Pelatihan akhir tahun

Tahun 2009 sudah berlalu, sudah terlambat untuk mengucapkan selamat tahun baru hehe.. posting ini sekedar sharing foto-foto dari pelatihan Simpus KIA di hari-hari terakhir tahun 2009. Dua hari terakhir yang mestinya bisa santai, akhirnya tetap diisi pelatihan untuk bu bidan. Maklum susah nyari jadwal yang lowong pas akhir tahun kemarin.

Dua puskesmas yang saya datangi untuk pelatihan adalah puskesmas di wilayah Kabupaten Wonogiri. Tanggal 30 Desember 2009, saya berangkat ke Puskesmas Kismantoro. Mungkin anda belum pernah ke tempat ini, letaknya di ujung timur kabupaten Wonogiri, berbatasan dengan Kabupaten Pacitan/Ponorogo. Jarak dari pusat kota Wonogiri sekitar 57 km.

Puskesmas Kismantoro

Bu bidan desa, presentasi awal sebelum mencoba

Bu Bidan Desa, mencoba entry data. Sudah banyak bidan desa yang mulai kenal komputer.

Makan siang pelatihan di puskesmas, uenakkkk e pollll... ayam goreng, oseng-oseng tempe, oseng-oseng daun pepaya..

Hari kedua, pelatihan diadakan di Puskesmas Paranggupito, puskesmas yang beberapa bulan lalu saya datangi. Pelatihan di hari terakhir akhirnya dilaksanakan berbarengan dengan pelatihan untuk petugas loket. Maklum ada rencana menaruh komputer di loket untuk mulai menata rekam medis pasien.

Acaranya pertama selalu sama, presentasi awal untuk kesepahaman dan kesepakatan.

Bidan Koordinator pun, harus mencoba... hehe... ke depan bidan koordinator adalah pengelola utama data Simpus KIA

Dan seperti biasa, kalau waktu memungkinkan, sambil berjalan pulang, di hari kedua setelah pelatihan puskesmas Paranggupito, saya mampir di beberapa pantai di wilayah selatan Gunung Kidul. Pantai yang sudah hampir 20 tahun tidak saya datangi, Sadeng dan Wediombo. Sayang, meskipun liburan akhir tahun, siang itu pantai masih sepi. Menurut penjaga, biasanya malam hari nya yang ramai dengan orang yang ‘melek’ menunggu tahun baru.

Dua anggota team Simpus, mindah motor saja bisa gaya...

Pelabuhan Ikan Sadeng...

Mencari sinyal di Pantai Wediombo

Migrasi Simpus dan Inovasi Program KIA di pinggiran Mahakam

Puskesmas Loa Janan, Kutai Kartanegara

Ketika melakukan pelatihan tahap kedua Simpus KIA di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dua minggu yang lalu, 2-5 Desember 2009, perjalanan saya ditemani Bagyo dan Purwoko sekaligus juga dimanfaatkan untuk memulai langkah dan tahap baru Simpus Kutai Kartanegara, yaitu mulai mengimplementasikan Simpus Web Based di salah satu puskesmas. Puskesmas yang terpilih adalah Puskesmas Loa Janan. Beberapa kebutuhan implementasi Simpus Web Based seperti keberadaan komputer di hampir setiap ruangan, kemudian jaringan lokal komputer, serta sumber daya manusia yang sudah akrab dengan Simpus, sudah ada di puskesmas yang berada di persimpangan jalan menuju Tenggarong dan Samarinda dari arah Balikpapan ini.

Melongok Puskesmas Paranggupito

pkm paranggupito

Puskesmas Paranggupito, Kabupaten Wonogiri

Paranggupito, adalah satu wilayah di pojok selatan Kabupaten Wonogiri. Merupakan pemekaran dari Kecamatan Giritontro, berada di wilayah pantai Selatan. Berbatasan dengan Kabupaten Pacitan disebelah timur, Samudera Indonesia di selatan, dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di arah barat. Jarak dari pusat kota sendiri lumayan jauh, sekitar 75-80 km.

Simpus Jojok sudah mulai dipakai di Puskesmas Paranggupito beberapa tahun terakhir. Kebetulan juga puskesmas ini salah satu kloter terakhir dari tiga tahap pelatihan Simpus di Wonogiri. (hehe.. asal tahu saja, pengadaan Simpus memang kadang bertahap, sesuai kondisi puskesmas). Dan syukurlah proses entry data sudah bisa berjalan dengan lancar, menggunakan satu komputer dan satu laptop yang digunakan untuk Simpustu.

kapus

Plt. Kepala Puskesmas Paranggupito, dr. Abdul Mursyid

Nah ini cerita perjalanan saya ke Paranggupito…

Baca lebih lanjut

Safari Ramadhan di Puskesmas

Puskesmas Tirtomoyo I, Kabupaten Wonogiri. 101 Km dari rumah

Puskesmas Tirtomoyo I, Kabupaten Wonogiri. 101 Km dari rumah

Bulan Ramadhan sudah berlalu, Hari Raya Idul Fitri sudah dirayakan. Insya Allah, semoga tahun depan diberi kesempatan untuk bertemu lagi. Sebagaimana posting terdahulu, Ramadhan tidak menjadi alasan untuk memperbanyak tidur siang (meskipun hampir tiap hari juga tidur siang). Beberapa perjalanan yang agak jauh tetap saya lakukan, itung-itung sambil ngabuburit menunggu waktu buka puasa. O iya, kegiatan ini tidak meniru seorang tokoh orba lho hehe.. meskipun kegiatan seperti dulu itu saya pikir juga ada baiknya juga, bisa menyampaikan petunjuk daripada bapak presiden langsung ke masyarakat.

Hampir tiga minggu perjalanan saya lakukan dari pagi sampai sore, sambil menyelesaikan beberapa administrasi pengadaan untuk pengembangan lanjut Simpus di Sukoharjo dan Wonogiri. Tiga minggu touring sebelum akhirnya sedikit drop sepulang dari Grobogan dan Blora. Kecapean memaksa minggu terakhir bulan Ramadhan lebih banyak saya habiskan untuk istirahat, atau muter ke puskesmas yang tidak jauh dari rumah.
Baca lebih lanjut

Demak Pati Blora… tarikkkkkkk…

Minggu terakhir Mei 2009, acara yang saya tunggu lama akhirnya tiba juga. Yakkkkk… dah lama saya memimpikan touring melewati jalur ini, sekalian memenuhi undangan presentasi dan jadwal pelatihan Simpus di salah satu puskesmas Kabupaten Pati.

Seperti biasa, sayang rasanya kalau perjalanan ke Pati ini tidak diiringi ‘efek samping’ touring ke daerah lain. Melewati puskesmas pengguna Simpus kok cuma lewat, rasanya sayang. Kecuali kalau memang sedang dikejar waktu. Dan kali ini, saya pun merencanakan perjalanan ke Pati sekaligus untuk melakukan beberapa ‘kunjungan dinas’ (ck ck ck… gaya calon pejabat) ke beberapa puskesmas di daerah Demak dan Blora.

Rencana awal, berangkat melalui Demak, mendampingi implementasi awal Simpus Web Based di Karangawen, kemudian ke Pati, presentasi, dan seterusnya ke Blora, baru pulang setelah3-4 hari perjalan.

Kuda tunggang dan aksesoris...

Kuda tunggang dan aksesoris...

Eh iya, ibu-ibu bapak-bapak pengumuman-pengumuman… touring ini sebenernya juga sekaligus untuk ujicoba bagasi motor merk Kappa baru yang terpasang di bokong Yamaha Scorpio hehe… sudah lama banget saya pingin masang rice cooker itu, baru terlaksana hari minggu kemarin setelah menyempatkan diri jalan-jalan ke Jogja. Itu pun baru satu box, dua bagasi samping belum terpasang, belum kuat beli 😀

Rencananya itu… gimana praktek trayek angkutan Simpus nya ??? … pasti ada yang berubah… segera.. tarik gas nya yukkkkkkkkkk…

Baca lebih lanjut

Puskesmas Kota Mungkid, nyelempit…

Sabtu minggu kemarin, 24 Januari 2009, salah satu kegiatan selain pengenalan Simpus Online di Kota Magelang, adalah mengunjungi Puskesmas Kota Mungkid, Kabupaten Magelang. Acaranya seperti biasa adalah pelatihan untuk bu bidan di puskesmas, untuk mulai mengenal dan menggunakan Simpus KIA dalam pengelolaan data KIA.

Puskesmas Mungkid, terletak di dekat Candi Borobudur dan Candi Mendut, dengan wilayah kerja yang cukup unik. Mungkin inilah satu-satunya puskesmas yang mempunyai wilayah kerja di dua kecamatan yang berbeda. Puskesmas sendiri berlokasi di wilayah kecamatan Mertoyudan, sementara wilayah kerjanya adalah 2 desa dari Kecamatan Mungkid, yaitu desa Mendut dan Sawitan, serta dua desa dari Kecamatan Mertoyudan sendiri yaitu Deyangan dan Pasuruhan. Entah apa dulu pertimbangan dari yang berwenang menentukan wilayah kerja puskesmas ini, sehingga Puskesmas bisa menginvasi Kecamatan Mungkid. Paling tidak Puskesmas Kota Mungkid mungkin satu-satunya puskesmas yang bisa ikut rapat dengan dua pak camat sekaligus 🙂

Untuk mencari puskesmas ini, mungkin dulu agak sedikit sulit karena letaknya yang nyelempit (maaf tidak tahu bahasa Indonesia yang baik dan benar dari kata nyelempit… mohon bantuannya). Saya pernah bolak-balik di jalan besar depan gang masuk ke puskesmas ketika pertama kali mulai menjalankan Simpus di Kabupaten Magelang. Yang jelas bapak atau ibu atau saudara yang baru pertama kali kesana harus rajin-rajin bertanya.

Sebagai salah satu puskesmas di Kabupaten Magelang, Simpus sudah lama berjalan di puskesmas ini, dengan hanya menggunakan format satu komputer di loket untuk Simpustu, serta satu komputer utama untuk Simpus. Rencana untuk membangun jaringan belum berjalan, meskipun tahun ini puskesmas Kota Mungkid termasuk puskesmas yang mendapat menara untuk jaringan wifi antar puskesmas-dinas.

Beberapa foto dari Puskesmas Mungkid.

Puskesmas Kota Mungkid tampak depan.

Puskesmas Kota Mungkid tampak depan.

Suasana puskesmas ketika siang hari. Sehari-hari sebenarnya puskesmas ini cukup ramai.

Menunggu...mbok ya sambil mbaca-mbaca mBah ...

Menunggu...mbok ya sambil mbaca-mbaca mBah ... menambah informasi

Di ruang tunggu, disediakan bacaan untuk mengisi waktu. Beberapa majalah dan surat kabar sudah tersedia, meskipun jangan kaget kalau beritanya sudah beberapa minggu yang lalu… 🙂

Loket pendaftaran, biar sempit tapi sudah ada komputernya.

Loket pendaftaran, biar sempit tapi sudah ada komputernya.

Loket Pendaftaran memang lumayan sempit. Meskipun demikian pelayanan sudah menggunakan komputer. Untuk mengupload data, digunakan kabel LAN. Komputer utama terletak di lantai 2 gedung puskesmas.

Genset...sudah tersedia.

Genset...sudah tersedia.

Listrik mati bukan halangan. Genset sudah tersedia. Siap untuk Simpus Online yang mengharuskan listrik terus menerus selama pelayanan ke pasien. Kalau tidak salah, hampir semua puskesmas di Kabupaten memiliki genset.

Mbak Retno, pengelola Simpus

Mbak Retno, pengelola Simpus

Mbak Retno, beliau adalah pengelola Simpus di Puskesmas Kota Mungkid. Tugas beliau terbaru adalah mendampingi bu Bidan untuk mulai menjalankan Simpus KIA tahap pertama.

Melatih bu bidan Salaman II

Jumat, 26 Desember 2008, dari jam 8.30 saya sudah harus menghadapi dua bidan dari puskesmas Salaman II, Kabupaten Magelang.

Puskesmas Salaman II, ternyata ikut memberikan andil dalam ekonomi rakyat..

Puskesmas Salaman II, ternyata ikut memberikan andil dalam ekonomi rakyat..

Peserta kali ini berbeda dengan pertemuan pertama bulan puasa yang lalu, dimana semua bidan hadir untuk pengenalan. Sekarang hanya Bu Nur dan Bu Wiwik, sambil sesekali Bu Nyoman sebagai bidan koordinator ikut melihat proses belajar.

Bu Wiwik dan Bu Nur

Bu Wiwik dan Bu Nur

Bu Nur dan Bu Wiwik, memang yang ditunjuk untuk tahap awal ini menguasai entry data ibu hamil, dan beliau berdua sudah siap untuk segera mulai melakukan entry data ibu hamil yang sudah dicatat sebelumnya di lembar register yang baru. Modal nya cukup mendukung, sudah ada Laptop untuk program KIA di puskesmas ini. Sangat membantu daripada rebutan komputer lain yang ada di puskesmas. Dan seperti biasa, benar-benar harus ekstra sabar melatih bu bidan..untung beliau berdua sudah agak familiar dengan laptop, meskipun ngetiknya masih jurus dua jari..

Pur ikut mendampingi pelatihan

Pur ikut mendampingi pelatihan

Simpus KIA pun diinstall, dilengkapi data, dan mulailah beliau berdua belajar memasukkan data, tentunya tidak lupa bertanya setiap ganti kotak masukkan 🙂 . Awal belajar, bisa dimaklumi, 2 jam belajar mendapat 3 data hehe.. begitupun, beliau berdua sudah sangat senang melihat pemetaan kehamilan dan beberapa output awal dari Simpus KIA. Sepertinya saya optimis implementasi di Salaman II bisa lancar kalau melihat semangat bu bidan berdua.. tinggal menunggu bidan lain menimba ilmu baru ini. Setelah pelatihan selesai, bersama Bu Nyoman beliau berdua telah merencanakan langkah pembenahan dan pelatihan untuk bidan yang lain.

Catatan pendek dari perjalanan panjang Grobogan-Blora-Boyolali

Istirahat dua hari setelah ke Kaliangkrik, Kamis pagi saya berangkat menuju Blora. Tujuan utama adalah ke Puskesmas Tunjungan, Jiken, dan Sambong di Blora, untuk membenahi Simpus dan mulai mengenalkan Simpus KIA kepada bidan-bidan desa. Seperti biasa kalau dalam perjalanan melewati daerah lain pengguna Simpus, saya mampir ke puskesmas di wilayah Kota Grobogan, Puskesmas Purwodadi I.

Seragam wajib perjalanan

Nampang sebentar di perjalanan.

Berangkat jam 5.00 ba’da Subuh, jam 8.15, saya sudah sampai di PKM Purwodadi I, dan sungguh sangat beruntung ternyata saya bisa langsung ketemu dengan kepala Puskesmas, dr. Bambang, untuk ngobrol masalah Simpus. Ternyata Kamis kemarin puskesmas sudah ada rencana pertemuan semua staf puskesmas untuk mulai sosialisasi sistem jaringan komputer yang akan dibangun. Tanpa saya tahu, dr. Bambang sudah mempersiapkan Simpus Online (Simpus single user sebetulnya belum mulai di aplikasikan). Itulah kenapa merasa saya sangat beruntung, bisa ketemu pada hari yang tepat, sayang rencana pertemuan jam 11, padahal jam 10 sudah ada janji di Tunjungan. Rencana mampir yang hanya beberapa menit akhirnya molor hampir satu jam lebih, karena diskusi panjang lebar dengan dr. Bambang yang ditemani Mas Pur, penanggung jawab pengembangan Simpus. Yang jelas, sangat senang melihat semangat dari puskesmas untuk membenahi Simpus nya. Bahkan saat ini saja sudah diadakan 6 komputer baru untuk mendukung Simpus nanti. Diskusi berakhir dengan janji pelatihan Simpus KIA dan pengenalan Simpus Web Based minggu depan. Beberapa rencana disiapkan, termasuk untuk melibatkan dinas kesehatan dan pemda supaya lebih memperhatikan pengembangan Simpus. Selain itu, dr. Bambang juga setuju untuk pengembangan Simpus yang bertahap, tidak langsung ke web based, maklum banyak langkah awal dan budaya baru yang harus dikenalkan lebih dulu ke semua staf, budaya Simpus (ada istilah baru nih, besok mudah2an bisa saya uraikan pemahaman budaya baru ini, sapa tau bisa dapat jadi bahan diskusi).

Mengejar waktu, saya segera bergegas ke Tunjungan, dan beruntunglah sebagian besar jalan Purwodadi-Blora sudah lumayan mulus, sehingga motor bisa dipacu (seperti biasa hehe…jangan lakukan ini di rumah Anda) hingga 90-100 km/jam. Letak PKM Tunjungan ini pinggiran kota Blora ke arah kiri kurang lebih 5 km. Sampai Tunjungan, molor 15 menit dari waktu yang dijanjikan. Segera saja setelah ngobrol dan istirahat sebentar, beberapa bu bidan dikumpulkan untuk mulai mengenal dan menjalankan Simpus KIA. dr. Mardiah, Kapus PKM Tunjungan menemani dan ikut berdiskusi beberapa saat. Untung sudah ada bu bidan yang cukup lancar mengoperasikan komputer sehingga pelatihan berlangsung dengan cepat, 2 jam an..

Malam itu saya menginap di Blora, mengisi waktu dengan ketemu teman SMA, serta mampir ke kediaman salah satu kepala puskesmas yang sedang bekerja keras dalam implementasi awal Simpusnya. Ngobrol ngalor ngidul soal kendala dari soal SDM, kendala perangkat komputer yang sering rewel, sampai kendala di tingkat dinas yang belum sepakat mengenai Simpus yang akan dipakai di Blora. Banyak hal dan informasi baru yang membuat saya makin sadar, betapa panjang dan berat perjalanan Simpus nanti di wilayah ini..

Pagi hari berhubung hari Jumat, saya pun langsung menuju ke Puskesmas Sambong. Jalan Blora-Sambong yang melewati hutan jati, sangat sayang untuk dilewatkan sambil ngebut. Lokasi PKM berada 7 km menjelang kota Cepu. Puskesmas Sambong baru beberapa bulan ini mulai mengimplementasikan Simpus. Implementasi lumayan lancar, bahkan langsung mengaplikasikan Simpustu di loket untuk pendaftaran. Beberapa minggu yang lalu memang dr. Yani, Kapus Sambong telpon kalau Simpus bermasalah. Sampai PKM Sambong, belum ada staf yang datang, maklum masih jam 7.30 an. Untung tidak lama dr. Yani sudah datang sehingga bisa langsung membenahi Simpus. Kerusakan yang terjadi ternyata di monitor loket yang rusak dan kabel LAN yang tidak terhubung. Untuk sementara saya berikan cara-cara upload data menggunakan flash disk sambil menunggu perbaikan kabel.

Selesai Sambong, tujuan berikutnya adalah PKM Jiken. Kali ini saya kembali ke arah Blora, karena letaknya memang 10 km dari arah Blora. Agenda yang direncanakan adalah mengenalkan Simpus KIA dan mencoba untuk memulai proses implementasi nya di puskesmas. Sengaja beberapa bidan dipanggil bu Pinti, Kapus Jiken untuk melihat dan berdiskusi. Simpus sudah mulai berjalan di Puskesmas Jiken, meskipun kendala yang ditemui juga sering muncul, terutama dari perangkat yang sangat sering rusak. Belum lagi komputer yang juga dipakai untuk keperluan lain sehingga kadang file ada yg tidak sengaja hilang atau kemasukkan virus. PKM Jiken hampir berbarengan dengan Sambong ketika memulai Simpus.

Selepas Sholat Jumat, saya langsung pulang sekaligus mampir menuju Puskesmas Karangrayung di Kabupaten Grobogan. Jaraknya lumayan dari Blora, hampir 80 km. Butuh waktu hampir 2 jam sebelum sampai di Karangrayung sekitar 14.30. PKM ini juga bersiap-siap mengimplementasikan Simpus. Yang saya kerjakan hanya mengupgrade Simpus dengan program terbaru, serta memberikan beberapa masukkan untuk Mas Zainuri, pengelola Simpus. Cukup lama juga mengobrol sambil cerita ngalor-ngidul tentang Simpus dan kendala-kendala yang akan dihadapi, termasuk beberapa cara praktis dalam implementasi Simpus. Untunglah Mas Zain sudah sangat mahir menggunakan komputer, sehingga dengan sedikit penjelasan beliau sudah bisa mengerti.

Setelah sholat Ashar dan menyelesaikan semua pekerjaan, pukul 16.00 akhirnya saya segera pamit untuk langsung pulang. Maklum agak takut juga kalau kemalaman di jalan. Perjalanan pulang kali ini langsung melewati jalur Juwangi-Karanggede-Boyolali. Dan untung perhitungan saya tepat. Sekitar jam 5, ketika mulai melintasi wilayah hutan di Juwangi-Kemusu, hujan mulai turun dan jalan yang rusak berat itu mulai sepi dari pengendara kendaraan bermotor. Meskipun hujan tidak deras, cukup membuat pontang panting juga sepanjang puluhan kilometer menghindari kubangan air di sepanjang jalan. Saya membayangkan kalau saja kemalaman di daerah ini mungkin mending balik kanan kemudian nginep di Grobogan. Jalan mulai kembali mulus setelah sampai Desa Guwo, wilayah Kecamatan Kemusu, Boyolali. Dan kecepatan pun mulai bisa dinaikkan sampai di PKM Wonosegoro.

Di puskesmas ini, karena saya inget pengelola Simpus lama tinggal di dekat puskesmas, saya pun mampir untuk silaturahmi dan menanyakan perkembangan Simpus. Pak Giatmo, staf sepuh yang dulu sangat rajin entry itu, kaget melihat kehadiran saya yang tak diundang. Dengan kondisi penuh dengan lumpur di sekujur motor, rambut acak2an, tampang dekil dan kucel karena seharian naik motor ratusan kilo.. saya maklum kekagetan beliau karena memang saya singgah tanpa memberitahu terlebih dahulu. Dan kami pun segera ngobrol banyak di warung sebelah puskesmas untuk membahas Simpus yang (sayangnya… 😦 ) macet. Pak Giatmo kemudian bercerita banyak betapa susahnya petugas entry yang baru untuk menjalankan Simpus. Belum lagi pergantian kapus yang baru yang belum sempat untuk mengadakan pembenahan dan koordinasi internal puskesmas.

Segar juga istirahat sambil minum teh panas plus tahu goreng (saya lupakan dulu tenggorokkan yang masih sakit…). Saya pun memberikan beberapa masukkan supaya Simpus bisa di jalankan lagi. Terus terang untuk mengharapkan Pak Giatmo entry juga berat, karena sudah sepuh dan pekerjaan beliau memang sudah rangkap. Mudah2an saja kendala yang ada (non teknis sekali…) bisa di atasi, sempat ditawari menginap di PKM Perawatan ini, serta mandi, tapi berhubung sekalian badan kotor dan berharap mandi air panas di rumah, saya terpaksa menolak tawaran Pak Giatmo.

Maghrib, saya pun segera pamit dan menuju rumah. Sampai di rumah sekitar jam 8 malam, niat langsung mandi air panas terpaksa di tunda gara-gara harus air panas sudah dipakai untuk mandi terlebih dahulu oleh adik..pingin segera istirahat karena hari Sabtu sudah ditunggu di Dinkes Sukoharjo untuk ngobrol pengembangan Simpus dengan Pak Agus, Pak Didik dan kawan-kawan team Simpus Sukoharjo.

Yang jelas ada beberapa catatan penting dari 2 hari perjalanan ini :

  1. Komitmen dan semangat Simpus memang berbeda beda di antara puskesmas, baik dari kepala puskesmas, staf puskesmas, dan juga dari dinas kesehatan. Kondisi SDM yang kurang ideal memang kurang mendukung. Saya maklum karena memang itulah kondisi yang sering saya temui di sebagian besar puskesmas yang saya datangi, apalagi di awal-awal implementasi Simpus.
  2. Peran dan semangat kepala puskesmas, benar-benar sangat dibutuhkan untuk menjalankan Simpus. Sangat jarang saya temukan puskesmas bisa menjalankan Simpus dengan baik ketika kepala puskesmas nya kurang peduli untuk mengembangkan Simpus. Terus terang saya sangat senang kalau Simpus itu sudah merupakan satu kebutuhan yang harus ada di puskesmas. Rasa butuh akan membuat Simpus berjalan dengan sendirinya. Hanya saja saya harus menunggu agak lama untuk mewujudkan itu. Saya bisa maklum, pekerjaan kepala puskesmas memang berat.
  3. Keterlibatan dinas kesehatan, juga ditunggu oleh puskesmas, paling tidak supaya ada rasa kewajiban untuk menjalankan Simpus. Saya juga maklum, karena pekerjaan dinas kesehatan juga banyak.
  4. 2 hari ini saya menempuh 461 km…, cukuplah untuk latihan tour, sapa tahu besok suatu saat bisa muter dengan Harley besok.. hehe.