Menengok Puskesmas Kintap

Cover

Minggu ini, kembali saya diundang Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Selatan untuk melaksanakan evaluasi pengembangan Simpus di sana. Acara berlangsung tanggal 13-14 Oktober 2009 di Bapelkes Banjarbaru. Jatah saya sendiri hari pertama sore hari, dengan materi presentasi singkat pengembangan modul-modul baru. Dan seperti pertemuan terdahulu, malam hari diisi dengan acara diskusi dan konsultasi santai tentang Simpus bagi peserta yang membutuhkan.

Hari kedua pertemuan, acara kali ini diisi dengan kunjungan lapangan ke salah satu puskesmas di wilayah Kabupaten Tanah Laut yang sudah menjalankan Simpus dengan baik. Mungkin kegiatan seperti ini jauh lebih berwarna dibandingkan kegiatan-kegiatan terdahulu yang hanya di dalam gedung. Dalam kegiatan seperti inilah, diharapkan peserta yang merupakan pengelola Simpus bisa melihat langsung proses sederhana berjalannya Simpus di satu puskesmas. Susah memang untuk memulai Simpus, butuh lebih dari sekedar pembelian software, pengadaan komputer, pembangunan tower (satu hal yang saya sayangkan sudah banyak terjadi di dinas kesehatan kabupaten), tetapi membangun Simpus adalah membangun sistem dengan diawali dan dilandasi komitmen yang kuat.

Itu yang saya temukan di Puskesmas Kintap.

Puskesmas Kintap berada di perbatasan dengan Kabupaten Tanah Laut, sekitar 3 jam perjalanan dari Kota Banjarbaru, tempat acara kemarin dilaksanakan. Saat ini sedang dibangun gedung baru untuk unit rawat inap yang (keliatannya bakal) cukup megah.

Bu Marliani, pengelola Simpus Kintap, dalam presentasi awal menyampaikan kondisi Simpus di Kintap yang sudah lancar, dimana sebagian pelaporan sudah menggunakan Simpus untuk mengolahnya. Komputer yang ada 3 unit, dimana semua dimanfaatkan untuk memasukkan data Simpus. Dua komputer digunakan untuk mengisi data puskesmas induk, satu di loket dan satu di ruang komputer (sudah ber AC lho ruangannnya…). Sementara satu komputer lagi di install Simpustu, dimana bidan-bidan desa memasukkan data kunjungannya disana.

Tiga komputer sudah dihubungkan dengan jaringan LAN, sehingga transfer data dengan mudah dapat dilakukan antar titik. Kemudian sebagian staf juga sudah mampu melakukan proses entry data, meskipun tetap diperlukan proses cleaning data sehingga data bisa tetap valid dan benar.

Dalam presentasinya, secara langsung ditunjukkan data-data hasil pengolahan yang berada di puskesmas. Tetapi tidak lupa juga dari puskesmas menanyakan beberapa hal yang masih menjadi kendala atau ganjalan sehingga merasa perlu untuk langsung konfirmasi ke saya…

Beberapa hal yang masih menjadi tanda tanya  misalnya jumlah stok akhir obat yang sering selisih, dimana hal itu terjadi karena belum sama nya persepsi stok akhir puskesmas dengan stok akhir semua obat di puskesmas, termasuk stok akhir di pustu/polindes.

Dalam sesi diskusi, giliran Pak Nasrullah dari puskesmas Tajau Pecah (atau Jorong ya ?kalau tidak salah hehe… lupa nyatat, tapi beliau sering kontak saya), ganti menyampaikan pengalaman implementasi Simpus di puskesmasnya. Beliau dengan lancar bercerita pengalaman beratnya menjalankan Simpus di awal implementasi, sampai sekarang enaknya memakai Simpus untuk pengolahan data. Bahkan di puskesmas beliau, sudah dipakai pencetakan kartu pasien sekaligus proses laminating untuk pasien (dengan tambahan biaya tentunya).

Sesi berikutnya, melihat langsung implementasi Simpus. Di situlah saya menemukan hal yang belum tepat, dimana loket belum menggunakan Simpustu, tetapi Simpus, sehingga merepotkan karena proses sinkronisasi nya dilakukan dengan proses copy paste, bukan proses upload data. Maklum hal itu memang belum dilatihkan. Saat itu juga dalam waktu singkat saya ajarkan alur data untuk loket dengan Simpustu dan proses upload datanya ke Simpus dengan menggunakan LAN.

Beberapa perwakilan kabupaten lain tampak antusias sekali melihat praktek lapangan langsung sistem Simpus yang saya sembut Optimal Minimalis, dimana dengan kondisi perangkat yang minimal, sudah langsung terasa manfaatnya secara optimal untuk puskesmas yang melaksanakannya.

Cukup menyenangkan buat saya (dan mengharukan juga) menemukan Simpus bisa jalan tanpa kehadiran saya disana, mendengarkan pengalaman puskesmas-puskesmas tersebut. Sungguh saya sangat berharap, lebih banyak lagi puskesmas di Kalimatan Selatan, dengan segala keterbatasan perangkat, keterbatasan listrik, atau keterbatasan anggaran, bisa ikut menjalankan Simpus.

(mohon maaf, foto2 menunggu kiriman dari Kintap, saya kemarin gak bawa kamera hehe…)

2 Tanggapan

  1. sip mas, jadi gemes jga ni’ mau nyobain …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: