Beberapa kendala yang biasanya berkaitan dengan persiapan awal antara lain:

  1. Jumlah komputer terbatas. Jangan berharap Simpus bisa berjalan dengan hanya satu komputer, kecuali puskesmas mempunyai jumlah kunjungan dibawah 50 pasien, kemudian staf lain masih senang memakai mesin tik manual untuk laporan.
  2. Kemampuan SDM yang terbatas. Sudah umum terjadi, di satu organisasi yang terbatas SDMnya, dengan hanya ada satu dua orang yang mempunyai kemampuan mengoperasikan komputer, maka SDM itu akan menjadi rebutan staf lain untuk membantu berbagai macam pekerjaan. Dari laporan, undangan rapat, membuat pengumuman, bahkan sering urusan luar puskesmas pun masuk ke mereka.
  3. Belum ada tim Simpus. Tanpa ditunjuk terlebih dahulu, Simpus bisa jadi bahan saling lempar kerjaan. Tidak ada staf yang bertanggung jawab, tidak ada orang yang ditunjuk sebagai pengelola, belum adanya alur kerja yang jelas, akan membuat Simpus terkatung-katung.
  4. Etos kerja staf/pimpinan puskesmas. Puskesmas, bukanlah perkantoran swasta dengan semangat dan kewajiban kerja yang cukup ketat. Puskesmas dan sebagaimana kantor pemerintah yang lain, bisa dikatakan mempunyai etos kerja yang spesifik. Status sebagai PNS misalnya bagi sebagian staf puskesmas kadang-kadang membuat etos kerja mereka memang seperti PNS. Tidak perlu saya sampaikan disini. Ada budaya kerja yang memang harus dibenahi sebelum Simpus dijalankan.
  5. Dukungan Dinas Kesehatan. Salah satu hal yang juga cukup penting untuk memulai Simpus. Beberapa puskesmas memang bisa menjalankan Simpus dengan baik tanpa dukungan dinas kesehatan, bahkan terkadang menentang arus dengan program dinas kesehatan, tapi hal ini membutuhkan komitmen yang kuat dari kepala puskesmas.

Masih banyak hal yang kalau diuraikan lebih lanjut merupakan kendala awal bagi implementasi Simpus. Nah sekarang apa yang bisa dilakukan jajaran puskesmas yang bisa menjadi solusi dari permasalahan diatas?

Satu hal yang penting yang bisa saya sampaikan adalah, pentingnya menumbuhkan Budaya Simpus di puskesmas. Budaya Simpus bisa dikatakan satu sikap atau perilaku kerja atau budaya kerja di puskesmas, dimana semua sikap, langkah manajemen dan alur kerja adalah untuk mendukung berjalannya Simpus dengan baik.

5 Komputer pun bisa nganggur

Di salah satu puskesmas, 5 Komputer pun bisa nganggur. Masih ada komputer di ruangan lain.

Beberapa contoh budaya kerja yang bisa berpengaruh besar pada operasional Simpus.

  • Sudahkah petugas medis mengisi dengan lengkap lembar register ? Bayangkan saja kalau kode-kode dan variabel data tidak lengkap, data akan banyak yang ilang, petugas entry data akan kerepotan.
  • Sudahkah petugas luar gedung rutin menyetor data, tanpa menunggu tumpukan register ? Bayangkan kalau menyetor data sebulan sekali. Petugas entry data akan kelabakan dengan data yang masuk.
  • Sudahkan petugas pelaporan mencari data dan rekapitulasi data di Simpus ?  Sudah repot-repot entry, ternyata petugas lebih senang me lidi. Masalah dan kebiasaan lama yang masih sering ditemui di puskesmas.
  • Sudahkah kepala puskesmas ikut peduli data ? Paling tidak ikut melihat data yang masuk, melihat output, melakukan pemeriksaan data yang salah.
Metde manual, cuma butuh kalkulator

Metode manual, cuma butuh kalkulator.

Budaya Simpus akan menimbulkan rasa kebutuhan terhadap Simpus untuk membantu mempermudah pekerjaan di puskesmas, terutama yang berkaitan dengan data. Inilah yang menyebabkan beberapa puskesmas gagal menjalankan Simpus, karena memang petugas dan staf tidak merasa butuh.

Jadi kesimpulannya, tumbuhkan rasa BUTUH, Simpus akan berjalan dengan sendirinya. Inilah kendala yang terbesar…

8 Tanggapan

  1. Jadi solusinya gimana dong ????
    Kita kendalanya di nomor 1 s.d 3. Kalau dari Kapus ya tetap semangat 45 buat SImpus ini. Tapi jumlah komputer dan orang yang bisa mengentry data ini lho…..masa’ dokternya sendiri yang mengentry data. Iya kalo pasiennya sedikit, kalo sehari 150 s.d 200 orang ???
    Ada yang mau ngasih saran ?

    • saran saya sih, mengundang Mas Jojok ke Jombang haha…

      langkah darurat dulu ya bu, benahi dulu sistem yang ada. Tunjuk satu / dua orang khusus, jangan diganggu kerjaan lain untuk entry data (sssstttt… kalau perlu ditambah honor😉 )

      Kepala puskesmas thok yang entry, berarti belum berjalan manajemen data nya lho bu, fungsi kapus salah satu nya kan sebagai organistoris, penggerak kegiatan, masak dikerjain sendiri.

      Simpus saya dengan 350 pasien lebih per hari pun bisa masuk kok, jangan2 yang perlu diganti Simpus nya tuh huehehehe….

  2. Salah satu kelemahan kita adalah susahnya keluar dari zona nyaman. Ketika ada sistem yang baru – yang sebenarnya lebih memudahkan kerja kita, sdh ditolak duluan. Saya sependapat, mestinya langkah awal yang bisa diambil adalah menunjuk staf khusus untuk menangani hal itu. Dan tak kalah pentingnya, adanya komitment top management dan seluruh jajaran untuk sll menggunakan Simpus ini.

    • betul sekali Pak Gus, biasanya ada resistensi duluan di kalangan staf puskesmas. Sudah merasa nyaman dengan kondisi yang ada, biarpun suasana itu sebenarnya juga gak selalu pas dengan standar kerja kita.
      Baru minggu kemarin saya ngobrol dengan staf yang dimusuhi temannya, karena biasanya temennya itu bolos bisa tetap nulis absen, nah karena beliau pingin membenahi dah harus ditulis ijin, eh dimarahi hehe… gak ada kekeluargaan katanya…sudah nyaman mbolos, mau diluruskan ngomel.
      Pengalaman melatih petugas loket juga demikian, sudah nyaman dengan tulis menulis, dikasih komputer sudah menolak duluan. Harus sabar ngadepi hal-hal kayak gini…Tapi senang juga kalau melihat petugas yang tadinya menolak akhirnya gak mau berpisah dengan komputer.

  3. Memulai sesuatu yang baru memang tidak mudah. Di Puskesmas Sungai Ayak saya mencoba versi awal pada tahun 2006 tetapi tidak jalan karena petugas untuk entri data tidak ada. Akhir 2006 masuk pegawai baru. Ini yang saya manfaatkan dan saya “paksa” supaya mau ngentri data. Yah… namanya pegawai baru kan masih “takut” sama pimpinan, jadi nurut aja. Tapi untuk memaksakan supaya SIMPUS bikinan sendiri itu supaya dipakai saya selalu katakan “anda mau hitung manual atau tinggal print dan tanda tangan laporannya ?”
    Ternyata, lebih memilih ngentri data daripada ngitung laporan secara manual. Sekarang, saya malah bingung sendiri, staf minta jumlah laporan otomatisnya ditambah (enak kali tinggal tanda tangan). Yang tadinya kurang lancar berkomputer, dengan “pemaksaan” tersebut menjadi cukup mampu juga menggunakan komputer sebagai komputer, bukan hanya pengganti mesin tik. Mari berjuang terus agar SIMPUS, apapun bentuknya, dapat diaplikasikan di Puskesmas.

    • hehe…wah itu memang salah satu cara mengatasi kendala bu, dengan tipikal kepemimpinan “sedikit” memaksa. Anda beruntung tidak mengalami penolakan dari staf dan akhirnya bisa merasakan manfaat bahkan staf meminta tambahan laporan digital.
      Kemarin di Seminar Sosio Teknis, Pak Pudjo juga bercerita masalah kepemimpinan yang agak memaksa ini sebagai satu langkah supaya staf puskesmas dan kapus bisa menjalankan Simpus. Ya mungkin memang kondisi di puskesmas kita masih senang dengan langkah-langkah keterpaksaan lebih dulu, baru kebutuhan.
      Memang kita harus berjuang lebih lanjut, perjalanan masih panjang untuk men-Simpus-kan puskesmas.

  4. kita perlu prosedur pembenahan masalah Pak. Jangan asal benah-benah…

    • betul pak, itulah sebabnya saya sangat berharap dukungan dan keterlibatan dinas kesehatan untuk proses pembenahan itu. Nah kalau memang keterlibatannya belum sesuai yang kita inginkan, tentunya seorang kapus yang lebih tahu langkah dan prosedur yang harus dijalankan supaya bisa segera berjalan Simpus nya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: