Cerita yang tertunda

Bu dr. Vivi, Kepala Puskesmas Pelaihari... sstttt.. beliau ternyata masih kerabat dr. Agus, user Simpus dari Puskesmas Krejengan, Probolinggo hehe... dunia memang sempit.

Dari perjalanan ke Kalimantan Selatan beberapa waktu yang lalu, masih ada beberapa gambar dan catatan yang tersisa, sayang kalau tidak ditampilkan di blog untuk saling berbagi informasi. Ndak papalah ceritanya tertunda, yang penting bisa berbagi dengan sesama.

Kesibukan gara-gara di-kejartayang-i (ini bahasa apa pula ya) tagihan software membuat waktu untuk menulis di blog agak kurang. Meskipun untuk nongol fesbuk masih bisa cukup waktu hehe.. maklum, menulis di blog butuh waktu yang agak sedikit lama dan khusus sembari menunggu ide dan mood datang. Lain dengan fesbuk, asal cuap-cuap, asal komen, asal meng-komen-i status teman …

Cerita dan foto kali ini dari Puskesmas Pelaihari, salah satu puskesmas di wilayah kerja Dinas Kesehatan Tanah Laut. Perjalanan sendiri adalah kelanjutan setelah pertemuan di Paringin, Kabupaten Balangan. Kemudian juga ada cerita dari Puskesmas S. Parman, Kota Banjarmasin. Puskesmas inilah yang melakukan pelatihan malam hari setelah pertemuan tahun kemarin di Banjarbaru.

langsung saja ya, singkat cerita dan ceritanya memang singkat…

Baca lebih lanjut

Iklan

Kembali ke Banjarbaru

Senen siang, kembali saya ke Banjarbaru. Kali ini acara meneruskan kegiatan kemarin yang sempat ‘kekurangan’ waktu hehe.. Pak Syafril minta mulai dilakukan validasi kode-kode dan kesepakatan tentang data dasar yang akan digunakan. Sekaligus juga untuk mulai memasang pemetaan di komputer Dinas Tanah Laut dan Hulu Sungai Tengah yang sudah selesai dikerjakan. Herannya, kedatangan kali ini juga diikuti radang tenggorokkan lagi… Sakit yang kemarin dah ilang kok tau-tau nongol lagi..alamat siap-siap kehabisan suara kalau telat minum obat. Sayang rencana acara dibarengkan dengan pelatihan ke Pelaihari sepertinya susah diwujudkan, waktunya terlalu mepet.

Untuk Pemetaan, sudah diselesaikan dan disampaikan peta ke Tanah Laut dan Hulu Sungai Tengah. Pemetaan mendatang adalah Banjarbaru dan menyusul pemetaan untuk tingkat propinsi. Mudah-mudahan di tahun ini pada waktu advokasi sudah bisa ditunjukkan alur pelaporan dari puskesmas-dinas kesehatan kabupaten/kota-dinas kesehatan propinsi, lengkap dengan pemetaan di masing-masing tingkat organisasi.

O iya, ini adalah contoh pemetaan untuk Software Simpus Terpadu di tingkat Dinas Kesehatan Tanah Laut. Unit terkecil pengamatan penyebaran penyakit adalah desa atau kelurahan. Pemetaan di tingkat Dinas Kesehatan ini akan langsung otomatis muncul setiap proses pelaporan dari puskesmas menggunakan pengiriman data elektronik selesai dilakukan.

Pemetaan Wilayah kerja Dinkes Tanah Laut

Pemetaan Wilayah kerja Dinkes Tanah Laut

Dua hari pertemuan kembali membawa masukkan bagaimana saya lebih dalam menghadapi kendala implementasi Simpus, tidak cuma di level puskesmas, tapi masuk dalam level yang lebih tinggi.. propinsi.

Masalah yang terbesar justru ada di masalah birokrasi, manajemen atau organisasi yang sudah ada di dinas kesehatan. Dari masalah birokrasi misalnya, hampir semua dinas kesehatan belum bisa memutuskan apakah Simpus bisa/sanggup diaplikasikan. Memang menjadi masalah utama, sebenarnya siapa yang harus ketuk palu untuk menentukan bahwa sistem ini dipakai sebagai satu-satunya pencatatan kunjungan di puskesmas. Dinkes Propinsi dan Dinkes Kabupaten Kota sepertinya belum duduk bersama. Beberapa peserta juga mengeluhkan hal yang sama, karena belum adanya payung hukum yang pasti tentang implementasi Simpus ini. Peserta bahkan ada yang mengusulkan untuk mengundang semua kadinkes dan kapus se-Kalsel untuk diperkenalkan dengan Simpus, sehingga proses kesepakatan bisa berjalan lebih lancar. Memang menurut Pak Syafril, tahapan sekarang adalah tahapan memperkenalkan Simpus ke semua perwakilan Kabupaten/Kota di Kalsel sebelum nanti diadakan advokasi ke seluruh pengambil kebijakan di Kalsel tentang implementasi Simpus.

Terus terang saya jadi ingat dengan cerita dr. Syururi, mantan Kadinkes Purworejo, sewaktu beliau mulai mengembangkan SIK Purworejo. Pada satu pertemuan di Ngawi, beliau bercerita kepada saya tahap-tahap pertama beliau mengembangkan SIK. Bukannya sibuk mencari proyek sana sini, tapi beliau mengembangkan terlebih dahulu, dengan dana yang seadanya, uji coba, evaluasi, menunjukkan kalau sistem bisa berjalan ada hasil, baru kemudian mengadakan advokasi ke Pemda untuk pengembangan lanjutan. Beliau menekankan, bahwa yang paling penting semua harus diawali dengan KOMITMEN. Ya… komitmen dengan huruf besar. Hal yang hampir sama juga dilakukan oleh Dinkes Ngawi.

Pada pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk menunjukkan Simpus KIA, serta konsep sistem informasi KIA, dimana konsep yang ingin dikembangkan adalah konsep informasi, bukan konsep pelaporan. Memang sangat susah untuk merubah cara pandang dari semua pihak, karena memang konsep informasi adalah mulai dari pembenahan data yang paling mendasar, paling mentah, baru menyusul pengolahan dan pemanfaatan data. Sementara yang berlaku sekarang kebanyakan justru permintaan bagaimana laporan yang sudah berupa data rekapitulasi itu bisa masuk ke dalam aplikasi. Kebetulan hadir dari ibu Hj. Mariani, SKM, Subdin Kesga sehingga dengan beliau saya bisa berdiskusi singkat tentang aplikasi KIA.

Dua hari pertemuan, sudah banyak masukkan yang didapat. Beberapa kabupaten sudah mulai kontak untuk merencanakan pelatihan Simpus di masing-masing wilayah kerjanya. Mudah-mudahan semua bisa menjadi jalan yang lebih mulus untuk lebih memperbaiki mutu informasi yang ada sekarang di Kalsel.

Hal yang mengagetkan…

Di akhir acara, hadir narasumber dari pusat, dr. Bambang. Beliau termasuk pemerhati dan perintis Simpus di Banjarmasin beberapa waktu yang lalu. Beliau diminta untuk memberikan masukan dan komentar sehubungan dengan pengembangan Simpus yang sudah dilakukan, serta memberi masukan tentang beberapa hasil diskusi kelompok yang dilakukan para peserta. Informasi yang bikin saya melongo (mohon maaf kalau salah pak…) dan trenyuh.

Pertama… Beliau sampaikan salut bahwa propinsi dan daerah masih mengembangkan Simpus, sementara beliau sampaikan, bahwa di pusat sendiri sudah tidak ada yang mengurus dan peduli dengan Simpus. Simpus tidak perlu bagi pusat. Simpus adalah kebutuhan puskesmas (ini saya cocok 100%). Depkes tidak butuh data kiriman Simpus. Saya tidak tahu apakah ini kondisi yang terjadi di bagian dr. Bambang (beliau dari Binkesmas), ataukah terjadi di wilayah Depkes. Sempat pula terbersit dalam benak saya, kalau memang gak butuh, ngapain juga milyaran digelontorkan untuk SIKNAS, memimpikan jaringan online sampai puskesmas, dan kalau tidak salah, salah satu tujuannya adalah mempercepat alur data.

Kedua… Simpus sendiri, baik SP2TP, LB1 dan lain-lain, sudah ‘ditinggalkan’ oleh pejabat di depkes. Ada saling tunjuk diantara mereka siapa yang harusnya mengelola Simpus. Data yang dikirim pun (mohon maaf nggih kalau keliru lagi…) tidak ada gunanya dikirim ke pusat, toh gak ada yang mengolah. Pusat fokus depkes adalah pada data dasar puskesmas.

hal-hal lain yang disampaikan tidak bisa saya ikuti, dua hal itu saja sudah cukup membuat saya terbengong-bengong… dan benar-benar menyesal sekali tidak ada kesempatan untuk berdiskusi lebih lanjut dengan beliau. Saya harus segera ke bandara untuk cek in. Sayang sekali beliau tidak hadir lebih awal untuk melihat dan berdiskusi bersama-sama tentang Simpus. Saya ingin sekali ngobrol banyak beliau (menurut pak Adi, staf Dinkes Propinsi, dr. Bambang ini dulu sangat konsen dengan Simpus di Banjarmasin) untuk meluruskan hal yang membuat saya takjub itu, saya berharap barangkali itu hanya awal yang mengagetkan supaya peserta tidak ngantuk untuk kemudian memberikan angin surga bagi pengembangan Simpus.

Suerrrr… saya pingin ketemu beliau…mudah-mudahan saya yang salah…