Memulai Simpus : Pilih Simpusnya (2)

Cukup lama saya menyimpan kelanjutan tulisan tentang tahap memulai Simpus, yaitu tentang memilih Simpus yang paling cocok untuk puskesmas. Maklum, posisi sebagai pedagang asongan Simpus, bisa membuat saya tidak fair menulis tentang konten itu hehe… langsung saja bisa saya tulis.. “Dengan modul yang masih apa adanya, Pilih Simpus Jojok!”.

Tumpukan yang biasa ditemui di puskesmas, salah satu sumber data Simpus

Tumpukan yang biasa ditemui di puskesmas, salah satu sumber data Simpus

Setelah menimbang, mengingat, dan juga meyakinkan bahwa saya masih bisa menahan diri untuk tetap fair dalam menulis, akhirnya memutuskan juga untuk melanjutkan tulisan tentang Memulai Simpus : Pilih Simpusnya (2). Tentunya mohon maaf sebelumnya, kalau nanti dalam tulisan ini masih ada sedikit senggolan tentang Simpus Jojok hehe…

Kalau dalam bagian pertama saya banyak menulis masalah non teknis sekitar pilih memilih Simpus, maka kali ini saya coba menulis tentang hal yang agak sedikit teknis.

Simpus, sebagaimana tujuan awalnya, memang suatu sistem pencatatan dan pelaporan oleh puskesmas untuk kepentingan pihak-pihak yang terkait. Lebih spesifik lagi dalam Simpus saat ini, bukan sekedar membuat catatan manual, tetapi sudah lebih menjurus ke arah pengembangan digitalisasi data yang ada di puskesmas. Nah sekarang, untuk memilih digitalisasi yang mana yang paling cocok untuk puskesmas, software apa yang paling pas, sistem apa yang paling sip, bisa kita gambarkan dalam uraian berikut.

Ketika memilih Simpus, seperti tulisan yang terdahulu, hal yang patut menjadi pertimbangan utama adalah kemampuan puskesmas. Simpus, sebagian besar adalah (maaf kalau keliru atau kurang pas) domain puskesmas, sehingga patutlah kiranya kondisi yang ada di puskesmas, baik SDM maupun kesiapan infrastruktur, menjadi pertimbangan utama sebelum Simpus ini di jalankan. Kemampuan puskesmas yang sudah terpetakan akan membuat memilih Simpus menjadi lebih mudah.

Kemampuan petugas puskesmas, masih banyak yang sekedar main game.

Kemampuan petugas puskesmas, masih banyak yang sekedar main game.

Beberapa sudut pandang pengembangan aplikasi Simpus yang bisa dipilih untuk di aplikasikan di puskesmas mungkin bisa saya sampaikan disini :

Berdasarkan waktu pencatatan data :

  1. Model pencatatan setelah pelayanan. Pada Model pertama, data-data dimasukkan ke dalam Simpus setelah pelayanan selesai. Dalam hal ini petugas menerima catatan pelayanan pasien dan kemudian memasukkan ke dalam komputer setelah semua data-data lengkap. Model seperti ini menuntut tersedianya tenaga operator khusus Simpus yang tidak boleh diganggu pekerjaan lain. Bisa juga disiasati dengan pembuatan jadwal memasukkan data oleh semua petugas puskesmas, sehingga data bisa masuk secara rutin. Kelebihan dari model Simpus ini adalah implementasinya sangat fleksibel, luwes, dan bekerja sesuai dengan kemampuan serta waktu yang dimiliki oleh petugas Simpus. Data-data beberapa hari sebelumnya dengan mudah tetap dapat dimasukkan, terutama data-data dari luar gedung yang kadang baru beberapa hari kemudian sampai di meja komputer.
  2. Model pencatatan mengikuti alur pelayanan. Model yang kedua ini, sedikit lebih maju dalam hal timing data (istilah apalagi ini hehe…). Intinya, setiap pelayanan diberikan kepada pasien, saat itu pula data dimasukkan. Real time istilahnya. Nah mudah ditebak, Simpus seperti inilah yang diharapkan menjadi model ideal dalam setiap proyek-proyek pengadaan Simpus yang pernah saya temukan. Muaranya adalah, keinginan untuk mendapatkan data secepatnya, sehingga setiap ada kejadian yang di luar kebiasaan, bisa segera dideteksi dan diambil tindakan pencegahan. Model Simpus ini sudah banyak yang dikembangkan di beberapa daerah, ada yang berhasil, banyak yang gagal. Klaim berhasil pun masih bisa dipertanyakan apakah memang sudah 100% atau sekedar kunjungan dalam gedung yang bisa real time. Kelebihan dari model kedua ini, Simpus sebagai satu sistem, selain kecepatan akses data, juga bisa dimanfaatkan untuk membantu mempercepat pelayanan kesehatan, serta lebih memberikan beberapa efisiensi dalam administrasi. Selain itu, pencatatan medis juga jauh lebih tertata rapi, sehingga data-data pasien lebih terjaga akurasinya.

Berdasarkan desain program :

  1. Simpus yang stand alone.   Simpus model ini jelas, hanyak butuh satu komputer, biasanya dipakai untuk implementasi simpus setelah pelayanan data selesai. (Simpus Jojok model jadul ada disini nih… ). Sering saya sebut sebagai Simpus Single User, karena memang hanya butuh satu operator untuk memasukkan data. Pada perkembangan berikutnya memang saya kembangkan modul Simpustu untuk lebih mempercepat proses pengisian data. Data-data yang ada disimpan dalam tabel lokal (database flat, flat tabel… atau apa entah saya lupa istilahnya, 10 tahun lebih lulus kuliah hehehe ). Satu komputer, satu user, hanya mengakses satu database. Database tidak bisa di bagi-pakai untuk pengguna lebih dari satu.
  2. Simpus yang multi user. Simpus model ini jauh lebih maju, karena desain database nya jelas diatas sistem database flat. Pada Simpus ini beberapa user atau operator secara bersama-sama mengakses database sehingga setiap proses bisa saling mengisi. Model Simpus ini sejalan dengan Simpus yang mengikuti alur pelayanan. Bukan mutlak sih, karena sebenarnya data juga tetap bisa dimasukkan di akhir pelayanan.
Ilustrasi proses multi user. Thx to Albert

Ilustrasi proses multi user. Thx to Albert

Berdasarkan model aplikasi :

  1. Simpus dengan menggunakan aplikasi lain. Simpus model ini memanfaatkan program-program yang sudah tersedia yang memang sebenarnya bukan spesifik untuk Simpus tetapi untuk kebutuhan yang lebih luas. Simpus dalam hal ini bisa dikembangkan secara fleksibel. Misalnya menggunakan lembar kerja Ms Excel, database Ms Access, atau menggunakan SPSS (malah langsung lebih enak dalam analisa data, meskipun nantinya membutuhkan serangkaian makro-makro yang hehehe… tidak saya kuasai).
  2. Simpus Desktop. Simpus model ini menggunakan aplikasi Desktop, dimana layer-layer yang dibutuhkan antara seorang pengguna untuk mengakses data dalam Tabel Database lebih sedikit, sehingga Simpus model ini biasanya lebih cepat dalam eksekusi perintah. Pengembangan Simpus ini bisa menggunakan tool-tool yang sudah banyak tersedia, seperti Delphi (saya menggunakan ini, dan bisanya juga cuma ini), Visual DBase, Visual Foxpro, Visual Basic, dan masih banyak yang bisa disebutkan lagi. Dalam model ini, program memang langsung dikembangkan sesuai dengan alur data Simpus.
  3. Simpus Web Based. Simpus ini menggunakan web based application dalam pengembangannya, semisal PHP-MySql, atau Ajax, atau Dotnet, atau Java (eh bener ndak ?? ) Saya gak berani nulis lebih lanjut karena kebetulan saya tidak menguasai dunia web application. Hanya saja dari pengalaman, layer-layer antara user dengan database memang lebih banyak sehingga kecepatan akses dari sistem webbased ini relatif lebih lambat daripada kecepatan aplikasi desktop.

Baik Model aplikasi desktop, atau web based, bisa dikembangkan dan diimplementasikan sebagai simpus yang stand alone ataupun multiuser.

Nah… mungkin itu sedikit tambahan tulisan dari saya untuk sekedar merefreshing kembali Simpus yang ada. Mohon tambahan info kalau ada yang kurang. Tulisan mendatang, akan saya coba tulis beberapa gambaran dan ilustrasi real implementasi Simpus untuk puskesmas dengan segala kondisi yang ada.

Mohon doa restu…

(bersambung……………………………………..)

14 Tanggapan

  1. ada yang kurang bos
    seharusnya ditambahkan juga iklannya
    kalo pake tulisan vulgar, ya disampaikan pake gambar-2 yang lain
    SIMPUS JOJOK dijamin garansinya memuaskan
    he…heh..heh
    aku bantu promosi, jangan lupa royaltinya…..

  2. absen dulu deh .. dah pagi .. ntar dibaca lagi ..

  3. ssttt…nanti ada sendiri mas Yudha, promo serta gambar2nya. Garansi, yang jelas anda puas, kami puas, kita puas…

    Absen thok.. nilai nya cuma C pak hehe..

  4. Dari tiga berdasarkan di atas, maka dipastikan bahwa Puskesmas Sungai Ayak kena yang nomor 1. Yah …. bisanya memang di situ, dan kebanyakan Puskesmas saat ini masih nyangkut di nomor 1. Gimana Om tanggapannya ? Maju terus SIMPUS biarpun pake asongan. Kesempatan masih luas !

    • yapp… ndak papa pak…
      Simpus bukanlah hal kayak kitab suci yang harus menganut satu model tertentu kok. Sangat fleksibel. Yang paling penting dari penerapan Simpus adalah SImpus itu bisa memenuhi kebutuhan puskesmas dan bisa diaplikasikan sesuai dengan kemampuan puskesmas. Justru masih nyangkut di nomer 1 pun asal sudah bisa sesuai dengan dua hal itu, Simpus berarti sudah terimplementasi..

      Bayangkan saja deh dengan model2 Simpus yang canggih-cangih tapi gak bisa dipakai. Namanya thok Simpus… tapi gak ada gunanya.

      Kesimpulannya, Simpus sekali lagi memang harus berangkat dari kemampuan puskesmas. Kalau memang kemampuan baru nyampai nomer 1, ya maksimalkan saja implementasi di tataran itu… ndak perlu memaksakan diri untuk menggapai tataran yang muluk-muluk hehe..

      begitu ???

      • Mungkin jadi repot kalo nanti ada standar rekam medis yo Mas🙂

      • bukan repot sih bert, cuma nambah kerjaan hehe…

      • Tergantung standarnya juga sih. Seringkali orang salah, semua-muanya distandarkan, sampe software sedetil2nya juga dibuat standar. Menurutku, yang perlu distandarkan adalah soal penyusunan laporan saja. Yang penting data yang dilaporkan formatnya seragam, agar mudah diolah lagi. Itu saja. Cara untuk mendapatkan data yang dilaporkan itu, ya terserah puskesmasnya. Mau pake cara manual, monggo. Mau pake software, monggo juga. Mau pake Simpusnya Mas Jojok, disarankan.

        Lho, malah ngiklan.. Hehehe…

      • ssstttt… fee nya nanti ya bert hahaha..

  5. Menarik bahasannya mas jojok. Membaca realitas tentang kemampuan minimalis puskesmas, menurut saya tidak berarti mengalur berdasarkan perkembangan puskesmas. Kita contohkan saja, ada puskesmas baru dengan kelengkapan perlalatan yang cukup memadai. Sumber daya manusia juga sangat bagus, namun begitu pengalaman dan kemampuan pengelolaan puskesmas masih minim. Nah, kalo ini dianggap sebagai realitas maka pertanyaannya adalah program simpus mengikuti perkembangan mereka ataukah simpus yang dikembangkan dibuat berdasarkan standar yang seharusnya?
    Menurut saya, persoalannya bukan pada pola pemaksaan harus diterapkannya simpus tertentu tetapi bagaimana pada saat implementasi simpus proses transformasi dan partisipasi bisa terbangun dengan baik. Disamping itu, perencanaan pengembangan, penerapan dan evalusi sudah dicanangkan juga sejak awal sebagai bagian dari komitmen pemakaian sistem informasi. Kalo masalah harus menggunakan program siapa atau yang bagaiman saya kira relatif. Karena program yang bagus belum tentu bagus pelaksanaannya dan sebaliknya program yang murah belum tentu murah pada pengembangannya. Itu pendapat saya pak, mohon diberikan wejangan untuk saya yang masih yunior ini.

  6. Saya tertarik dengan aplikasi simpus yang pak jojok kembangkan. Mohon kirimkan via email saya no telp dan alamat untuk pembicaraan lebih lanjut. ASAP ya pak….

    terima kasih pak… segera dilanjutkan di jalur pv…🙂

  7. apakah aplikasi yang digunakan semua ada dalam box berbagi itu pak jojok?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: