Memulai lagi, menulis lagi

Tak terasa, berbulan-bulan niat untuk kembali menulis di blog harus gagal, total. Posting terakhir, Bulan Oktober 2010 dengan semangat menulis lagi ternyata harus mandeg. Merapi 2010…

Letusan Merapi, bukan yang terbesar, tapi letusan sebesar ini justru biasanya menjadi tontonan di daerah kami, lereng Merapi.

Ya, itulah hal yang harus saya hadapi ketika satu saat, resiko yang tidak pernah diperkirakan sedemikan parah menimpa kami, team Simpus Jojok. Kampung sebagian besar anggota team Simpus (yang memang masih bersodara), yang ada di lereng tenggara Merapi, tahun kemarin akhirnya ikut icip-icip menikmati ‘gawe besar’ dari gunung yang paling aktif di dunia. Letusan rutin Merapi, biasanya menjadi tontonan yang sangat mengasyikkan, apalagi kalau malam hari. Lelehan lava pijar justru satu keindahan tersendiri yang tidak bisa dilewatkan dari samping kampung.

Menikmati semburan awan panas Merapi, sebelum akhirnya letusan besar terjadi.

Untuk pertama kalinya, setelah sekian puluh tahun, atau setelah ratusan tahun, kekuatan dahsyat letusan Merapi memaksa kami semua mengungsi, padahal beberapa malam sebelumnya, justru kami menerima pengungsi.

Pengungsi dari wilayah atas.

1500 an pengungsi di kampung kami, sebelum akhirnya kembali mengungsi ke tempat yang lebih jauh lagi.

Alhamdulillah, memang bencana yang sampai kampung kami tidaklah separah saudara-saudara kita di lereng atas, tersapu awan panas.  Tidak pula setragis saudara-saudara kita yang kehilangan semuanya, dikubur material Merapi. Atau tidak separah saudara-saudara kita sepanjang Kali Gendol, Kali Putih, Kali Pabelan, dan beberapa sungai-sungai besar yang menjadi aliran lahar dingin.  Meskipun begitu, hujan lumpur yang sempat terjadi malam 5 November 2010, sudah cukup memaksa kami semua mengungsi.

Padepokan Simpus Jojok, dua hari setelah hujan lumpur... (maaf lagi keracunan cerita silat Api di Bukit Menoreh)

Biar gaya, tapi sebenernya deg-degan setengah mati, gemuruh Merapi masih kedengaran jelas, tapi harus pulang untuk mengambil barang-barang penting dan motor kesayangan.

Masih sangat beruntung, dibanding motor-motor yang ikut terkubur... masih bisa menemani perjalanan Simpus keliling puskesmas.

40 hari, waktu yang saya sendiri gunakan untuk mengungsi, tidak sekedar menghadapi rumah yang kotor, tapi juga merawat ibu yang harus dua kali masuk rumah sakit, kemudian ditambah beberapa masalah lain yang timbul, sehingga semangat yang sempat timbul untuk kembali menulis di blog inipun, hilang… Beberapa gambar sempat diambil, hanya sekedar kenang-kenangan bahwa kami pernah melalui masa-masa itu.

Bencana sudah berlalu, Team Simpus sudah mulai aktif, meskipun Bagyo masih harus istirahat gara-gara kecelakaan di Gunung Kidul. Keliling negeri, keliling puskesmas, melatih bidan, melatih staf puskesmas, presentasi di dinas, diomeli petugas simpus, sudah kembali dijalani. Sepertinya sudah saatnya memang untuk kembali menjalin informasi melalui tulisan-tulisan di blog ini. Tulisan yang saya harap bisa menjadi salah satu alat untuk menyambung kembali silaturahmi dengan semua pengguna Simpus kami, PUSKESMAS…

3 Tanggapan

  1. walau sakit yg penting bisa melangsungkan pernikahan mas…makasih pd tim simpus yg ikut memberi dukungannya pd kami….ayo pd nyusul….

  2. Wah lama tak berkunjung.. Terakhir, kayanya 2 taun lalu..hehe…

  3. mojolaban kok ga kesebut yaaa….?😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: