Memulai Simpus : Pilih Simpusnya (1)

Bagian pertama dari memilih Simpus

Langkah berikutnya, setelah bapak ibu sodara membaca tentang kendala yang bakal dihadapi dalam implementasi Simpus, kemudian membenahi kendala yang ada, adalah untuk memilih aplikasi apa yang bakal di pakai di puskesmas. Dan katanya sih, memilih Simpus itu seperti memilih jodoh, gampang-gampang susah. Entah benar apa ndak yang saya alami sih susah terus hehe…

Bukan hal mudah karena saat ini telah banyak pilihan, baik pilihan untuk mengembangkan sendiri aplikasi, seperti yang telah dilakukan oleh Puskesmas Gurah, Kutawis, Dinkes Purworejo, Dinkes Ngawi, Dinkes Karanganyar, Surakarta, dan beberapa puskesmas/dinas lainnya. Atau bisa juga mengadakan proyek Simpus, seperti yang telah dilakukan oleh … (ini sih isinya banyak banget, gak etis kalau saya tulis karena nasib proyeknya sendiri sudah gak karuan tanpa hasil) atau membeli dari pihak lain (mungkin Simpus Jojok ^_* hehe…).

Nah ada banyak hal-hal yang membuat puskesmas atau dinas kesehatan mau tidak mau harus dalam kondisi harus memilih. Masalah ini pernah saya sampaikan ketika memberikan materi untuk salah satu seminar di Yogya.

Kira-kira apa saja sih kondisi-kondisi itu ??

Ketika suatu dinas kesehatan atau puskesmas akan mengimplementasikan Simpus, hal ini dapat bertitik tolak dari kondisi yang ada. Kondisi ini, nantinya akan  dipengaruhi faktor-faktor luar yang berpengaruh, yang bisa berasal dari faktor teknis, maupun faktor-faktor non teknis. Beberapa contoh kondisi yang ada adalah :

  • Puskesmas membutuhkan aplikasi untuk mengolah data, sementara dinas kesehatan masih lebih senang pengolahan data secara manual.
  • Dinas kesehatan membutuhkan Simpus dan aplikasi lain, sementara puskesmas kadang belum terkondisikan pada komputerisasi Simpus. Puskesmas/dinas lebih terbiasa mengolah data dengan manual, karena kendala-kendala yang sudah ada (seperti posting terdahulu).
  • Ada staf puskesmas/staf dinas kesehatan yang mempunyai inisiatif pengembangan Simpus/Simkes.

Kondisi-kondisi di atas kemudian akan dipengaruhi beberapa faktor yang akan menentukan aplikasi terpilih. Beberapa faktor yang sering ditemui misalnya :

  • Kondisi geografis wilayah. Adalah hal yang menggelikan ketika suatu daerah memaksakan pengembangan Simpus Online dengan menara-menara pemancar, ketika kondisi geografis sangat tidak memungkinkan.
  • Kondisi infrastruktur dinas kesehatan/puskesmas. Sudah jamak ditemui, kesiapan dari dinas dan puskesmas sangat bervariatif, dari yang ‘kaya raya‘ sampai yang masuk ‘kaum dhuafa’ dalam hal kepemilikan komputer dan alat-alat pendukungnya.
  • Kondisi SDM dinas kesehatan/puskesmas. Beberapa daerah atau puskesmas memang sudah mempunyai SDM yang mumpuni dan sangat menguasai pengoperasionalan komputer. Hanya saja persebarannya masih sangat terbatas.
  • Kondisi anggaran, apakah mendapat durian runtuh ataukah anggaran sekedarnya.
  • Kondisi politis di dinas. Sedikit yang bisa saya ceritakan(tapi kalau off the record bisa banyak hehe…), betapa seorang pejabat atau anggota dewan dengan seenaknya titip-titip rekanan untuk memenangkan pengadaan aplikasi Simpus.

Sangat panjang kalau satu persatu dari kondisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan Simpus harus diuraikan lebih lanjut.

Selanjutnya, pemilihan aplikasi apa yang akan dipakai memang harus dilakukan. Dalam hal memilih aplikasi inilah harus dipertimbangkan beberapa hal penting :

  • Pertimbangkan kemampuan dinas/puskesmas, terutama kemampuan SDM. Banyak pengembangan Simpus/SIK mubazir karena staf yang ada tidak ada atau minim kemampuan untuk menjalankan program yang ada, termasuk pemeliharaan perangkatnya. Apabila di dinas kesehatan/puskesmas ada SDM mumpuni, adalah bijaksana kalau mengembangkan sendiri Simpusnya sehingga cocok dengan kebutuhan dinas/puskesmas yang bersangkutan.
  • Pertimbangkan kemudahan implementasi. Software canggih yang bisa diaplikasikan di klinik-klinik swasta atau rumah sakit besar belum tentu dapat dijalankan dengan mudah di puskesmas.
  • Pertimbangkan kemungkinan pengembangan ke depan. Pengembangan Simpus adalah pengembangan yang bersifat terus menerus dan berkelanjutan, dan hal ini tidak bisa diselesaikan hanya dalam satu masa proyek.
  • Kalaupun memilih aplikasi dari pihak ketiga, pertimbangkan purna jual dan upgrade program yang terjamin. Jangan-jangan setelah proyek rampung, pengembangnya ikut tergulung.

Tentunya bila kita memang sudah memantapkan pilihan terhadap satu bentuk aplikasi, ada kemungkinan pilihan kita bukanlah yang tepat untuk kondisi yang ada. Resiko salah pilih sangat fatal, dan yang paling sering ditemui di lapangan antara lain :

  • Sistem macet, tidak berjalan semestinya. Bisa karena software, bisa karena kemampuan SDM.
  • Hasil keluaran tidak seperti yang diharapkan. Saya sering menemukan satu aplikasi yang sudah merepotkan di masukkan data, tapi outputnya sangat minim. Pemanfaatan program menjadi minimal.
  • Akurasi dan Validitas data diragukan. Software yang susah dijalankan jelas akan menimbulkan tumpukan data di operator. Besar kemungkinan alur data tidak akan lancar sehingga bukan hal yang aneh hingga akhirnya data tidak dimasukkan.

(bersambung ………………………………………………………………………….)

4 Tanggapan

  1. Gampang2 susah!

    • Kebalik pak…kalau gampang2 susah, penekanan akhiran susah membuat sesuatu yang sebenernya gampang menjadi susah.
      Yang bener sih susah2 gampang, seperti yang sering saya temui ketika proses implementasi SImpus. tadinya staf puskesmas menganggap susah, bikin gemeter duluan, stress sebelum main komputer, ternyata setelah dijalanin, akhirnya gampang kok…
      hehe….

  2. Mas Jo, mau tanya nih aplikasi Simpus ini apa sdh tingkat nasional, apa cuma khusus bagi Puskesmas percontohan, yg misalnya tiap kabupaten diambil satu saja?
    Terus, 1 puskesmas mnimal harus punya brp komputer untuk implementasi simpus ini?
    Bagi saya ini menarik, simpus salah satu tujuannya untuk meningkatkan pelayanan kesmas, jd mohon maaf kalau saya banyak tanya😉

    • pertanyaan yang menjadi doa saya pak hehe..🙂
      Simpus yang saya buat kebetulan tidak mengambil ‘jalur’ proyek pak, tapi murni komersial, jadi puskesmas atau daerah berminat, baru nanti kita adakan akad jual beli. Kalau sistem proyek, takutnya kalau saya dah ngrampungin SPJ nanti gak punya beban moral lagi untuk mendampingi puskesmas..

      Untuk satu puskesmas, sistem Simpus yang versi desktop minimal 1 saja pak, lebih baik 2 atau lebih untuk kunjungan di atas 100 pasien/hari. Sedang untuk Simpus Web based, minimal di tiap ruangan harus ada komputer untuk entry data, sekitar 7 unit. Tapi bisa lebih irit dengan sistem kloning pc.

      Salah satu tujuan Simpus memang untuk meningkatkan pelayanan ke pasien, juga memenuhi kebutuhan akan data dari staf puskesmas, membantu pembuatan laporan dan sebagai titik awal pengembangan SIK di tingkat kabupaten.

      Silahkan pak, banyak pertanyaan saya senang kok, itung2 sambil refreshing semangat Simpus dari mulai saya mbikin dulu hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: