Bulan kering, datang ke Kutawis maning

Sebagai programer merangkap trainer, superviser, mengaku biker, bulan Juli (harusnya sih Juni, cuma musim tahun ini memang agak aneh) seperti biasa adalah permulaan kegiatan rutin harian yang cocok untuk berkeliling puskesmas. Hujan, jelas sudah kecil kemungkinan turun, sehingga bulan ini, banyak perjalanan yang bisa dijadikan cerita. Hanya saja rasa capek setelah seharian atau  beberapa hari di jalan membuat kegiatan mengetik cerita di blog menjadi hal yang sangat berat. Maklum, pulang siang hari kadang sore, syukur-syukur bisa dilanjut bobok siang, malam hari biasanya sudah susah mencari bahan untuk diketik, plus persiapan kondisi buat perjalanan besok hari.

Selama bulan Juli ini, beberapa kegiatan dan perjalanan saya lakukan. Awal bulan, perjalanan dimulai dua hari melawat ke Cilacap, menghadiri acara pernikahan ponakan, diteruskan dengan perjalanan pulang melalui Purbalingga, untuk kembali bertemu dr. Indiyanto Chandra, Kepala Puskesmas Kutawis.

Apa saja yang didapat dalam perjalanan awal Juli?  Satu hal yang paling berkesan adalah ketika menengok Puskesmas Kutawis… Apa yang membuat saya begitu terkesan ?? silahkan lanjutkan…
Awal bulan, dalam perjalanan pertama ke Cilacap, saya sengaja mengambil jalur selatan untuk mampir ke Puskesmas Petanahan dan Puskesmas Gombong II. Jalur yang membosankan sebenarnya, dengan jalan lurus hampir 30an km selepas Pantai Congot sampai Petanahan. Satu yang bisa bikin ‘bahagia’ adalah kalau ketemu jalan mulus… bisa ngebut hehe..

Mas Huda, pengelola Simpus Petanahan

Mas Huda, pengelola Simpus Petanahan

Dua puskesmas di Kabupaten Kebumen tersebut memang sudah lama mengaplikasikan Simpus Jojok. Pas saya sampai di Petanahan, pas hari itu komputer Simpus dipasang kembali setelah rusak. Petugas Simpus, Mas Huda, sampai heran, kenapa bisa pas banget saya mampir di Petanahan. Dan setelah sempat menunggu hampir 1 jam karena salah paham (Mas Huda mengira saya menunggu Pak Kardi, petugas Simpus terdahulu, padahal saya mau upgrade Simpus. Dengan Pak Kardi saya hanya mau kulonuwun hehe..) data Simpus yang hilang bisa dikembalikan, membuat petugas loket batal ‘nangis’ karena kehilangan ribuan data pasien.

Puskesmas Gombong, tidak banyak yang saya lakukan. Mengupgrade Simpus, membenahi beberapa data yang kurang pas, dan tidak lupa mengobrol ngalor ngidul dengan mbak Eny, pengelola Simpus Gombong II. Dan setelah itu, memang saya langsung bablas ke Majenang untuk menginap semalam. Keponakan kebetulan acaranya di Wanarejo, 10 km dari Majenang.

Malam hari, ke Wanareja, sekaligus pamit karena pagi-pagi saya harus langsung kembali ke arah timur, menuju Puskesmas Kutawis, Kabupaten Purbalingga. Puskesmas inilah yang akan banyak saya ceritakan dalam posting kali ini.

Puskesmas Kutawis, Purbalingga tampak depan

Puskesmas Kutawis, Purbalingga tampak depan

Sudah kedua kalinya saya datang ke puskesmas ini. Sekitar dua tahun yang lalu, saya pernah belajar Simpus di puskesmas ini. Dr. Indiyanto Chandra, kepala puskesmas yang sudah 22 tahun mengabdi, adalah kenalan lama saya yang pernah bertemu ketika bersama-sama presentasi di Semarang.  Beliau waktu itu juga menampilkan Simpus yang dikembangkan di Puskesmas Kutawis. Dan seperti biasa, saya gatal untuk berkunjung untuk melihat Simpus yang telah dikembangkan oleh pihak lain. Hanya saja memang saya menemukan hal yang lebih luar biasa yang jarang saya temukan di puskesmas lain. Hal yang membuat saya bersemangat untuk kembali datang.

dr. Indiyanto Chandra, Kepala Puskesmas Kutawis

dr. Indiyanto Chandra, Kepala Puskesmas Kutawis

Lokasi puskesmas ini, terletak di wilayah selatan Purbalingga, berada di dekat kampung halaman Chris Jhon, juara dunia tinju itu. Dengan 6 desa wilayah kerja, puskesmas ini mempunyai satu program yang membuat saya mengacungkan jempol, sambil berharap program (yang sebetulnya standar di puskesmas) bisa ditiru di daerah lain.

Salah satu program unggulan yang memang menjadi andalan puskesmas selain Simpus adalah kegiatan PHBS. Ya… program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Disini saya menemukan seorang kepala puskesmas yang memang sangat konsen dengan program tersebut.

Dalam obrolan tanggal 3 Juli pagi, selama hampir 2 jam dr. Candra bercerita banyak tentang kegiatan yang telah dilakukan. Dan saya sangat salut, betapa kegiatan-kegiatan itu benar-benar dilakukan dengan partisipasi masyarakat yang luar biasa. Dengan lugas beliau menyampaikan, Misi Indonesia Sehat 2010 (upssss… satu tahun lagi sodara-sodara, Indonesia akan sehat), tidak akan tercapai bahkan dengan membuat rumah sakit di setiap desa di Indonesia. Indonesia Sehat bisa dicapai kalau perilaku masyarakatnya memang sudah sehat. Secara panjang lebar diuraikan program-program  yang mbikin saya melongo, bayangkan saja, puskesmas ini melakukan antara lain :

  • Jambanisasi. dalam program ini, puskesmas tidak cuma sekedar membagikan jamban, tetapi banyak memberikan stimulan sebagai pancingan agar masyarakat lebih peduli pada jamban. Ada satu desa dengan 100% rumahnya berjamban. Dan hebatnya, puskesmas menyediakan juga jamban-jamban untuk dijual, dan juga pemberian semen sebagai stimulan untuk masyarakat.
  • Kegiatan surveylance PHBS sama sekali bukan proses sampling, karena data yang dicatat adalah data per rumah tangga. Salah satu kelebihan pendataan anggota masyarakat membuat data di puskesmas ini lebih lengkap dari data di kecamatan.
  • Penjualan PHBS set. Beberapa barang yang berkaitan dengan PHBS, disediakan oleh puskesmas dengan harga lebih terjangkau, misalnya tong sampah, sepatu bot, sarung tangan, jamban keluarga, kemudian juga sarana untuk penjernih air (kalau tidak salah sih… lupa namanya, atau untuk disinfektan ya…). Dengan santai Pak Kapus ini bercerita, omsetnya sudah ratusan juta.
  • Program lantainisasi sumur dan pembuatan sumur sehat. Puskesmas ini bahkan mempunyai cetakan buis beton untuk pembuatan pagar bibir sumur atau membuat pot bunga.
  • Program kebersihan desa. Kalau tidak salah ada kegiatan Jumat Bersih. Dulu banyak daerah mengadakan kegiatan ini, tapi belakangan sepertinya sudah tidak ada gaungnya.
  • Kerja sama dengan beberapa perusahaan nasional. Unilever adalah salah satu perusahaan yang bisa digaet untuk mendukung kegiatan Puskesmas Kutawis.

Memang masih banyak hal yang disampaikan beliau tentang PHBS ini. Terus terang saya jadi ingat betapa kegiatan ini di beberapa puskesmas lain sama sekali tidak berjalan.

Tumpukan jamban keluarga, cetakan buis beton, ... kayak toko bangunan ya hehe...

Tumpukan jamban keluarga, cetakan buis beton, ... kayak toko bangunan ya hehe...

dr. Chandra menunjukkan catatan penjualan PHBS Set. Ratusan juta lho total omsetnya.

dr. Chandra menunjukkan catatan penjualan PHBS Set. Ratusan juta lho total omsetnya.

Tumpukan perangkat PHBS...tinggal sedikit.

Tumpukan perangkat PHBS...tinggal sedikit. Tempat Sampah, serok sampah, tudung saji, sepatu bot...

Hal lain yang juga saya lihat adalah pengembangan Simpus. Simpus ini, sudah mulai diaplikasikan di puskesmas lain di wilayah Purbalingga, sehingga mungkin bisa disebut Simpus Purbalingga. Simpus yang dikembangkan menggunakan sistem online, setiap ruangan mempunyai komputer untuk entry data. Pengembangan Simpus ini hampir bersamaan waktunya dengan ketika saya memulai mengembangkan Simpus. Hanya saja Simpus ini langsung menerapkan sistem online, berbeda dengan saya yang lebih dulu menggarap Simpus single user.

Salah satu staf menunjukkan Simpus Purbalingga.

Salah satu staf menunjukkan Simpus Purbalingga.

Masih banyak cerita yang bisa didapat dari Puskesmas Kutawis. Selama hampir 3 jam cerita-cerita mengalir dari pak Candra dan juga staf-staf beliau. Yang jelas banyak hal yang benar-benar membuat saya mendapat wawasan baru tentang program kerja puskesmas.

Ketika saya bilang kalau harusnya program-program ini jadi percontohan puskesmas lain, dr. Candra hanya bilang,” Mas Jojok, Semua sudah ada di buku Puskesmas, tinggal mau melaksanakan atau tidak”.

Betul ndak sih ??

12 Tanggapan

  1. Wah, Mas…
    Pengalaman yang penuh inspirasi tidak hanya bagi yang bekerja di bidang kesehatan tetapi juga bagi semua lapisan masyarakat.

  2. bener mas, banyak bidang lain yang juga berkesan dan membawa inspirasi. Hanya saja kebetulan saya kontaknya lebih banyak dengan orang-orang kesehatan, jadinya cerita itu yang bisa saya tuliskan 🙂
    Pati aman terkendali ?

  3. Sebenarnya program PHBS seperti yang dilakukan oleh Puskesmas Kutawis tidak harus seperti itu. Inilah jeleknya negara kita yang sangat miskin kerjasama lintas sektoral. Jargon “pembangunan berwawasan kesehatan” hanya mampir di lisan saja. Itu kan harusnya kerjaan orang PU dan sejenisnya. Tetapi bagaimana pun kita patut mengapresiasi pihak puskesmas yang mampu berperan secara multisektor. Salam kenal Mas Jojok…

    • Salam kenal pak Wid… teria kasih dah mampir. boleh tahu dari puskesmas mana bapak ?
      wah itu cerita belum sepenuhnya saya tulis karena keterbatasan tempat, masih banyak hal lain yang mungkin bikin tambah bikin terkesan saya hehe.. silahkan main-main ke Kutawis kapan-kapan.
      Lintas Sektoral, ya itu memang yang selalu disinggung oleh pak Tjandra, benar-benar sangat diperlukan supaya “Indonesia Sehat” bukan sekedar impian belaka..

  4. mas Jok, saya usul nih. catatan perjalanan sampeyan ini luar biasa.. mbok dirintis untuk dijadikan sebuah buku gitu.. deket2 rumah mas Jok banyak penerbit kan?

    • walah pak..orang cuma keluyuran ke`puskesmas`saja, jauh dari kepantasan menjadi buku hehe..lagipula banyak juga catatan hitam yang saya temukan… ga tega..

  5. selagi muda…jalan terus…kelak jadi cerita yang tak putus ujungnya…
    Apa kabar Mas Jojok
    Salam

    • Kabar baik pak Sahrir, alhamdulillah…
      yah seperti di tulisan itu, mumpung lagi musim kering sekarang hampir tiap hari keliling. Blog jadi agak telantar nih, kalau malam mau nulis dah kehabisan mood hehe… mudah2an nanti pelan2 bisa nambah..

  6. udah lama, ya.. baru baca nih.. desa saiya tuh.. jadi kangen pengen mudik..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: