dan hari ini …

Jum’at 21 November 2008

acara yang sudah terencana sebenarnya gak ada beda seperti hari-hari sebelumnya.. ada puskesmas yang telpon printer di loket ngaco, ngeprint mau nya ke tengah melulu.. setelah itu melanjutkan janji ketemu pengelola simpus dan bu bidan di pelosok lereng gunung sana untuk membenahi data simpus dan mencoba memulai memasukkan data-data ke Simpus KIA.

acara pertama lancar, bahkan sangat lancar.. printer yg kemarin trobel, eh didatangi mbah dukun tersayang langsung sembuh sendiri tanpa disentuh.. berharap acara kedua lancar, segera saja menuju puskesmas berikutnya..

sampai puskesmas, jam 9 kurang 15 menit (8.45 WIB), berharap segera ketemu bu bidan, pelatihan, pulang, biar gak nabrak jumat an..eh ternyata yang dicari belum nongol semua. ditunggu bentar, ditelpon, pengelola simpus bahkan bilang gak datang ke puskesmas, titip data thok sama bu bidan.. ya udah akhirnya menanti bu bidan. jam 9.30 an, baru bu bidan manis datang dengan senyumnya (maaf kebalik, maksud saya bu bidan datang dengan senyum manisnya)…
setelah ber say hello (kalau ini tidak terbalik…) kami lantas segera ke ruang komputer untuk mulai ngadepin data. nah disitu bu bidan mulai cerita kenapa agak telat. ceritanya kurang lebih gini :
pagi-pagi dia dah dibangunin untuk menolong persalinan, yang menyedihkan, bayi nya lahir sungsang, dan sudah lahir selama 1,5 jam tanpa kehadiran bidan desa. waktu datang, kepala sang bayi masih berada di dalam sehingga sudah dalam keadaan meninggal. belum selesai menangani dan men-support si ibu, sudah ada lagi panggilan dari desa yang sama, ada kelahiran lagi yang harus di tolong, kali ini bayi bisa lahir selamat.

yang membuat saya merenung, adalah kenapa bu bidan desa yang bersangkutan bisa tidak di tempat. atau minimal bersiap-siap. alangkah baiknya kalau beliau tahu ada ibu hamil sungsang yang akan segera melahirkan (bu bidan yang menolong persalinan ini adalah bidan desa tetangga). dan siang, ketika bu bidan lapor ke kepala puskesmas, ada lagi info yang disampaikan…bumil tidak ketahuan riwayat pemeriksaan K4 nya, serta tidak punya buku KIA😮

agak melongo serta prihatin juga mendengar bu bidan cerita. maklum biarpun anak bidan, ibu jarang bercerita kejadian seperti itu. ibu biasa cerita gimana prosedur persiapan bidan desa menghadapi bumil yang bersiap melahirkan. sering juga ibu cerita gimana ibu hapal bumil2 di seputar desa kami serta kondisi anak mereka ketika dilahirkan. ibu masih banyak ingat siapa saja anak di desa sekitar yang lahir sungsang, ibu-ibu yang hamil risti, siapa saja yang ibu kirim rujuk ke rumah sakit, dan banyak lagi. bahkan kadang2 kalau lagi jalan terus melewati satu rumah, kadang ibu beliau cerita.. “tuh dulu ibu nya melahirkan gini..anaknya gitu…” ibu kadang bercerita bagaimana terbebaninya kalau ada bumil yang belum terdata..

saya maklum, mungkin kondisi sekarang sudah banyak berbeda. tapi cerita bu bidan tadi membuat saya ikut tersentil, merenung dan melamun sesaat, apalagi ketika sesaat kemudian saya mulai mengajari beliau dan menunjukkan bagaimana satu perangkat lunak bisa membantu bidan desa dan puskesmas untuk memantau kondisi bumil di wilayah kerja. bagaimana suatu aplikasi bisa memetakan ibu hamil, menunjukkan kantong persalinan, menunjukkan kantong ibu hamil risti, bagaimana kalau konsep desa siaga dibantu dengan Simpus KIA untuk membuat persiapan dan peringatan dini bagi para bidan desa. dan lebih jauh lagi bagaimana kalau bu bidan desa bisa bekerja sama untuk saling mengingatkan dengan bu bidan lain dengan data yang ada…

senang rasanya melihat bu bidan sangat antusias melihat dan menjalankan Simpus KIA..banyak pertanyaan, banyak masukkan, dan beberapa evaluasi beliau berikan untuk Simpus KIA yang memang masih harus banyak disempurnakan. sungguh saya berharap lebih banyak lagi bidan seperti beliau, mau dan mampu mengenal Simpus KIA.

yang jelas, cerita langsung dari peristiwa pagi tadi membuat saya sadar …
bahwa saya bisa membantu bu bidan dan puskesmas melayani masyarakat dengan ilmu dan aplikasi yang saya buat, bahwa saya belum berbuat banyak dengan ilmu saya punya, bahwa masih panjang jalan yang harus saya jalani untuk itu, dan yang jelas masih banyak bu bidan yang harus saya temui..

dan hari ini saya sadar, saya belum apa-apa …

15 Tanggapan

  1. Bak sumur, makin digali makin banyak air…

  2. iyo, makin turun ke bawah, makin tau masih banyak masalah..

  3. Masalahnya di Indonesia: ibu hamil belum merasa wajib memeriksakan dirinya ke pengurus kesehatan.

    Lagi pula dalam kehidupan keluarga di Indonesia mereka masih berpedoman “Semua ini Kehendak Allah” alias gampang saja pasrah. Mereka belum merasa perlunya “memprogram hudup” mereka, sehingga memaksimalkan kualitas kehidupan mereka. Bukankah “Kehendak Allah” itu harus membuat hidup lebih baik?

    ya.. betul sekali bu jul.. masih banyak yang merasa gak perlu periksa, toh anak saya sudah 5 semua lancar saja misalnya gitu.. nah disitulah peranan posyandu dan bidan desa untuk lebih menggiatkan jejaring kegiatan KIA di antara semua aparat, baik di desa, ataupun kecamatan. Masalah “Kehendak Allah” misalnya bisa diatasi dengan mengajak kegiatan dengan para ulama, diskusi, penyuluhan.. pendekatan-pendekatan seperti itu masih banyak dibutuhkan. Makanya setuju sekali program revitalisasi posyandu..

    contoh bagus (atau bagus banget ??) di satu kabupaten di DIY, semua camat wajib tahu siapa ibu hamil resti di wilayah kerja nya setiap bulan, kapan HPL, apa ristinya.. camat dan jajaran dibawahnya mau gak mau harus tahu kondisi dan selalu koordinasi dengan bidan desa. kalau camat teledor hehe… ada sanksi🙂

    thx dah mampir nggih..

  4. , dan yang jelas masih banyak bu bidan yang harus saya temui..

    hmmm.. saya tertarik dengan statemen itu ^_^

    syukurlah ada yang tertarik, syukur2 bantu menemui bu bidan lebih banyak lagi untuk dilatih Simpus KIA hehe..hari ini saja ketemu lagi 11 ibu bidan di Muntilan. kalau pelatihan gitu lebih banyak rame nya daripada nyoba ngetik di komputer hehe.. Duh Gusti mohon kesabaran …

    eh maksudnya itu toh ??😉

  5. enakkan mbales disini ya ?/ kayak chating hehe..
    omm Dedi silahkan tunggu statemen berikut nya omm … :p

  6. sudah lahir selama 1,5 jam tanpa kelahiran bidan desa.

    .. saya tahu maksudnya kehadiran .. tapi mending diedit aja deh daripada nanti yang datang redaksi-redaksi KOMPAS, TEMPO yang lagi cari bahan ttg simpus.. hihihi

  7. *nasinya pulen, lauknya enak* .. tambah ah

    masalah kayak gini emang ngga bisa dibereskan dengan hanya menyentuh satu komponen sistem saja. Contoh diatas itu sangat banyak unsur terkait yang mesti ikut serta diperhatikan. Dalam keterbatasan cerita itu misalnya : seharusnya bu bidan sudah bisa nebak akan ada 2 persalinan dalam waktu yang bersamaan bila sedikitnya masih mengerjakan kohort atau kartu persalinan; seharusnya bu bidan juga mengenali mana ibu yang hamil dengan letak sungsang pada trimester akhir; bu bidan juga seharusnya memanfaatkan polindes/poskesdes untuk sarana bersalin daripada kemana-mana.
    Memang nanti akhir-akhirnya ada tumbal “masyarakatnya ngga mau ini ngga bisa itu”.
    Bisa saja kita juga mempertanyakan apakah sudah ada kemitraan bidan dan dukun, karena lihat-lihat gaya lelet dipanggilnya bu bidan mestinya masih ada dukun beranak di desa itu.
    Atau sejauh mana ANGSI (angkutan sayang ibu) diberdayakan.
    Meskipun saya juga ada di kubu pelayanan, tapi mungkin introspeksi terhdp bagaimana kita mengembangkan sistem yang terkait dengan masyarakat jauh lebih penting dalam menurunkan AKI AKB. Bukan berarti sistem pencatatan tidak perlu lho. Itu dasar. Dan juga penting. Saya takutnya mengembangkannya hanya berdasarkan kebutuhan sesaat.
    terus terang kalo disuruh milih saya akan milih pelayanan bagus catatan kacau daripada kebalikannya. Tapi sebagai oknum pejabat pemerintah *taela* kita kan memang harus mengembangkan semuanya secara komprehensif.
    haalaaah tau lah mas jojok, waktunya tinggal setahun, bisa apa ngga nanti kita jadi punya AKI = 226 dan AKB = 26. semoga aja.

    salam *udah kenyang, makasih ya*

  8. hehe…makasih editorialnya pak.. maklum suasana lagi mikirin kelahiran jadi kehadiran yg di maksud, kelahiran yang ditulis.. segera menuju TKP untuk di betulkan…
    masalah waktu kurang setahun ? dari dulu saya jg gak percaya itu bakal kena..tapi kan kita gak boleh pesimis pak, apalagi saya yang terbiasa serba terpepet waktu, biasanya kalau dah mepet gini adrenalin akan terpompa, kerjaan jadi cepat rampung…🙂
    ANGSI ?? sayang ANGSI saya masih ndongkrok (terjemahanya indonesia : mangkrak), dulu biasa dipake ibu sama bapak buat nganter bumil ke rumah sakit. bsk saya uploadkan deh fotonya biar jadi pemicu desa lain supaya punya ANGSI..

  9. Wah, gak sia-sia Mas Jojok dulu mengunjungi Moyakem alias Monjali buat bikin karya tulis…..Sekarang udah pinter bikin tulisan bagus…

    Jok, kayaknya kalimatnya tentang Bu Bidan diatas perlu disempurnakan menjadi seperti ini :
    Bu bidan manis datang dengan senyumnya yang manis sehingga makin terpancar pesona manisnya ….Hal ini membuat diriku yang sedang menikmati teh tak manis bagaikan minum teh manis nan rasanya manis…..semanis senyumku pada Bu Bidan yang manis…….(iki opo sih….)

  10. hahaha… ngarang :p
    tidakkah dirimu gak ingat kalau dulu kita tidak menulis laporan itu ? betapa kita membeli buku terus memasukkan ke tukang ketik ?? :p

  11. He he inget aja….gara-gara dirimu pula (atau konco kita ya?) aku harus balik lagi ke tukang ketik untuk mastiin apakah ngetiknya 1 halaman bolak-balik?Ternyata gak…malu-maluin aja pertanyaannya…jadi diketawain sama tukang ketik…he he…

    1 lagi…aku restui, Jok…

  12. hahaha.. lugu tenan :ptp bs jadi besok ketik bolak balik jadi tren kalau jaman susah kertas..

  13. He he…..mungkin akibat krisis global ini akan ngetrend….

    Koment Bu Bidan lagi ah….

    ……..dan hari ini saya sadar, saya belum apa-apa …(tanpa Bu Bidan disamping….) He he

    Yang jelas ceritamu mengharukan….(yang ini serius…)

  14. Speechless….
    you are totally become different person i had known at junior high scholl…

    pf : mudah2an someday ketemu mbak bidan juga deh… jangan yg udah ibu2 mulu….. xixixixi !!!

  15. ah aku masih seperti yang dulu kok fi..
    masih anak manis..
    masih lugu..
    masih pendiam..
    masih kalem..
    masih suka menabung..
    masih cinta lingkungan..
    masih hemat cermat dan bersahaja ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: