Memulai Simpus : Benahi kendalanya

Facebook, benar-benar membuat blog sedikit terlupakan. Maklum jejaring sosial yang satu itu membuat saya belakangan ini  bertemu banyak teman lama dari jaman SMP, SMA maupun Kuliah. Saling menyapa dan menggoda, serta komen yang asal-asalan antar teman, cukup bisa membuat tertawa ngakak ataupun senyum simpul. Tentunya tidak lupa juga liat-liat foto yang cakep, lucu, wagu, dan narsis dari teman atau temannya teman, hal yang membuat halaman Facebook ini sering nongol di browser saya hampir setiap onlen.

Fesbuk...

Fesbuk...

Butuh beberapa hari supaya demam fesbuk  mulai reda, tanpa obat penurun panas tentunya, sehingga bisa mulai fokus lagi untuk menulisi blog ini. (omong-omong beberapa pekerjaan juga agak seret gara-gara fesbuk hehe…untung dah pake unlimited)

Kalau dalam posting sebelumnya saya menulis beberapa kendala yang sering  ditemui dalam penerapan Simpus di puskesmas, maka hal yang menjadi langkah berikutnya adalah mulai membenahi kendala-kendala yang ada.

Nah bagaimana kita akan satu-persatu mengurai masalah ini :

1. Masalah Pertama : Terbatasnya Komputer

Masalah ini sangat mudah mengatasinya. Beli komputer tambahan🙂 . Hanya saja tidak sesederhana ini, tambahan komputer kadang juga tidak langsung bisa mengatasi masalah. Kadang kalau tidak disepakati di awal pengadaan, komputer baru bisa jadi barang rebutan untuk dipakai bersama-sama. Di beberapa puskesmas, sudah banyak yang sampai perlu menempelkan tulisan “Komputer khusus Simpus”, supaya tidak ada pekerjaan lain yang nebeng disana.

Sebenarnya ada alternatif lain untuk penambahan komputer ini. Puskesmas (mudah-mudahan dengan bantuan dinas) dapat mengadakan sistem thin client, yaitu satu sistem komputer dimana satu komputer utama dipakai berbarengan oleh beberapa user.  Sistem ini cukup sederhana, murah dan yang jelas irit biaya operasional. User cukup membeli satu perangkat thin client, kemudian menambahkan layar monitor, keyboard plus mouse, sambungkan dengan kabel LAN ke host, kemudian semua proses akan menggunakan komputer host.

Alternatif lain juga mulai ada, dengan mulai maraknya penggunaan Intel Atom untuk desktop. NetTop istilahnya. Satu komputer yang cukup murah, hanya saja tidak bisa dipakai untuk mengolah data Simpus yang jumlahnya akan ratusan ribu record nantinya. Untuk sekedar input data, nettop ini sudah cukup cepat.

Jaringan komputer ? Tower online ke dinas ? Router ? GSM Modem ? bertahaplah dalam pengembangan hehe… tema postingan ini untuk tahap awal Simpus.

2. Masalah yang kedua : Kemampuan SDM yang terbatas

Masalah ini juga mudah tapi harus telaten🙂. Yang jelas adakan pelatihan, pendampingan dan secara terus menerus melakukan peningkatan kemampuan dari SDM yang ada di puskesmas. Harus telaten karena memang kebanyakan staf puskesmas berlatar belakang yang cukup beragam. Ada yang muda ada yang tua, rajin (maaf) malas, cekatan lemot, kreatif pasif, pendiam banyak omong (thok), hehe… masih banyak yang bisa ditulis.

Satu hal yang pasti, pengembangan Simpus bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam satu dua tahun proyek. Puskesmas harus bisa mendapatkan kepastian kelanjutan pengembangan dan pendampingan dari Simpus, meskipun secara administratif sudah selesai. Saya beberapa kali ketemu puskesmas yang mengeluh, pihak rekanan tidak mau lagi ke puskesmas dengan alasan tidak ada dana, sudah tidak ada kontrak, proyek selesai, menunggu pengadaan berikut. Hal-hal yang secara administratif memang dibenarkan.

Apabila memungkinkan, puskesmas dapat bekerja sama dengan satu lembaga atau perorangan, untuk melakukan pelatihan dan pendampingan di puskesmas.

3. Masalah yang ketiga : Belum adanya Team Simpus

Ya… inilah kendala yang setelah memulai Simpus akan terasa sangat mengganjal. Pembentukan satu team khusus, yang benar-benar mendampingi Simpus, mengelola Simpus, dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup Simpus, harus dilakukan. Team ini tidak hanya di puskesmas, tetapi juga harus dibentuk di tingkat dinas (dengan catatan dinas kesehatan memang terlibat dalam Simpus). Puskesmas, staf Simpus, operator Simpus, akan merasa mempunyai saluran yang pasti untuk mengadukan segala permasalahan. Baik tentang hardware, software, maupun kendala-kendala dalam operasional Simpus.

Idealnya, ada dua tim yang harus dibentuk. Bagian yang pertama adalah Team Hardware, bertanggung jawab atas semua hardware yang ada. Kemudian yang kedua adalah Bagian Software, bertanggung jawab atas masalah program komputer dan juga manajemen pemeliharaan data yang ada. Contoh yang sering saya sampaikan kalau presentasi di beberapa daerah adalah keberhasilan Team SIK dari Kabupaten Purworejo dan Ngawi, atau contoh Team Simpus dari Puskesmas Selogiri. Contoh team yang gagal ? banyak hehehe…

4. Masalah yang keempat : Etos kerja staf/pimpinan puskesmas

Terus terang kalau berkaitan dengan masalah ini, yang paling mengerti solusinya adalah dari puskesmas sendiri. Dimulai dari pimpinan puskesmas, semangat dan budaya kerja harus bagus. Etos kerja, semangat kerja, berkaitan erat dengan mentalitas SDM.

Di beberapa puskesmas, saya menemukan semangat kerja yang luar biasa, saling kerja sama, solid, serta merata baik dari pimpinan puskesmas, staf sampai ke staf pendukung. Suasana kerja sangat kondusif, pegawai pun merasa nyaman dengan pekerjaan. Pulang pun selalu di atas jam 13.00🙂. Dalam kondisi ini, sangat mudah mengembangkan Simpus apapun model aplikasinya.

Sebaliknya kondisi puskesmas dengan suasana kerja yang seadanya, jalan sendiri-sendiri, santai, saling (maaf…) iri, bahkan saling mencurigai pun, pernah saya temui. Prinsip kerja gak kerja lha sudah digaji, sudah mengakar. Dulu, saya terbiasa keliling puskesmas dengan target sebelum jam 12.00 sudah sampai lokasi. Maklum ada beberapa puskesmas yang jam 11.00 theng pun langsung go. Beberapa puskesmas bahkan saya ketemukan bak ayam kehilangan induk. Bayangkan bila kepala puskesmas datang jam 9.00, jam 11.00 kurang dah menghilang. Atau kepala puskesmas yang hanya datang beberapa kali dalam seminggu (hehehe… jangan tanyakan dimana itu berada).

Sekali lagi, hanya puskesmas yang bisa membenahi dirinya sendiri, dengan arahan dinas kesehatan tentunya.

5. Masalah yang kelima : Dukungan Dinas Kesehatan

Dukungan Dinas Kesehatan sangat dibutuhkan untuk kelangsungan Simpus. Memang saya juga ada beberapa puskesmas pengguna Simpus yang sama sekali tidak mendapat perhatian dari dinas kesehatan, bahkan terkesan menutup mata. Untungnya puskesmas yang bersangkutan mempunyai semangat kerja dan budaya kerja yang cukup baik sehingga Simpus tetap berjalan dengan lancar. Dukungan ini sangat dibutuhkan kalau dalam satu wilayah kerja, diberlakukan Simpus secara serentak. Puskesmas harus punya tempat mengadu untuk segala macam permasalah Simpus.

Apa saja toh contoh-contoh bentuk dukungan dinas kesehatan ?

  • ada team Simpus/SIK, seperti yang sudah saya tulis di atas.
  • ada evaluasi dan pendampingan yang rutin.
  • ada rencana kerja dan rencana pengembangan.
  • ada perhatian dari pimpinan.
  • ada feedback atau umpan balik ke puskesmas tentang Simpus.

Tentunya, masih banyak hal yang harus dilakukan untuk berlangsungnya Simpus di puskesmas. Hal-hal yang akan saya tulis di lain kesempatan. (maaf mau fesbukan dulu… foto-foto nya nyusul setelah ketemu hehe…).

12 Tanggapan

  1. saya baca serius mpe tuntas, eh jebulnya adminnya mau pesbukan dulu. terbukti lagi, klo pesbuk ternyata jadi kendala kerja ha..ha..
    dengan pesbuk terbentuk satu networking, tp akibatnya jadi notworking
    😉

  2. 1. Perhatian dari Dinkes Kabupaten kurang – sangat betul. Itu seperti yang kami alami.
    2. Minat untuk menggunakan SIMPUS dari Puskesmas lain di sekitar kami ada, tetapi maunya gratis. Wah ini repot. Bikinnya kan susah. Masa mau digratiskan ? Ini barangkali disebabkan oleh budaya gratis yang disebarkan pemerintah beberapa tahun belakangan ini, ya. Tidak ketinggalan Depkes mempeloporinya.
    3. Jumlah komputer yang terbatas. Ini pastinya benar juga. Satu komputer bisa berbagi pakai untuk beberapa orang. SIMPUS agaknya pelit ya ? Namun untuk PKM Sungai Ayak tidak masalah komputer dibagi pakai. Sampai saat ini aman-aman saja.
    4. Kendala lain yang juga tak kalah penting adalah daya listrik. Tidak semua tempat listriknya nyala siang hari. Apa lagi seperti kami yang di pelosok Kalimantan. Listrik cuma nyala malam hari. Siang hari, mati. Jadi harus pakai genset sendiri. Nah hitung saja berapa biaya BBM-nya jika satu hari menghabiskan 3 lt bensin (mesin nyala dari jam 09.00 – 12.30). Parahnya lagi Dinkes tidak pernah mengalokasikan dana untuk BBM ini.
    5. Silakan ditambah ……. hehehe

    • 1. Hehe… Dinkes kabupaten kadang memang punya prioritas kegiatan sendiri, jadi harus dipahami kalau beliau2 di dinkes tidak bisa sepenuhnya memperhatikan Simpus.

      2. Lho ?? dari Depkes Gratis ?? yang bener ?? bukannya untuk membuat program itu juga ada anggarannya ? dengan mengatasnamakan kepentingan puskesmas tentunya, jalan atau ndak itu urusan nanti, hehe… makanya gak ada yang beres proyek2 sik dari pusat.

      3. Bukan pelit kok, kita bisa membayangkan data-data yang kita masukkan kok tau-tau ilang atau kena virus..sebenernya gak masalah satu komputer di pake bareng2, saya jg sering ketemu yang saling berbagi, cuma harus hati2.

      4. Betul.. Listrik itu komponen dari lingkungan sistem yang mendukung berlangsung nya SIMPUS. Beberapa Simpus saya juga berjalan pada kondisi ketiadaan listrik di siang hari. Mbok coba diusulkan untuk solar cell, sapa tau bisa lebih optimal simpusnya.

      5. Ada lagi kalau mau ditulis kendalanya. ada faktor keamanan puskesmas, faktor ini kadang jg menentukan. Beberapa puskesmas ada yg kehilangan data gara-gara komputernya diambil maling😦

  3. Yang gratis dari Depkes itu maksudnya biaya berobat bagi gakin atau yang minta di “gakin” kan.
    Tentang SIK, ya… tentu saja tidak gratis alias ada anggarannya. Besaaaar lagi. Tapi ujung-ujungnya gagal juga. Kenapa ya ? Barangkali karena kita berpikirnya terlalu rumit soal SIK. Harus begini, harus begitu dan lain-lain. Coba yang sederhana dulu. Yang penting bagaimana staf Puskesmas dimudahkan dalam pekerjaannya. Nggak usah terlalu ribet memikirkan soal itu dan ini, yang sekiranya bisa menghambat untuk memulai.
    Oke ?
    Para penggagas dan pengembang SIMPUS, jangan pernah berhenti berkarya walau apapun rintangannya, walau juga…. harus merogoh kocek dalam-dalam. Percayalah, suatu hari nanti jika semua merasa betapa SIMPUS itu sangat penting untuk kemudahan kerja serta keakuratan data, maka …. siap-siaplah panen raya, hahahaha……….

  4. hmm… simpus

    sedikit cuap-cuap ya Bang.
    kalau ingat simpus, saya mesti ingat “pakar” mas jojok. Kalau ada anggapan pihak dinas kab./kota kurang memberikan dukungan terhadap keberlangsungan simpus, saya kira itu kurang tepat. sebenarnya di dinkes sendiri mempunyai beragam prioritas. Kota Banjarbaru misalnya, dari dinkes berharap suatu program yang simpus “unlimited”, artinya program tersebut dapat mewakili sistem informasi dan data yang ada di puskesmas. yang pasti, data yang diperlukan dinas kesehatan dapat secara akurat didapatkan. yakinkah dengan SIMPUS bentuk laporan SP2TP kita tinggalkan sepenuhnya, tanpa ada bentuk manual atau tambal sulam laporan atau data yang belum termuat di aplikasi SIMPUS dan data secara unlimited dapat dientrikan.

    harapannya pula, aplikasi simpus secara online dapat diakses melalui internet baik dari dinas kesehatan atau lintas sektor terkait yang memerlukannya (tentu dengan sistem pengaman yang handal), sehingga detik ini pula pihak dinas kesehatan bila membutuhkan data dapat memperolehnya tanpa menunggu laporan dari puskesmas yang membutuhkan waktu setidaknya 2-3 hari.
    aplikasi simpus pun diharapkan tidak hanya menampilkan data-data kunjungan, penyakit, tetapi diharapkan juga mampu memberikan informasi keuangan puskesmas sesuai dengan retribusi pelayanan kesehatan daerah setempat.

    namun, secara pribadi saya sangat mendukung sistem informasi manajemen puskesmas, tapi semoga dengan sepenuh hati pula kita semua bekerja keras (kalau tidak keras tidak bekerja ya bang!).

    Salam dari Banjarbaru.

    • thx bang ahyar..
      saya tulis sebelumnya, hal2 itu adalah sebagian dari kendala2 yang mungkin ditemukan dalam pengembangan SImpus..masih banyak kalau mau di uraikan lagi, tapi di sebagian daerah yang saya temui itulah yang banyak terjadi. Kalau memang dari dinkes ada dukungan, berarti ya itu bukan lagi menjadi kendala, tapi salah satu pendukung. Hanya saja hal itu kebetulan agak jarang saya temui… begitu..🙂 Saya bicara dalam cakupan yang sempit lho bang, Pengembangan Simpus.

      Simpus online? nah itu yang dicita citakan sebagian dari kita, cuma sekali lagi saya mencoba untuk mengembangkan Simpus tidak secara muluk2, lebih realistis, dan hal-hal yang mendasar kita benahi dulu, dikit-dikit, baru pelan2 ke arah sana. Kalaupun ada sistem yang begitu mapan, indah dan canggih, sepertinya sekarang masih ada di tataran master plan dan perencanaan saja, serta di angan-angan sebagian bapak ibu pejabat kita hehe…

      Fesbuk?? wah belum ada terapi nya nih… harus banyak berdoa hahaha…

  5. oi ya Bang, demam fesbuk, apa terapi?

  6. ternyata abang satu nih bikers juga ya, hehehe…….top deh
    salam sukses bang….emang klo ngga diobatin segera demam fb semakin menjalar hehehehe

    • lone bikers …😀
      kebetulan dari dulu memang seneng keluyuran..cuma gak gabung sama klub2 motor yang ada. pingin sih tapi tiap hari saya juga dah touring jadi diterusin saja sendirian.

      fb dah lumayan bisa mulai ditinggalin, tinggal sekarang mau nyari bahan2 buat nulis lagi nih, terlalu berlimpah malah pusing mana yg mau di tulis hehe…masih pilih2 ide..

      oke salam sukses juga buat mas yoyo..saya kira anda dulu dari wiradesa pekalongan😀

  7. fah suka fesbuk juga to mas hhemm

    hehe…ketularan. kebetulan juga bisa ketemu banyak teman lama..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: