Perjalanan ke Balangan

Minggu kemarin, saya memenuhi undangan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan, Propinsi Kalimantan Selatan. Rencananya, sosialisasi awal Simpus untuk semua puskesmas yang ada, kemudian diikuti pelatihan singkat instalasi dan implementasi Simpus. Acara yang sempat maju mundur jadwalnya akhirnya bisa dilaksanakan juga tanggal 16-17 Juni. Maklum, untuk acara ini harus menyesuaikan dengan jadwal dr. Safril, mantan Kasubdin Yankes Propinsi yang sekarang sudah pindah di rumah sakit Amuntai. Saya sendiri mengajak Pur, maklum kondisi badan agak kurang fit, mata masih belekken, lebih enak ngajak teman.

Berangkat Selasa tanggal 15, dari rencana jam 11.00 take off, akhirnya baru berangkat pukul 15.00 lebih. Jam 17.00 WITA sudah sampai Banjarmasin, dan perjalanan pun dilanjutkan dengan kendaraan darat menuju Kabupaten Hulu Sungai Utara, tempat menginap kami.

Mumpung naik Ranger, rugi kalau gak mejeng...

Mumpung naik Ranger, rugi kalau gak mejeng...

Perjalanan panjang yang bikin gak tahan capeknya… apalagi sempat macet beberapa saat gara-gara ketemu konvoy truk pengangkut batu bara…untung Ford Ranger ternyata cukup nyaman juga untuk perjalanan jauh. Perjalanan darat pun ditempuh kurang lebih 6 jam sebelum sampai di Amuntai, ibu kota Kab. HSU pukul 00.30 WITA.
Baca lebih lanjut

Iklan

‘Beleken’

Menyebalkan…

ya mungkin itu kata paling tepat untuk mewakili kondisi yang saya alami 4 hari belakangan ini. Bayangkan saja ditengah proses mengakhiri merger Sukoharjo, kemudian berangkat ke Kalimantan Selatan, Kabupaten Balangan, eh lha kok penyakit merakyat ini mampir menyapa. Mungkin menunjukkan bahwa saya memang rakyat, bukan pejabat hehe…

Bukan bergaya depan komputer pake kacamata gelap

Bukan bergaya depan komputer pake kacamata gelap

Conjunctivitis, ya itu penyakit yang umum ditemui di puskesmas pada musim-musim pancaroba. Kalau orang Jawa bilang Beleken. Seharusnya ini sih bukan musim nya lagi, tapi entah kenapa alam begitu bermurah untuk terus mengkondisikan suasana pancaroba di jatah kemarau tahun ini. Bahkan saya pun sudah tidak ingat berapa puluh tahun yang lalu terakhir saya kena penyakit nyebeli ini.

Sebelumnya, kakak tertualah yang terkena di rumah. Menyusul kemudian bapak. Nah karena setiap hari saya memang merawat bapak, tentunya dengan sukses pula si virus ( eh bener virus ya??) kos sebentar di mata. Jum’at pagi, mata mulai memerah, dan 3 hari berikutnya benar-benar menjadi hari paling menyebalkan. Gak bisa kemana-mana, gak bisa online seharian, gak bisa mrogram, dan terus kepikiran karena hari Selasa ini saya harus berangkat ke Balangan.

Mengikuti saran kakak, akhirnya mata ini cuma saya tetesi obat yang agak mahal. katanya sih cepet sembuh. CX inisialnya. Sakitnya minta ampun. Selain itu juga di kompres dengan air sirih. Dan gara-gara harus ditetes 2 kali sehari ini, terpaksa saya juga harus mandi dua kali sehari hehe… biasanya kalau libur gitu paling males mandi pagi…Siang agak sore untuk menghemat air mandi. Saya juga heran kenapaa harus mandi sebelum di tetes mata. Seorang kenalan dokter muda yang ngasih tahu, dan gak ada salahnya saya ikuti. Toh seger juga… Selain itu sama Pak Mantri dari Pustu, dikasih antibiotik masyarakat juga, Amox.

Beruntung, menjelang hari berangkat, mata mulai pulih. Dan Selasa pagi ini, kondisi mata sudah agak baikkan, perih hilang, merah juga menghilang.

Paling tidak saya tidak khawatir akan menulari mbak-mbak pramugari yang cakep itu… gak lucu rasanya melihat mereka pake kacamata hitam melayani penumpang…

Di akhir merger Sukoharjo

Tahap akhir proses merger akhirnya mendekat. Proses yang diperkirakan rumit dan sulit, ternyata… memang sedikit rumit dan sedikit sulit hehe. Beberapa catatan dan masukkan untuk Simpus alhamdulillah bisa didapatkan dari proses yang dilaksanakan langsung di puskesmas-puskesmas. Banyak kendala yang di prediksikan ternyata benar-benar muncul, selain dari kesalahan programmernya (hehe…maklum kadang kurang teliti, dikit…). Kendala itu justru menjadi ide untuk penambahan-penambahan menu dan fungsi baru di Simpus… (sekali-sekali agak alim dikitlah, mumpung ngetiknya malam Jumat… benar juga ajaran agama, di setiap kesulitan, pasti ada kemudahan, terus ada hikmahnya juga).

Hikmah lain, ditemukan jalur mulus baru ke arah Sukoharjo, melewati Juwiring… dulu, jalannya aspal tapi bikin tubuh terguncang, sekarang bisa wussssssssssss… lumayan juga, bisa hemat 10 km kalau ke kota Sukoharo daripada lewat Solo Baru.

Dalam perjalanan...ketemu calon kuliner favorit...

Dalam salah satu perjalanan menjelang masuk di Kabupaten Sukoharjo... ketemu calon kuliner favorit...

Baca lebih lanjut

Simpati untuk Bu Prita…

KESAKSIAN

aku mendengar suara, jerit makhluk terluka

luka, luka hidupnya…

luka…

orang memanah rembulan, burung sirna sarangnya

sirna, sirna… hidup redup alam semesta…

luka…


banyak orang hilang nafkahnya

aku bernyanyi menjadi saksi

banyak orang dirampas haknya

aku bernyanyi menjadi saksi


mereka dihinakan, tanpa daya

ya…tanpa daya,

terbiasa hidup sanksi


orang-orang harus dibangunkan

aku bernyanyi menjadi saksi

kenyataan harus dikabarkan

aku bernyanyi menjadi saksi…


lagu ini jeritan jiwa

hidup bersama, harus dijaga

lagu ini harapan sukma

hidup yang layak, harus dibela


(Syair lama bang WS Rendra, dinyanyikan oleh Kantata  Taqwa)

Bu Prita, saya tidak bisa menulis banyak, saya tidak biasa memaki, saya tidak biasa mencaci, tapi saya hanya berharap lagu ini cukup mewakili simpati saya untuk anda…

Allah akan bersama orang-orang yang sabar…